AS-ISRAEL: TERORIS SEJATI!
Buletin al-Islam Edisi 313
Dua pekan lebih Israel telah meratakan dengan tanah bangunan-bangunan
di Gaza City, Palestina; bukan hanya dengan alat berat namun juga
dengan 'hujan' bom. Akibatnya, bukan hanya luluh-lantaknya bangunan
yang ada, tetapi juga terbunuhnya ratusan orang dan terlukanya ratusan
yang lain; tak peduli tua atau muda, laki-laki atau perempuan,
anak-anak atau dewasa. Belum lagi ratusan yang lainnya yang menderita
karena kelaparan serta terserang penyakit akibat sanitasi yang buruk
dan kehidupan yang tidak layak karena ketidakketersediaan bahan
makanan, minuman dan obat-obatan. Penderitaan semakin 'menyeruak'
tatkala fasilitas umum di kamp-kamp pengungsian, seperti pembangkit
tenaga listrik dan pengolahan air bersih, juga dihancurkan oleh pasukan
Israel. Kondisi ini menyebabkan kamp pengungsian berubah menjadi
kawasan 'penjagalan' secara sistematis. Secara perlahan-lahan warga
Palestina dipaksa tinggal di daerah terisolasi; di kamp tersebut tidak
tersedia bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya. Jelas
ini adalah upaya 'pembunuhan' terorganisasi.
Walau beban penderitaan rakyat Palestina sudah dilihat dengan jelas,
hal itu seolah belum memuaskan Israel. Israel tidak mengurangi atau
apalagi menghentikan serangannya yang membabi-buta. Israel justru
semakin meningkatkan serangannnya. Dengan 'pongah' pemerintah Israel
melanjutkan dan meningkatkan serangannya dari serangan darat ke
serangan udara dan artileri terhadap Palestina.
Serangan-serangan yang ada 'kelihatannya' bukan ditujukan kepada para
mujahidin, namun lebih ditujukan kepada penduduk sipil. Sebagai misal,
sebuah rudal ditembakkan militer Israel ke sebuah kendaraan yang
mengangkut anggota kelompok Hamas di Rafah, Gaza Selatan. Namun,
tembakan rudal itu meleset dan malah menewaskan seorang pejalan kaki.
Tiga warga sipil juga cedera akibat serangan ini. Demikian juga di
pemukiman Haijaiyah. Suasana duka mewarnai keluarga Amna Hajaj setelah
rudal Israel menghantam rumah mereka. Amna bersama dua anaknya tewas
akibat insiden tragis ini. Menurut keluarga korban yang selamat, saat
kejadian mereka tengah berkumpul bersama di halaman belakang rumah
sambil minum teh dan menyantap jagung. Namun, tiba-tiba rudal Israel
menghantam dinding rumah mereka. Sang ibu langsung bertindak sebagai
tameng untuk melindungi anak-anaknya sehingga tewas di tempat kejadian.
Dalam 12 hari terakhir ini, yang tercatat sedikitnya 51 warga Palestina
tewas dan 180 warga lainnya cedera. (Liputan6.com, 07/07/2006).
Selain itu, pasukan Israel menyatakan telah menewaskan hampir 40
pejuang Palestina sejak dilancarkan operasi militer besar-besaran di
Jalur Gaza pekan lalu. Selain menghancurkan insfrastruktur yang ada,
serdadu Israel juga menangkap dan memenjarakan pejabat-pejabat
Palestina. Hampir setengah personil pejabat Palestina ditangkap. Ini
jelas membawa konsekuensi tersendiri. Selain mengakibatkan kekosongan
kekuasaan di Palestina yang menyebabkan tidak berjalannya roda
pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, juga lumpuhnya struktur
pemerintahan sebagai tanda akan eksistensi sebuah negara. Jelas ini
adalah hal yang sangat membahayakan Palestina.
