Gmail Kalender Documents Foto Web selengkapnya »
Grup yang Baru-Baru Ini Dikunjungi | Bantuan | Masuk
Beranda Grup Google -
Pesan dari diskusi Nurani dan Logika
Grup tempat Anda mengeposkan pesan adalah grup Usenet. Pesan yang diposkan ke grup ini akan membuat alamat email Anda tampak oleh pengguna internet.
Pesan balasan Anda belum terkirim.
Pengeposan berhasil
 
Dari:
Kepada:
Cc:
Tindak lanjuti ke:
Tambahkan Cc | Tambahkan Tindak Lanjut ke | Edit Perihal
Perihal:
Validasi:
Untuk maksud verifikasi, ketik karakter yang Anda lihat dalam gambar di bawah atau angka yang Anda dengar dengan mengklik ikon aksesibilitas. Simak dan ketik angka yang Anda dengar
 
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 14 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/14
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
mas Syah:

>Seru yaa :)) Saya fikir sudah waktunya kita menutup kisah agama dan

sains.

Boleh juga ditutup  :-)
Tentu saja kalau mas Syah berkehendak demikian, kan saya tidak bisa
diskusi sama diri sendiri  :-)

>Bukannya nggak mau dilanjutkan. Kalau mas Benny masih perlu ada yang
>diutarakan silahkan :) Ada pemikiran yang menganggap agama adalah A dan
>science adalah B. Dari pemikiran ini ada dua pendapat yang berkembang

yaitu

menurut saya kedua duanya lahir dari pemikiran manusia
nah perkembangannyalah yang menyabang, bercabang.
Science mengutamakan pada fakta/realitas/material. Sedangkan agama
pada spiritualitas/filosofis/immaterial.

..

>terakhir ini. Pendapat saya pribadi, bahwa agama agama serta ajaran
ajaran
>para Arif justru ilmu science murni yang berdasar "logika" murni. Terus
>terang pemikiran terakhir ini pasti banyak yang protes :(

Einstein pernah bilang: "Science is for science"
jadi kalau ada yang memasukkan unsur lain ke dalam science, itu
namanya pseudo-science.

>>Bagaimana dengan ayat? adakah suatu standard yang menjelaskan
>>posisinya? Tentu saja tidak, satu orang dengan orang lain saja bisa
>>beda interpretasinya.   :-)  Nah dalam hal itu kita harus lepas

>Saya ingin mengungkapkan ini hati hati. Bahwa pendapat diatas belum
tentu
>tepat. Ada banyak didunia ini, orang yang bermakam perjalanan ruhani
SAMA,
>walaupun berangkat dari jalan yang berbeda DAN menemukan suatu hal yang
>"SAMA SEBANGUN" tanpa harus dikoordinasikan atau diajarkan hal yang

sama.

memang, tapi sebaliknya dalam science semua orang PASTI mencapai
hal yang sama, seorang ilmuwan nuklir akan menjawab sama bila ditanya
tentang reaksi fisi/fusi dan jawabannya bisa diyakini benar/salah.
Sebaliknya dalam agama, tidak bisa, jika sai baba dan Paus berkata
berlawanan, kita pemeluknya menganggap itu sama. Nah persamaan ini
dalam science dan agama lain.
Saya sendiri merasa berdiri pada sudut pandang yang berbeda dengan mas
Syah. Tetapi saya juga tahu maksud mas Syah  :-)  dan saya akui memang
maksud mas Syah ini baik sekali. Hanya sayang sekali saya tidak bisa
mengikuti. Mungkin mas Syah sendiri bertanya-tanya mengapa tidak bisa?
Jawabannya sebenarnya mudah sekali, kerena kehidupan sehari hari saya
diekspos pada hal2 ini (science).

..

>tanpa melihat kopi apalagi meminumnya. Dan kemudian berteori malah
tentang
>cangkirnya. Yang inilah yang sesuai dengan pendapat mas Benny diatas.
Setiap
>orang bisa saja mempunyai intepretasi berbeda.

tetap saja kita tidak bisa minum kopi tanpa cangkir kan,  :-)

>Ilmu logika murni sebenarnya sangat sederhana. Maaf kalau saya salah
menulis
>yang dibawah ini:
>Tao.....carilah Tao, Hindhu....temukan Brahma, Budha....capai
kekosongan,
>Katholik....Kristus satu satunya jalan...., Islam....Syahadat dengan
laku
>tanpa lafal. Ini semua ajaran mengajak kita minum "kopi". Bukan
berdebat
>cangkirnya...

nah kalau seseorang belum tahu dia itu beragama apa? Agama tidak bisa
resmi tidak resmi. Inilah akibat kebijakan orba yang mengkotak2kan
agama.
Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus
mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada
hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari,
karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah
anugerah, bukan cobaan.

