MEMBEBASKAN PALESTINA:
Butuh Kesatuan Negeri-negeri Islam dalam Wadah Khilafah
Buletin al-Islam Edisi 314
Sampai tulisan ini dibuat, setelah lebih dari dua pekan, Yahudi Israel
masih saja terus membombardir wilayah Palestina dan juga Lebanon
selatan. Sudah tidak terhitung jumlah yang tewas dan terluka. Tak puas
dengan membombardir Palestina dan Lebanon, Israel juga berencana
menyerang Suriah.
Sekali lagi, dunia hanya mampu 'menonton' arogansi dan kekejaman Israel
itu. Dunia kembali hanya mampu diam. PBB, yang baru saja secara sigap
mengesahkan resolusi bagi Korea Utara karena percobaan senjata
nuklirnya, seolah tidak berdaya untuk mengeluarkan resolusi bagi
Israel, meski hanya berisi nada kecaman. Lagi-lagi, pengajuan resolusi
PBB untuk mengecam Israel diveto (digagalkan) Amerika, penyokong utama
Israel. Liga Arab dan OKI, seperti biasa, juga hanya 'pintar'
memproduksi pernyataan demi pernyataan yang berisi sekadar kecaman dan
seruan tak bermakna. Para anggota Liga Arab, yang mengadakan sidang
darurat menyikapi situasi kawasan Timur Tengah terakhir, bahkan saling
bertengkar hanya untuk mempersoalkan keabsahan tindakan Hizbullah
menawan dua orang tentara Israel, yang kemudian memicu serangan Israel
atas Lebanon. Padahal terhadap Israel yang melakukan serangan ilegal
pun mereka tidak berbuat apa-apa.
Beberapa Pelajaran
Krisis Palestina mutakhir, terutama yang ditandai oleh serangan Israel
saat ini, sesungguhnya menyiratkan beberapa pelajaran: Pertama,
keberhasilan AS dan Barat mengisolasi Palestina sehingga persoalan
Palestina seolah hanya masalah bangsa Palestina saja. Diamnya dunia
internasional dan Dunia Islam menunjukkan realitas ini. Terkait dengan
Dunia Islam, isu terorisme yang dikembangkan AS tampaknya semakin
'menyiutkan nyali' negeri-negeri Islam untuk membantu Palestina karena
khawatir dicap membantu 'teroris', apalagi saat ini Palestina dipimpin
Hamas yang telah lama dicap oleh AS sebagai organisasi 'teroris'.
Terbukti, sidang darurat Liga Arab baru-baru ini bahkan menghasilkan
penyataan yang lebih lunak dari biasanya, seperti tidak adanya lagi
kecaman terhadap sikap AS, yang mendukung tindakan Israel secara
membabi-buta.
Kedua, tidak mungkinnya-bahkan mustahil-kita berharap kepada dunia
internasional dan lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Liga Arab,
ataupun OKI untuk menyelesaikan krisis Palestina. Terbukti, berbagai
inisiatif perdamaian yang digagas PBB (termasuk yang melibatkan AS,
Eropa, dan Rusia) ataupun yang digagas negara-negara Arab tidak
menghasilkan apapun selain memperpanjang krisis Palestina. Bahkan
terkesan, berbagai inisatif perdamian itu memang sengaja dibuat agar
krisis Palestina terus berlarut-larut demi kepentingan negara-negara
Barat, khususnya AS, agar Timur Tengah tetap bergejolak sehingga Barat
dan AS terus bisa melakukan intervensi di kawasan itu.
Ketiga (yang paling penting), krisis Palestina yang telah berlangsung
puluhan tahun, termasuk serangan mutakhir Israel atas Palestina,
menunjukkan semakin relevan dan urgennya Khilafah saat ini, khususnya
bagi umat Islam. Ketika PBB, Liga Arab ataupun OKI 'mandul', sementara
para penguasa Muslim saat ini pun lebih banyak 'ngomong'-nya daripada
aksinya nyatanya untuk membela dan membebaskan Palestina dari
penjajahan Israel, kepada siapa lagi kita berharap selain kepada
Khilafah yang dipimpin oleh seroang khilafah? Sebab, secara i'tiqâdî
dan syar'i, kita jelas wajib meyakini sabda Nabi saw.:
«اَلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُوا مِنْ
وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ»
Imam (kepala negara) itu laksana perisai (pelindung) bagi orang-orang
yang diperangi di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).
