Gmail Kalender Documents Foto Web selengkapnya »
Grup yang Baru-Baru Ini Dikunjungi | Bantuan | Masuk
Beranda Grup Google -
Nurani dan Logika
Terlalu banyak topik di grup ini yang ditayangkan lebih dulu. Untuk membuat topik ini muncul pertama, hapus opsi ini dari topik yang lain.
Terjadi masalah saat memproses permintaan Anda. Coba lagi.
bendera
  17 pesan - Tutup semua  -  Terjemahkan semua ke bahasa Terjemahan (Tampilkan semua aslinya)
Grup tempat Anda mengeposkan pesan adalah grup Usenet. Pesan yang diposkan ke grup ini akan membuat alamat email Anda tampak oleh pengguna internet.
Pesan balasan Anda belum terkirim.
Pengeposan berhasil
 
Dari:
Kepada:
Cc:
Tindak lanjuti ke:
Tambahkan Cc | Tambahkan Tindak Lanjut ke | Edit Perihal
Perihal:
Validasi:
Untuk maksud verifikasi, ketik karakter yang Anda lihat dalam gambar di bawah atau angka yang Anda dengar dengan mengklik ikon aksesibilitas. Simak dan ketik angka yang Anda dengar
 
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 14 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/14
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
mas Syah:

>Seru yaa :)) Saya fikir sudah waktunya kita menutup kisah agama dan

sains.

Boleh juga ditutup  :-)
Tentu saja kalau mas Syah berkehendak demikian, kan saya tidak bisa
diskusi sama diri sendiri  :-)

>Bukannya nggak mau dilanjutkan. Kalau mas Benny masih perlu ada yang
>diutarakan silahkan :) Ada pemikiran yang menganggap agama adalah A dan
>science adalah B. Dari pemikiran ini ada dua pendapat yang berkembang

yaitu

menurut saya kedua duanya lahir dari pemikiran manusia
nah perkembangannyalah yang menyabang, bercabang.
Science mengutamakan pada fakta/realitas/material. Sedangkan agama
pada spiritualitas/filosofis/immaterial.

..

>terakhir ini. Pendapat saya pribadi, bahwa agama agama serta ajaran
ajaran
>para Arif justru ilmu science murni yang berdasar "logika" murni. Terus
>terang pemikiran terakhir ini pasti banyak yang protes :(

Einstein pernah bilang: "Science is for science"
jadi kalau ada yang memasukkan unsur lain ke dalam science, itu
namanya pseudo-science.

>>Bagaimana dengan ayat? adakah suatu standard yang menjelaskan
>>posisinya? Tentu saja tidak, satu orang dengan orang lain saja bisa
>>beda interpretasinya.   :-)  Nah dalam hal itu kita harus lepas

>Saya ingin mengungkapkan ini hati hati. Bahwa pendapat diatas belum
tentu
>tepat. Ada banyak didunia ini, orang yang bermakam perjalanan ruhani
SAMA,
>walaupun berangkat dari jalan yang berbeda DAN menemukan suatu hal yang
>"SAMA SEBANGUN" tanpa harus dikoordinasikan atau diajarkan hal yang

sama.

memang, tapi sebaliknya dalam science semua orang PASTI mencapai
hal yang sama, seorang ilmuwan nuklir akan menjawab sama bila ditanya
tentang reaksi fisi/fusi dan jawabannya bisa diyakini benar/salah.
Sebaliknya dalam agama, tidak bisa, jika sai baba dan Paus berkata
berlawanan, kita pemeluknya menganggap itu sama. Nah persamaan ini
dalam science dan agama lain.
Saya sendiri merasa berdiri pada sudut pandang yang berbeda dengan mas
Syah. Tetapi saya juga tahu maksud mas Syah  :-)  dan saya akui memang
maksud mas Syah ini baik sekali. Hanya sayang sekali saya tidak bisa
mengikuti. Mungkin mas Syah sendiri bertanya-tanya mengapa tidak bisa?
Jawabannya sebenarnya mudah sekali, kerena kehidupan sehari hari saya
diekspos pada hal2 ini (science).