Alasan yang Mengada-ada
Hal yang cukup membingungkan adalah 'alasan' penyerangan Israel atas
Palestina. Para pejabat Israel menyatakan bahwa mereka melakukan semua
ini sebagai bentuk pembelaan diri dan perlindungan atas serdadunya
(Kopral Gilad Shalid) yang ditangkap oleh pejuang Palestina. Mereka
juga 'mencap' bahwa pejuang Palestina adalah teroris yang layak untuk
disirnakan. "Kami tidak akan melakukan negosiasi dengan teroris. Mereka
harus lebih dulu mengembalikan tentara Israel yang diculik dan
menghentikan serangan mereka," tegas pejabat di kantor Perdana Menteri
Ehud Olmert. Padahal jelas bahwa pejuang Palestina melakukan semua itu
karena tindak kesewenang-wenangan yang terlebih dulu dilakukan oleh
Israel. Sudah sejak lama rakyat Palestina ditekan dan dibantai di tanah
mereka sendiri. Aksi mereka adalah reaksi atas kezaliman yang mereka
terima dari Israel. Jelas bahwa ini adalah alasan yang mengada-ada.
Selain itu, Israel juga menyatakan bahwa mereka melakukan penyerangan
guna mencari bahan peledak yang dipakai oleh para mujahidin. "Pasukan
dalam jumlah terbatas telah memasuki wilayah utara Jalur Gaza untuk
melakukan pencarian bahan peledak dan terowongan yang digunakan militan
untuk memasuki Israel," kata seorang sumber militer Israel kepada AFP,
Senin (10/7). Alasan mencari peledak jelas juga alasan mengada-ada.
Sebab, sejatinya Israellah yang justru mempunyai bahan peledak yang
jauh lebih canggih dan mematikan. Adapun pejuang Palestina membuat
peledak sebagai bentuk pertahanan diri, bukan ekspansi, menyerang tanah
atau negeri orang lain. Walhasil, alasan-alasan di atas hanyalah untuk
melegalkan tindakan yang dilakukan. Tidak lebih dari itu. Sebab, pada
kenyataannya alasan-alasan yang digunakan jauh dari kebenaran dan
realitas.
Campur Tangan AS
Jelas, tatkala mengamati persoalan Palestina dan Israel, kita tidak
bisa menutup diri dengan adanya campur tangan asing (baca: AS) dalam
konflik tersebut. Sejak dulu AS senantiasa menveto setiap resolusi DK
PBB yang akan memaksa Israel keluar dari Palestina. Selain itu,
lembaga-lemabag internasional di bawah PBB juga tidak pernah memberikan
reaksi signifikan jika ada permasalahan terkait dengan Israel. Sekarang
pun Gedung Putih dan Uni Eropa kembali bungkam atas agresi Israel itu.
Mereka tetap menuntut agar Shalit dibebaskan sembari memohon Israel
menghentikan aksinya. ''Menjadi tanggung jawab Hamas untuk
mengembalikan serdadu Israel. Kita juga telah menganjurkan Israel
mengendalikan diri,'' kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Tony Snow.
(Republika, 10/07/2006).
Amerika Serikat (AS) dan Prancis, dua negara pemegang hak veto di Dewan
Keamanan (DK) PBB, tanpa ampun mengandaskan draf resolusi yang diajukan
ke-57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Resolusi yang
secara resmi diajukan Qatar itu memang mengecam serangan brutal Israel,
sekutu dekat kedua negara itu atas Palestina.
Terhadap sikap kedua tersebut, Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid
Albar, menyatakan penyesalan dan rasa kecewanya. Menurut Hamid Albar,
sikap kedua negara pemegang veto itu dengan jelas menunjukkan adanya
perlakuan khusus negara-negara Barat terhadap Israel. "Israel adalah
anak emas komunitas internasional. Israel tak dapat disentuh, meski
melanggar hukum internasional dengan menyerang wilayah dan mengancam
keamanan warga sipil Palestina," kata Hamid Albar.
Pekan lalu, Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Desra Percaya,
mengatakan, sukar untuk menutupi bahwa selama ini DK PBB selalu
bersikap diskriminatif jika terkait dengan masalah Israel, tidak
kecuali sikap lembaga itu terhadap serangan Israel baru-baru ini. "Kita
tahu siapa yang duduk sebagai anggota tetap DK PBB yang memiliki hak
veto. Kita semua tahu, siapa yang berkuasa di lembaga itu," kata Desra.
Secara spesifik, Presiden Bush mengatakan, Israel memiliki hak untuk
membela diri-setelah pasukan Israel melancarkan serbuan ke Gaza.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan juga mengatakan dapat mengerti jika
Israel ingin mengejar mereka yang menculik salah seorang prajuritnya,
tetapi itu haruslah dilakukan tanpa membuat penduduk sipil menderita.
(Voanews, 29/06/2006).