Lebih dari itu, sejarah pun telah membuktikan, pada zaman Kekhilafahan
Abasiyyah, misalnya, Khalifah al-Mu'tashim Billah begitu tanggap
membela seorang Muslimah yang dilecehkan oleh pejabat Romawi di kota
Amuria. Hanya untuk membela seorang warganya yang dinodai itu, sang
Khalifah mengirimkan ratusan ribu pasukan kaum Muslim hingga berhasil
menaklukkan kota tersebut. Demikian pula Khalifah Abdul Hamid II
(meskipun saat itu Khilafah Utsmaniyah dalam keadaan sangat lemah); ia
begitu mati-matian mempertahankan tanah Palestina dari berbagai upaya
Yahudi yang berniat mendudukinya.
Lalu bagaimana dengan para penguasa Muslim saat ini? Meskipun tanah
Palestina sudah puluhan tahun diduduki Yahudi Israel dan sudah jutaan
Muslim Palestina dibantai oleh mereka selama masa pendudukan, tampaknya
hal itu tidak cukup membangkitkan keberanian para penguasa Muslim saat
ini untuk membelanya. Mereka lebih takut terhadap Amerika daripada
takut dihisab oleh Allah SWT akibat sikap diam mereka terhadap nasib
kaum Muslim Palestina.
Mengukur Kekuatan Dunia Islam
Sesungguhnya tidak ada alasan bagi Dunia Islam saat ini untuk takut
kepada Amerika, apalagi Israel. Sebab, meskipun saat ini industri
militer Dunia Islam dalam keadaan mundur, secara kuantitas potensi
militer di Dunia Islam sesungguhnya sangat besar. Seandainya dari satu
miliar penduduk Dunia Islam direkrut 1%-nya saja akan didapat 10 juta
tentara. Bahkan berdasarkan data CIA the World Fact Book, potensi
kekuatan militer (military manpower availability) dan dinas militer
(fit for military service) yang dimiliki oleh beberapa negeri Islam
cukup fantastis. Potensi militer Mesir: 18.562.994 dengan 12.020.059
(dinas militer); Irak: 5.938.093; Iran 18.319.328 dengan 10.872.407
(dinas militer); Pakistan: 35.770.928 dengan 21.897.336 (dinas
militer); Turki: 18.882.272 dengan 11.432.428 (dinas militer);
Indonesia: 64.046.149 dengan 37.418.755 (dinas militer). Jadi, dengan
gabungan tentara Mesir, Irak, Iran, Pakistan, Turki, dan Indonesia saja
potensi pasukan kaum Muslim yang tersedia adalah sekitar 162 juta.
Bandingkan dengan AS, dengan potensi militer yang hanya 79 juta;
apalagi dengan Israel yang hanya memiliki potensi militer sekitar 1,5
juta pasukan pria dan 1,4 juta pasukan wanita.
Hanya dengan melihat potensi militer ini saja sesungguhnya
negeri-negeri Islam tidak seharusnya takut terhadap Amerika, apalagi
Israel. Itu belum termasuk potensi ideologis (Islam), potensi SDM,
potensi SDA, serta potensi geografis negeri-negeri Islam. Masalahnya
hanya terletak pada keinginan Dunia Islam untuk menyatukan diri dalam
sebuah kekuatan, dalam sebuah negara; itulah Daulah Khilafah Islamiyah.
Dengan seluruh potensinya itu, kita dapat membayangkan kekuatan Daulah
Khilafah Islamiyah seandainya berdiri; tentu akan mampu mengimbangi
bahkan mengalahkan kekuatan adidaya Amerika sekalipun.
Wahai para penguasa Muslim:
Belum tibakah saatnya bagi Anda untuk memiliki rasa malu, walau hanya
sekali, atas sikap Anda yang selalu membiarkan Muslim Palestina
menderita sendirian akibat kekejaman Yahudi Israel? Sampai kapan Anda
mengkhianati saudara-saudara Anda sendiri sesama Muslim yang dibantai
Israel, sementara Anda tidak tergugah sedikitpun untuk menyelamatkan
mereka? Belum tibakah saatnya bagi Anda untuk segera mengerahkan
pasukan kaum Muslim yang Anda miliki untuk membela sesama Muslim?
Bagaimana perasaan Anda jika ayah-ibu, keluarga dan saudara-saudara
Anda dibantai musuh, sementara orang-orang hanya menonton saja tanpa
mau menolong? Tentu Anda akan sangat bersedih dan sakit hati. Lalu apa
bedanya dengan kaum Muslim Palestina yang juga merupakan
saudara-saudara Anda?