..

>tanpa melihat kopi apalagi meminumnya. Dan kemudian berteori malah
tentang
>cangkirnya. Yang inilah yang sesuai dengan pendapat mas Benny diatas.
Setiap
>orang bisa saja mempunyai intepretasi berbeda.

tetap saja kita tidak bisa minum kopi tanpa cangkir kan,  :-)

>Ilmu logika murni sebenarnya sangat sederhana. Maaf kalau saya salah
menulis
>yang dibawah ini:
>Tao.....carilah Tao, Hindhu....temukan Brahma, Budha....capai
kekosongan,
>Katholik....Kristus satu satunya jalan...., Islam....Syahadat dengan
laku
>tanpa lafal. Ini semua ajaran mengajak kita minum "kopi". Bukan
berdebat
>cangkirnya...

nah kalau seseorang belum tahu dia itu beragama apa? Agama tidak bisa
resmi tidak resmi. Inilah akibat kebijakan orba yang mengkotak2kan
agama.
Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus
mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada
hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari,
karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah
anugerah, bukan cobaan.

>Jangan sekali kali rancu antara orang dengan ajaran. Kalau sifat orang
yang
>buruk, belum tentu berarti ajarannya yang salah...

satu lagi perbedaan agama dan science. Science berangkat dari premis
semua teori bukanlah kebenaran, jadi (mungkin) masih ada yang lebih
benar. Kecuali jika sang waktu sendiri berhenti, jadi saat itulah
kebenaran terkuak (jika tidak ada masa depan).
Agama berangkat dari premis, yang terbenar, termutlak dan tidak
bisa salah, jika salah itulah pengikutnya, bukan agamanya.
Lalu agama itu sendiri apa? bisakah agama ada tanpa umat?

>Karena itu kita sebaiknya jangan cepat cepat ekstrim dalam menganut
sesuatu.
>Kalau mau jujur toh banyak kita sebenarnya hanya percaya bukan
berdasarkan
>pembuktian oleh diri sendiri. Science toh karena itu sudah jadi
kurikulum
>yang selalu harus dipelajari oleh semua orang agar bisa survive di
>masyarakat. Jadi lebih baik netral melihat sesuatu, coba lepas dan

Science bukanlah sebuah alat untuk survival. Alat untuk survival
adalah budaya, nah dalam kasus indonesia ini Science "diserap"
dalam budaya, akibatnya apa? ya itu, budaya GURU digugu lan ditiru
biar salah tetap benar. Dalam hal ini yang diajarakan di sekolah2
di Indonesia bukanlah science murni, dan science murni sendiri
memang susah untuk dicerna, sebaiknya diajarkan di tingkat tinggi
(SMA...). Mungkin yang mas Syah maksud adalah: kita sekolah untuk
cari kerja.

>dari sudut pandang kacamata yang lepas dari apapun. Kalau kita menulis
>10+7=1, bisa dimarahin sekampung :)) Tetapi bagi yang menemukan
maknanya,
>bisa jadi mereka mengangguk :)

lepas dari apapun? Lalu bagaimana cara kita menilai?
mungkin mas syah bisa menjelaskan.
Kalau lepas dari apapun, berarti aborsi tidak salah, pembunuhan tidak
salah, kan tidak ada ukurannya, bagaimana bisa dikatakan salah?

>>Bukankah agama sendiri juga menggunakan logika? teori adanya Tuhan

>Tepat sekali ini benar benar suatu argumen yang jelas. Tetapi jangan
>berhenti dipemahaman. Kalau kita percaya Tuhan, bisakah kita menemukan
bukti
>secara logika eksistensi Dzat Allah ? Percayakah kita bahwa Dzat itu

Maha

justru hal inilah mas Syah yang membuat saya berpaling.
Sebagai manusia jelas kita tidak bisa mendefinisikan maupun
membuktikan keberadaan Tuhan.
Jika ada yang mengaku-ngaku kitab dari Tuhan, Nabi utusan Tuhan
mungkin saja benar, anehnya sang kitab ditulis dalam bahasa
manusia, sang nabi juga manusia.

