LEBANON MEMBARA....
SEMENTARA PARA PENGUASA MEMANDANG 'BARA' LEBANON SEBAGAI PERAPIAN YANG
APINYA MEMBUAT MEREKA BERSUKA-CITA!!
Buletin al-Islam Edisi 316
Wahai kaum Muslim:
Sungguh sangat kritis. Tak ada lagi argumentasi bagi yang hendak
beragumen. Tak ada lagi alasan bagi yang berkeberatan. Siapa saja yang
menutup mata terhadap pengkhianatan para penguasa serta penghinaan
mereka terhadap Palestina dan Lebanon hakikatnya sama dengan mereka.
Siapa saja yang tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk
menggerakkan tentara agar berperang dan menghilangkan berbagai
rintangan penguasa untuk menghalangi tentara itu sebenarnya juga
mempunyai andil dalam pengkhianatan mereka.
Sungguh hina umat yang membiarkan para penguasa itu terus-menerus
membelenggu leher-leher mereka, sementara mereka justru membantu dan
bekerjasama dengan musuh-musuh umat membantai mereka pagi dan petang!
Sungguh memalukan para tentara yang membiarkan para penguasa itu duduk
di atas singgasana mereka dengan aman dan tenang, sembari mendukung
pemerintahan mereka serta menopang kezaliman mereka, sementara mereka
justru melindungi keamananan perbatasan musuh dan mengokohkan
keberadaannya!
Sesungguhnya para tentara kaum Muslim itu adalah anak-anak Anda, wahai
kaum Muslim. Anda wajib mengambil mereka dengan tegas dan
sekuat-kuatnya agar mereka bisa mengubah kemungkaran para penguasa itu,
serta berangkat menolong Palestina dan Lebanon, dan tanah-tanah Islam
lainnya, selain Palestina dan Lebanon.
Wahai kaum Muslim:
Anda sedang menyaksikan dan mendengarkan pembantaian Yahudi terhadap
para penduduk sipil, baik para orang tua, wanita, maupun anak-anak.
Anda juga melihat dan mendengar sendiri berbagai kejahatan biadab
Yahudi yang telah mengenai instansi-instansi publik, infrastruktur,
pohon dan gunung. Meskipun demikian, Anda lihat dan dengar sendiri,
bagaimana buruknya sikap para penguasa itu. Paling banter mereka
bersikap netral dan menyerukan perdamaian! Anda juga lihat dan dengar
sendiri apa yang telah dihasilkan oleh pertemuan para menteri mereka?
Anda juga bisa lihat dan dengar sendiri pernyataan-pernyataan mereka
melalui layar-layar kaca; mereka menjadikan agresi Yahudi itu sebagai
peperangan yang legal, seraya menolak agresi Yahudi itu sebagai
tindakan yang ngawur dan nekad, tanpa rasa malu sedikitpun kepada Allah
dan manusia! Tak layakkah mereka dikata-katai seperti mengata-ngatai
batu, atau bahkan mereka itu lebih hina, dan lebih hina lagi ketimbang
batu?
Wahai kaum Muslim:
Sekalipun negara Yahudi itu gudang senjatanya penuh dengan peralatan
perang dan amunisi, sebenarnya mereka itu tak ubahnya seperti tongkat
Sulaiman, yang akan mengantarkannya menuju kehancuran. Seandainya saja
bukan karena benteng pengaman yang disiapkan oleh negara-negara
sekeliling, pasti mereka akan segera hancur. Karena, kekuatan itu bukan
hanya amunisi, tetapi juga para tokoh yang mengembannya. Yahudi itu
sendiri telah ditimpa kenistaan dan kehinaan. Mereka pun menghalalkan
dirinya dimurkai Allah. Setiap kali mereka menyulut api peperangan,
Allah past akan memadamkannya. Allah SWT berfirman:
Jika mereka berperang dengan kalian, pastilah mereka berbalik melarikan
diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapatkan
pertolongan. (QS Ali Imran [3]: 111).
Bukti-bukti atas semuanya itu bisa dirasakan. Apa yang sedang terjadi
di Lebanon jelas menyatakan hal itu. Meskipun perlawanannya kecil, dari
segi jumlah personil dan logistiknya, jika dibanding dengan apa yang
dimiliki oleh Yahudi dan dukungan yang mereka dapatkan dari
negara-negara Kafir penjajah pimpinan Amerika, dan jika diukur dengan
ukuran-ukuran materi, kelihatannya memang sedikit. Meskipun demikian,
mereka mampu melakukan serangan ke jantung-jantung (wilayah) Yahudi,
akibatnya negara Yahudi itupun mengalami kebingungan yang menyebabkan
mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir. Lalu bagaimana kalau
seandainya perlawanan ini didukung oleh para tentara kaum Muslim,
anggap sajalah tentara-tentara Muslim di sekitarnya?
