Gmail Kalender Documents Foto Web selengkapnya »
Grup yang Baru-Baru Ini Dikunjungi | Bantuan | Masuk
Beranda Grup Google -
Pesan dari diskusi Satu Lagi dari MAYORA ---"Pakar OBLOK, Meninggalkan OBLOK-OBLOK"---
Grup tempat Anda mengeposkan pesan adalah grup Usenet. Pesan yang diposkan ke grup ini akan membuat alamat email Anda tampak oleh pengguna internet.
Pesan balasan Anda belum terkirim.
Pengeposan berhasil
 
Dari:
Kepada:
Cc:
Tindak lanjuti ke:
Tambahkan Cc | Tambahkan Tindak Lanjut ke | Edit Perihal
Perihal:
Validasi:
Untuk maksud verifikasi, ketik karakter yang Anda lihat dalam gambar di bawah atau angka yang Anda dengar dengan mengklik ikon aksesibilitas. Simak dan ketik angka yang Anda dengar
 
Ki Bodronoyo  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 27 Mar 2008, 06:48
Newsgroup: soc.culture.indonesia
Dari: Ki Bodronoyo <bangki...@gmail.com>
Tanggal: Wed, 26 Mar 2008 16:48:00 -0700 (PDT)
Perihal: Satu Lagi dari MAYORA ---"Pakar OBLOK, Meninggalkan OBLOK-OBLOK"---
Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 23 Mar 2008 - 2:30 pm

Yusuf Estes Before

Yusuf Estes After
Dr. Yusuf Estes  lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990
ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola
bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan
seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim.

Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia
justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta
mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu
Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf
Estes secara regular tampil di PeaceTV , Huda TV , demikian pula
IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial
televisi Islam untuk anak-anak bertajuk "Qasas Ul Anbiya" yang
bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.

Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia
menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak
tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia.
Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru,
hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di
situs www.islamtomorrow.com Di bawah ini adalah penuturannya.

***

Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi
bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk
Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi
pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami
terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka
agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya
dimanapun mereka berada.

Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat
militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk
menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup
sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai
salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak
saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu
diidentikkan dengan hal berbau Arab.

Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau
pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan
kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang
perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik
dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-
mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam.
Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya
berikut ini. Semoga Allah ridha.

Keluarga Kristen taat
Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya
mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP
(white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen
yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke
Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja.
Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.

Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke
banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan
pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari
ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu,
Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran
yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama
sekali, yakni Islam.

Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan
menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar
musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang
saya beri nama "Estes Music Studios." Hingga tahun 1990 atau hampir 30
tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment.
Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma
hingga Florida.

Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah
minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah
Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui
ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.

Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat
pertanyaan:"Apakah Tuhan yang menulis Bibel?" Biasanya jawabannya
adalah: "Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang
berasal dari Tuhan." Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang
menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu
menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu
menambahkan,"Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang
diilhamkan kepada manusia." Begitulah.

Mencari Tuhan
Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya "menyerah".
Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental
hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun
pada saat yang sama Dia menjadi "Tiga" atau Trinitas. Saya selalu
bertanya-tanya, jika Dia "Tuhan Bapa" bagaimana mungkin pada saat yang
sama juga menjadi "Anak Tuhan?"

Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara.
Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme,
Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati
usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya
mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis
dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara.
Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang
memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel
sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa
banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu.
Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun
kata "Trinitas."

Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari
jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan "nyeleneh" tersebut.
Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan
saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-
konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama
bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya
datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.

Jumpa pria Mesir
Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang
pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir
itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis
internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung
Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu
seorang Muslim.

Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin
hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no
way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu
dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam
teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut
juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari
kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di
tengah padang pasir (maksudnya Ka'bah-red.). Tidak! Saya tidak mau
jumpa orang itu.

Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati.
Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam
tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam "aturan"
khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu
setelah kegiatan di gereja, sehingga punya "kekuatan" kala bertemu
nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja
bertuliskan "Yesus Tuhan Kami." Istri dan kedua anak perempuan saya
juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam
itu.

Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah
mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya.
Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si
Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti
yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak
berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia
tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.

Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-
orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan
surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal.
Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria
saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan
sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat.
Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu
pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.

Interogasi
Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai "menginterogasi" pria Mesir
tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu
menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain
seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud,
Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar
jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya
sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman
dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah
satu utusan-Nya. Fantastik!

Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga
percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa
diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang
ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk
mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat
benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana
mungkin?

Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang
keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia
mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela
sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu
yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya
masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.

Menjadi mitra bisnis
Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu.
Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara
Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan
Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep
Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya,
tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.

Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama
ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk
tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya
tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.

Satu ketika salah seorang teman saya -seorang pendeta- mengalami
serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal
beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam
seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu
tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun
tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang
kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia
menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas
tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.

Pria di kursi roda mencari Tuhan
Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh
teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang
Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan.
Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.

Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan
kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit
masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya
kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan
seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; "Sebenarnya saya dulu
seorang pendeta."

"Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok
kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini
sebenarnya?

Rupanya pendeta itu -namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris
yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini
ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal
di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter
tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta
Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang
doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.

Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga
larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya
takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga
saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-
Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa
yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa
berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap
terpelihara?

Sang pendeta masuk Islam!
Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang
Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya
bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada
acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat
saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau
nyanyian apapun?

Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini
lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir
sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan
seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang
datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah
rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak
petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa
yang terjadi? Pendeta masuk Islam?

Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal
itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru
menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh
Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.

Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu
diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar
pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat
firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya
keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan.
Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat.
Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.

Sekeluarga masuk Islam

Yusuf Estes Father
Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi,
mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah,
di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri
saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan
kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota
kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang
ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan
selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.

Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam.
Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal
beberapa juz Al-Quran.

Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke
mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam.
Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama.
Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis.
Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang
punya motto terkenal, " where we're always open 24 hours a day and
always plenty of free parking." (kami buka 24 jam sehari dan banyak
tempat parkir gratis).

Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih
bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan
sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin. [Zulkarnain Jalil,
kontributor www.hidayatullah.com di Aceh]


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.

Buat grup - Grup Google - Beranda Google - Persyaratan Layanan - Kebijakan Privasi
©2010 Google