Wahai para tentara Muslim:
Belum tibakah saatnya jantung-jantung Anda berdegup kencang, dada-dada
Anda bergemuruh, dan darah-darah Anda mendidih menyaksikan
saudara-saudara Anda di Palestina dinistakan dan dibantai Yahudi
Israel? Bayangkanlah oleh Anda jika yang dibantai itu adalah ayah-ibu,
keluarga dan saudara-saudara Anda; apakah Anda tetap akan berdiam diri
saja menjadi penonton? Lalu apa bedanya dengan kaum Muslim Palestina
yang juga merupakan saudara-saudara Anda? Tidakkah Anda terdorong
sedikitpun untuk memberikan pertolongan kepada Muslim Palestina,
padahal dengan itu Anda akan memperoleh satu di antara dua kebaikan:
kemenangan atau mati syahid? Lebih dari itu, sesungguhnya sebagai
tentara Muslim, bukankah Anda lebih wajib dan lebih layak membela
saudara-saudara Anda yang Muslim, yang sedang menderita dijajah Yahudi
Israel, daripada mendukung para penguasa Anda yang pengecut dan telah
mengkhianati kaum Muslim Palestina?
Wahai kaum Muslim:
Seorang tentara Yahudi telah ditawan dalam perang; ia bukan diculik
dari rumahnya. Namun, negara Yahudi itu memandang penawanan tersebut
sebagai masalah besar bagi mereka. Sebaliknya, ditahan dan ditawannya
saudara-saudara kita di Palestina yang terdiri dari para orang tua,
wanita, dan anak-anak kaum Muslim; dilanggarnya kehormatan mereka;
dinodainya simbol-simbol kesucian kita; serta berbagai bencana yang
ditimpakan oleh Yahudi di atas kepala kita tidak dianggap oleh para
penguasa Muslim saat ini sebagai masalah besar yang patut diperhatikan.
Para penguasa kita hanya sibuk menjadi penengah/juru damai seraya
berseru agar tentara Yahudi yang ditawan itu segara dikembalikan dalam
keadaan selamat!
Sungguh, negara Yahudi itu melakukan berbagai hal semata-mata demi
melindungi rakyatnya. Bagi negara Yahudi, kemaslahatan setiap individu
rakyatnya merupakan kemaslahatan negara; cita-cita dan harapan mereka
menjadi cita-cita dan harapan negara. Karena itu, hilangnya sekadar
seorang Yahudi sekalipun menjadi persoalan besar bagi pemerintahannya.
Penawanan seorang Yahudi telah cukup bagi pemerintahnya untuk
mengerahkan segenap kekuatan militer untuk membebaskannya.
Wahai kaum Muslim:
Saksikanlah oleh Anda sekalian, bahwa para penguasa Anda tidak pernah
memiliki rasa malu atas tindakan mereka selama ini yang membiarkan
bangsa Palestina berjuang sendirian; bahwa mereka sama sekali tidak mau
bergerak untuk menyerang musuh demi menyelamatkan jutaan Muslim
Palestina di wilayah pendudukan Yahudi, padahal Allah SWT telah
memerintahkan:
]قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ
بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ
وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ
صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ[
Perangilah mereka (orang-orang kafir itu), niscaya Allah akan menyiksa
mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka,
menolong kalian terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang
beriman. (QS at-Taubah [9]:14).
Wahai kaum Muslim:
Sesungguhnya Palestina adalah tanah Islam yang diberkati dan salah satu
bagian dari negeri Islam. Membiarkannya dirampas oleh Yahudi adalah
tindakan kriminal dan pengkhinatan, padahal Allah SWT telah berfirman:
]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ
تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ
وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ
وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ[
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan
Rasul-Nya serta mengkhianati amanat-amanat yang telah dipercayakan
kepada kalian, sementara kalian mengetahuinya. (QS al-Anfal [8]: 27).
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslim, serta hinakanlah siapa
saja yang memerangi orang-orang Mukmin. Amin. []
Komentar al-Islam:
Dunia Hanya Menonton Pembantaian Bangsa Palestina (Republika,
17/7/2006).
Karena itu, tak selayaknya umat Islam terus berharap pada dunia
pimpinan AS, yang memang tidak akan pernah peduli terhadap bencana
apapun yang menimpa umat Islam.