>Jangan sekali kali rancu antara orang dengan ajaran. Kalau sifat orang
yang
>buruk, belum tentu berarti ajarannya yang salah...

satu lagi perbedaan agama dan science. Science berangkat dari premis
semua teori bukanlah kebenaran, jadi (mungkin) masih ada yang lebih
benar. Kecuali jika sang waktu sendiri berhenti, jadi saat itulah
kebenaran terkuak (jika tidak ada masa depan).
Agama berangkat dari premis, yang terbenar, termutlak dan tidak
bisa salah, jika salah itulah pengikutnya, bukan agamanya.
Lalu agama itu sendiri apa? bisakah agama ada tanpa umat?

>Karena itu kita sebaiknya jangan cepat cepat ekstrim dalam menganut
sesuatu.
>Kalau mau jujur toh banyak kita sebenarnya hanya percaya bukan
berdasarkan
>pembuktian oleh diri sendiri. Science toh karena itu sudah jadi
kurikulum
>yang selalu harus dipelajari oleh semua orang agar bisa survive di
>masyarakat. Jadi lebih baik netral melihat sesuatu, coba lepas dan

Science bukanlah sebuah alat untuk survival. Alat untuk survival
adalah budaya, nah dalam kasus indonesia ini Science "diserap"
dalam budaya, akibatnya apa? ya itu, budaya GURU digugu lan ditiru
biar salah tetap benar. Dalam hal ini yang diajarakan di sekolah2
di Indonesia bukanlah science murni, dan science murni sendiri
memang susah untuk dicerna, sebaiknya diajarkan di tingkat tinggi
(SMA...). Mungkin yang mas Syah maksud adalah: kita sekolah untuk
cari kerja.

>dari sudut pandang kacamata yang lepas dari apapun. Kalau kita menulis
>10+7=1, bisa dimarahin sekampung :)) Tetapi bagi yang menemukan
maknanya,
>bisa jadi mereka mengangguk :)

lepas dari apapun? Lalu bagaimana cara kita menilai?
mungkin mas syah bisa menjelaskan.
Kalau lepas dari apapun, berarti aborsi tidak salah, pembunuhan tidak
salah, kan tidak ada ukurannya, bagaimana bisa dikatakan salah?

>>Bukankah agama sendiri juga menggunakan logika? teori adanya Tuhan

>Tepat sekali ini benar benar suatu argumen yang jelas. Tetapi jangan
>berhenti dipemahaman. Kalau kita percaya Tuhan, bisakah kita menemukan
bukti
>secara logika eksistensi Dzat Allah ? Percayakah kita bahwa Dzat itu

Maha

justru hal inilah mas Syah yang membuat saya berpaling.
Sebagai manusia jelas kita tidak bisa mendefinisikan maupun
membuktikan keberadaan Tuhan.
Jika ada yang mengaku-ngaku kitab dari Tuhan, Nabi utusan Tuhan
mungkin saja benar, anehnya sang kitab ditulis dalam bahasa
manusia, sang nabi juga manusia.

>Wujud ? Bukankah bahwa Maha Wujud berarti Maha Kelihatan ? Kita sering
>mendengar bahwa manusia tidaklah mungkin untuk menemui Tuhan, karena
dia
>tidak bisa dirumuskan dengan kata kata apapun kecuali kata "Allah".
Ajaran
>ini juga benar sebenar benarnya !!! Tetapi setiap manusia harus
membuktikan
>itu terlebih dahulu, secara LOGIKA, yang pasti. Pembuktian inilah yang

akan

membuktikan atau percaya?
membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri
disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal
saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu.
Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.

>membuat takluknya kesombongan atau ego kita terhadap agama ataupun
science.
>Bagaimana cara membuktikannya ? Yakni membaca semua ayat ayat agama dan
>ajaran masing masing, secara perlahan dan hati hati. Disana ada mutiara
>terselubung. Seperti yang ditulis mas Djoko didalam pondasi untuk
memasuki
>tujuh pintu.

mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih
baik kita memandang hidup sebagai tujuan.
Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan?
seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya
kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.

>"ilmu agama adalah ujung ilmu pengetahuan manusia, bagi yang menemukan
>maknanya"

dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada
perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya
lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan
daripada pengalaman.

salam,
BS

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.

Buat grup - Grup Google - Beranda Google - Persyaratan Layanan - Kebijakan Privasi
©2010 Google