Untuk Membidik Islam
Dari paparan di atas jelas bahwa apa yang dilakukan oleh Israel atas
'dukungan' negara-negara Barat dan AS sejatinya adalah untuk membidik
Islam semata. Barat dan AS hanya bereaksi 'lemah' terhadap pembantaian
yang dilakukan oleh Israel terhadap kaum Muslim Palestina, tetapi
mereka bereaksi sangat keras terhadap Irak ketika dulu mencoba
menginvasi Kuwait. Barat dan AS seperti 'tidak berdaya' untuk mengekang
Israel jika dibandingkan dengan sikapnya yang tegas dan keras terhadap
aktivis yang hanya diduga terlibat terorisme. Semua ini menunjukkan
Barat dan AS sedang membidik Islam dan kaum Muslim.
Hamas, Fatah dan faksi-faksi Islam yang ada di Palestina adalah hanya
'simbol' bidikan saja. AS dan Barat sejatinya tidak ingin jika Islam
berkuasa dan menjelma menjadi sebuah kekuatan yang eksis berupa sebuah
institusi negara-betapapun dengan segala keterbatasan yang ada-walaupun
untuk mewujudkannya ditempuh cara-cara demokratis. Ini juga menunjukkan
bahwa HAM hanyalah untuk kepentingan Barat saja. Jika Islam
'diuntungkan' oleh sistem demokrasi maka tidak ada toleransi; harus
diberangus. Tengok juga apa yang terjadi di Aljazair dan Mesir. Semua
itu menunjukkan bahwa HAM hanyalah sebuah slogan untuk kepentingan
Barat saja, bukan untuk kemajuan Islam. Telah jelas firman Allah SWT:
Mereka (musuh-musuh Islam, yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani) tidak
akan pernah sekali-kali rela kepadamu sampai kamu mengikuti agama
(ideologi) mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120).
Wahai Kaum Muslim:
Persoalan Palestina bukanlah semata persoalan intifadhah dan perjuangan
membela tanah air semata. Namun, lebih dari itu, ia merupakan
pertarungan menyangkut al-qadhiyah al-masîriyah (persoalan yang sangat
peting). Di sanalah sejatinya terjadi pertarungan antara kaum kafir dan
Islam yang tidak berimbang. Darah kaum Muslim ditumpahkan. Kemuliaan
Islam dan kehormatan dipertaruhkan. Musuh-musuh Islam bersatu-padu dan
bahu-membahu mencabik-cabik kaum Muslim di Palestina.
Walhasil, persoalan Palestina adalah persoalan politik yang harus
diselesaikan secara tuntas dengan kekuatan politik, yaitu dengan
kekuatan politik yang berupa Daulah Khilafah. Khilafahlah yang akan
mampu mengakhiri penderitaan kaum Muslim di Palestina. Sebab, hanya
Khilafahlah yang akan sanggup mengkoordinasi para prajurit kaum Muslim
berangkat ke Palestina mengusir Israel dan mempecundangi Barat dan AS.
Hanya Khilafahlah yang akan melakukan tekanan politik, embargo ekonomi
dan penyerangan secara langsung terhadap pihak-pihak yang menzalimi
kaum Muslim.
Namun demikian, saat ini, ketika Khilafah belum lagi berdiri, para
penguasa di negeri-negeri Islam sudah seharusnya, bahkan wajib mengirim
pasukan-pasukannya dari kaum Muslim untuk mengusir Israel. Jangan hanya
berdiam diri dan mencukupkan diri hanya dengan mengecam. Saksikanlah
bahwa kekejaman telah terjadi.
Wahai, kaum Muslim, bantulah dengan apa saja yang Anda sanggupi, baik
dengan tenaga, pikiran hingga harta-benda. Sungguh setetes air dan
seperak uang sangatlah berguna bagi saudara kita.
Terakhir, marilah kita bersama-sama bahu-membahu dan berlomba-lomba
menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah. Sebab, hanya dengan inilah darah
dan kehormatan kaum Muslim dapat dijaga dengan sebaik-baiknya. Semoga
kita termasuk orang-orang yang menjadi pembela Islam dan umatnya. Amin.
[]
Komentar al-Islam:
Israel Abaikan Kecaman Dunia. (Republika, 11/7/2006).
Karena tak cukup hanya mengecam, kejahatan Israel harus dihentikan.
Hanya khilafahlah yang bisa!