Wahai kaum Muslim:
Sesungguhnya peperangan yang berlangsung lama itu merupakan tanda-tanda
kemenangan, dan kemenangan itu harus disertai kesabaran. Meskipun
kejahatan Yahudi itu telah menyebabkan kehancuran, pembantaian, dan
kerusakan yang mengakibatkan penderitaan, sakit dan kesengsaraan,
tetapi peperangan itu juga sama, telah menyebabkan pihak musuh
merasakan penderitaan, sakit dan kesengsaraan. Begitulah, ketika kaum
Muslim bisa menanti salah satu di antara dua kebaikan (kemenangan atau
mati syahid), maka pihak musuh itu tak ada yang dinanti, kecuali dua
keburukan. Allah SWT berfirman:
Janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh-musuh
kalian). Jika kalian menderita kesakitan maka sesungguhnya mereka pun
menderita kesakitan, sebagaimana kalian menderitanya, sedangkan kalian
mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Mahatahui
lagi Mahabijaksana. (QS an-Nisa' [4]: 104).
Ketika peperangan yang berlangsung lama itu merupakan tanda-tanda
kemenangan, maka menghentikan peperangan dengan sejumlah persyaratan
yang ditetapkan musuh itu justru akan menghapus kemenangan. Karena bagi
darah-darah suci yang telah tumpah itu seribu kali masih lebih baik
digunakan untuk menulis lembaran-lembaran putih dengan prestasi syahid
dan keberanian. Ketimbang seribu kali keburukan, tatkala darah-darah
itu dipakai untuk menulis lembaran-lembaran hitam, seperti berbagai
perundingan dan perdamaian.
Berbagai geliat PBB, Uni Eropa, Negara-negara G-8 memang tampak ke
permukaan. Tentu, semuanya dengan terang-terangan dan terbuka
menyerukan ke arah kepentingan musuh, serta berbagai penyelesaian yang
justru akan menyebabkan darah-darah kaum Muslim melayang dengan
sia-sia. Sejumlah pembicaraan mengenai penyelesaian tersebut
benar-benar telah dikembangkan, dari sekedar kasak-kusuk dan saran tak
langsung berkembang menjadi terbuka dan sejumlah pernyataan yang
dipimpin oleh negara-negara Kafir penjajah, pimpinan Amerika, yang
didukung dan disetujui oleh para antek dan penguasa, serta pengikut dan
ujung tombak yang menjadi pengekor negara-negara Kafir itu.
Pada dasarnya, delegasi-delegasi yang menyampaikan persyaratan-
persyaratan Yahudi itu tidak boleh diterima. Mereka harus benar-benar
ditolak sekeras-kerasnya. Sebab, mereka tengah mensosialisasikan
sejumlah penyelesaian demi kepentingan Yahudi. Mereka menghendaki
darah-darah tersebut tumpah dalam konflik internasional, sejumlah
penyelesaian hina dan penuh pengkhianatan. Padahal, seorang Muslim
tidak boleh menerima penghinaan. Sebaliknya, dia tetap mulia karena
membela dan berpegang teguh pada agamanya, serta sangat kuat karena
izin dan pertolongan Tuhannya. Allah SWT berfirman:
Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang
Mukmin; tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya. (QS
al-Munafiqun [63]: 8).
Wahai kaum Muslim:
Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyerukan kepada siapa saja yang mempunyai
kekuatan di dalam tubuh tentara kaum Muslim agar dengan kekuatannya
segera berangkat ke medan perang; menghancurkan berbagai rintangan yang
dibuat oleh para penguasa guna menghalangi jalannya; serta berangkat
berjihad dan melangkah. Kalau dia sampai rela dengan kezaliman dan
penghinaan mereka, bahkan malah melakukan tawar-menawar dengan mereka,
dengan mengabaikan hak-haknya dan menarik diri, maka kekuatannya itu
pasti akan menyeretnya dalam jurang kehinaan di dunia dan azab yang
pedih dan mengerikan di akhirat kelak.
Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa
kalian dengan siksaan yang pedih dan kalian diganti dengan kaum yang
lain, sementara kalian tidak akan dapat memberi kemadaratan kepada-Nya
sedikitpun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS at-Taubah [9]:
39).
22 Jumada al-Akhirah 1427 H
18 Juli 2006 M
HIZBUT TAHRIR
Komentar al-islam:
Israel Langgar Kesepakatan. (Republika, 1/8/2006).
Jihad (perang)-dan bukan kesepakatan-adalah bahasa yang paling masuk
akal dan syar'î untuk menghadapi keganasan Israel sang agresor.