>Wujud ? Bukankah bahwa Maha Wujud berarti Maha Kelihatan ? Kita sering
>mendengar bahwa manusia tidaklah mungkin untuk menemui Tuhan, karena
dia
>tidak bisa dirumuskan dengan kata kata apapun kecuali kata "Allah".
Ajaran
>ini juga benar sebenar benarnya !!! Tetapi setiap manusia harus
membuktikan
>itu terlebih dahulu, secara LOGIKA, yang pasti. Pembuktian inilah yang

akan

membuktikan atau percaya?
membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri
disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal
saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu.
Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.

>membuat takluknya kesombongan atau ego kita terhadap agama ataupun
science.
>Bagaimana cara membuktikannya ? Yakni membaca semua ayat ayat agama dan
>ajaran masing masing, secara perlahan dan hati hati. Disana ada mutiara
>terselubung. Seperti yang ditulis mas Djoko didalam pondasi untuk
memasuki
>tujuh pintu.

mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih
baik kita memandang hidup sebagai tujuan.
Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan?
seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya
kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.

>"ilmu agama adalah ujung ilmu pengetahuan manusia, bagi yang menemukan
>maknanya"

dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada
perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya
lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan
daripada pengalaman.

salam,
BS

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Sjahrazad Alamsjah  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 14 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Sjahrazad Alamsjah" <sjahra...@gfcad.com>
Tanggal: 1998/09/14
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Benny:

>........
>Boleh juga ditutup  :-)
>Tentu saja kalau mas Syah berkehendak demikian, kan saya tidak bisa
>diskusi sama diri sendiri  :-)

Nggak apa apa, kita buka lagi aja dikit :))

>..........
>memang, tapi sebaliknya dalam science semua orang PASTI mencapai
>hal yang sama, seorang ilmuwan nuklir akan menjawab sama bila ditanya
>tentang reaksi fisi/fusi dan jawabannya bisa diyakini benar/salah.
>Sebaliknya dalam agama, tidak bisa, jika sai baba dan Paus berkata
>berlawanan, kita pemeluknya menganggap itu sama. Nah persamaan ini
>dalam science dan agama lain.

Ooops. Yang ini saya kurang sependapat. Karena kebetulan saya juga tertarik
dibidang ilmu pengetahuan, tetapi hanya terbatas kepada yang saya tekuni
yakni arsitektur. Para arsitek boleh jadi mendapat ilmu pengetahuan / teori
teori yang sama diseluruh dunia. Tetapi BELUM TENTU mencapai hasil yang
sama. Setiap orang, yang benar benar menekuni terjun kebidang ilmu
pengetahuan, akan menemukan suatu fase "missing link", bila berbenturan
kepada "sesuatu", yakni pada saat mereka bersentuhan dengan cipta, rasa dan
karsa. Tampaknya ini berlaku untuk semua ilmu mulai dari astronomi,
kedokteran, teknik, art dan sebagainya. Penemu ilmu pengetahuan selalu
berangkat dari tataran cipta, rasa dan karsa, sehingga mereka mampu
membuahkan suatu penemuan atau teori. Dan memang ilmu pengetahuan secara
umum sering menyebutkan secara sederhana "hey, I got an idea.." Ide tiba
tiba muncul, selalu berawal disetiap penemuan ilmu pengetahuan ! Tapi kalau
mau benar benar direnungkan, apa sih sebenarnya rumusan atau definisi
konkrit ide itu ?

