Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/16
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Syah: >Ooops. Yang ini saya kurang sependapat. Karena kebetulan saya juga tertarik .. >Bagi kita, yang belajar teori memang tinggal mengikuti apa yang ditulis sehari-hari. Kecuali dogma2 scientific seperti teorinya Hawking. >untung saja positif. Walaupun ada juga teori yang bisa berdampak dalam science kita percaya karena bukti2 konkrit/fakta, misal percobaan negatif >seperti histeria massa, yang dimanfaatkan oleh Hitler. Memang didalam >science ada dasar pengetahuan yang sama, dan ini kalau di agama disebut >tataran syariat ( lapisan gwakang ?). Ini yang menjadi dasar kenapa bagi >saya, apakah agama atau science, akan sama saja terutama dilapisan >syariatnya. Karena hanya berdasar dilapis percaya. tentang sel -> mikroskop. Kita akan percaya karena adanya bukti2 konkret, tentu saja ini dengan mengesampingkan fakta bahwa ada kemungkinan fakta2 itu merupakan rekayasa, dan bila ini betul berarti seluruh hidup kita adalah rekayasa yang tidak ada artinya. Dalam agama, kita percaya pada lapisan bawah sadar kita/psychology. Kita bandingkan dua kasus di atas, yang satu stress dan memiliki Jadi bisa dilihat di sini, agama berada pada tataran kejiwaan di mana >>... pencerahan >>Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus >>mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada >>hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari, >>karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah >>anugerah, bukan cobaan. >Banyak jalan menuju Roma. Dalam setiap tulisan, saya selalu dalam Pantheisme, kita ini sudah berada di Roma. :-) .. >kepada NIAT menuju Kebaikan, itu sebenarnya lebih dari cukup. Laku setuju sekali, hanya saja orang2 cenderung melihat "kata" sebagai lebih >utama daripada "kata". sebuah kebenaran. Padahal kenyataannya kata sangat mudah untuk dimanipulasi. .. >berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak justru inilah yang sering menjadi pitfall, jurang bagi mereka yang bisa". >Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata orang yang >dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan semu. Hakikat ilmu >batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa". mencari-cari arti hidup. Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan! Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini. Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya. kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan. Seharusnya ungkapan ini sudah cukup menjadi cermin bagi kita untuk tidak lagi mengungkit ungkit masalah keTuhanan. Kenyataanya, banyak orang berkata "Kehendak Tuhan", "Allah bersabda". Mereka berargumen perkataan itu dibawa oleh nabi, lho lalu nabi itu apa, manusia atau bukan? Kita tarik saja analogi (yang mungkin kurang cocok). Bisakah kita mengajari seekor semut untuk menggunakan komputer? tentu saja tidak, kenapa kerena kita memang berbeda dengan semut. Nah jika kita sebagai semut dan Tuhan manusia, apa yang kita lakukan. Bagi saya: ya sudah pasrah saja, kita tidak tahu rahasia alam setelah kematian. Diterima saja hidup ini apa adanya, susah, senang, sakit, gembira, sedih, bahagia, nikmat. Lalu orang akan berpendapat: berarti tidak ada bedanya kita dengan binatang, bisanya cuma menerima saja. Lho kalau dilihat kita ini sebenarnya binatang juga, bedanya bisa berkomunikasi (lumba lumba juga bisa). Dengan teknologi lebih maju, pemikiran2 njlimet, dlsb. Hal lain, makan, minum, tidur... sama seperti binatang, nothing more, nothing less. Jika serigala melolong di bawah sinar rembulan, sering juga kita tersenyum saat menikmati keindahan alam. Anda lihat perbedaannya? Yang saya tahu adalah. Sang serigala menerima apa adanya dia, sedangkan manusia tidak, selalu berusaha maju berusaha mencari. Memang hampir semua hal bisa dicapai secara fisik. sebuah contoh dahulu Icarus tidak bisa terbang, lalu Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Semua hal ini bisa dicapai, tapi menjelaskan Tuhan, mencapai Tuhan? bisakah kita...? .. >>membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >>disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal >>saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu. >>Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti. >Ini betul, kalau ada manusia yang bisa mendefinisikan Tuhan, dengan bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll bisa bersabda? yang dalam bahasa manusia? >>mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih ya hidup sendiri itu tujuannya :-) >>baik kita memandang hidup sebagai tujuan. >>Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan? >>seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya >>kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra. >Kalau ini, saya yang jadi linglung :)) Mungkin saya mau tanya balik, bingung ya? Saya juga :-) Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab. Menanyakan hidup sama saja menanyakan kematian, lahir-dewasa-mati. >>dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada dengan >>perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya >>lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan >>daripada pengalaman. .. jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) salam, ______________________________________________________ ______________________________________________________________________ Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
| ||||||||||||||