Bagi kita, yang belajar teori memang tinggal mengikuti apa yang ditulis
dibuku :( dan bukankah ini sebenarnya dogma ? Yang kebetulan, dogma ini
untung saja positif. Walaupun ada juga teori yang bisa berdampak negatif
seperti histeria massa, yang dimanfaatkan oleh Hitler. Memang didalam
science ada dasar pengetahuan yang sama, dan ini kalau di agama disebut
tataran syariat ( lapisan gwakang ?). Ini yang menjadi dasar kenapa bagi
saya, apakah agama atau science, akan sama saja terutama dilapisan
syariatnya. Karena hanya berdasar dilapis percaya.

>Saya sendiri merasa berdiri pada sudut pandang yang berbeda dengan mas
>Syah. Tetapi saya juga tahu maksud mas Syah  :-)  dan saya akui memang
>maksud mas Syah ini baik sekali. Hanya sayang sekali saya tidak bisa
>mengikuti. Mungkin mas Syah sendiri bertanya-tanya mengapa tidak bisa?
>Jawabannya sebenarnya mudah sekali, kerena kehidupan sehari hari saya
>diekspos pada hal2 ini (science).

Lho sudut pandang malah jangan sama terus. Yang penting kita harus mencoba
untuk melihat sebanyak mungkin sudut pandang. Bayangkan naik balon gas terus
keatas [ anggap aja bisa sampai kebulan ], sehingga kita bisa membuktikan
dengan mata kepala bahwa bumi ini memang benar bulat, bukan lagi "katanya",
atau menurut "buku anu" atau kata pak anu :)) Kalau buat saya, berbeda sudut
pandang malah positif.

>...
>Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus
>mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada
>hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari,
>karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah
>anugerah, bukan cobaan.

Banyak jalan menuju Roma. Dalam setiap tulisan, saya selalu menggandengkan
kata kata "agama dan ajaran". Perenung Arif biasanya mendapat pencerahan
dirinya sendiri dari pengalaman batinnya, dan menuangkan itu sebagai ajaran
kepada orang lain sebagai ajaran spiritual. Jadi dalam pencarian memang bisa
saja tanpa harus melalui agama. Tetapi mengingat keterbatasan kemampuan
kita, serta waktu yang tersedia, bukankah lebih baik memilih apa yang sudah
ada ? Walaupun tetap kita berhak sebebas bebasnya menentukannya. Saya malah
punya teori yang paling sederhana, apapun "caranya" selama dilandaskan
kepada NIAT menuju Kebaikan, itu sebenarnya lebih dari cukup. Laku lebih
utama daripada "kata".

>........
>justru hal inilah mas Syah yang membuat saya berpaling.
>Sebagai manusia jelas kita tidak bisa mendefinisikan maupun
>membuktikan keberadaan Tuhan.

Ada dua orang yang berkata yang sama, "saya TIDAK BISA kekota bogor karena
jembatan cimahi ambruk". Yang pertama berkata didepan kali cimahi, sedangkan
yang lain berkata hanya dari jakarta karena mendengar radio. Jadi sebelum
berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak bisa".
Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata orang yang
dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan semu. Hakikat ilmu
batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".

>Jika ada yang mengaku-ngaku kitab dari Tuhan, Nabi utusan Tuhan
>mungkin saja benar, anehnya sang kitab ditulis dalam bahasa
>manusia, sang nabi juga manusia.

Sekedar renungan. Kalau kita mendengar, apakah itu mulut atau suara ? Kalau
kita membaca, apakah itu tinta atau kata ? Kalau kita melihat, apakah itu
benda atau rasa ? Bukankah sebenarnya tidak ada hubungan kita dengan orang
lain, kecuali kita yang menghubung hubungkannya ?

>....
>membuktikan atau percaya?

Yaa, ini kan jelas bedanya, bukti akan menghasilkan yakin. Yakin berbeda
dengan percaya.

>membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri
>disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal
>saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu.
>Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.

Ini betul, kalau ada manusia yang bisa mendefinisikan Tuhan, dengan tegas
saya bisa mengatakan itu adalah takabur, dan jauh dari kebenaran. Dia tidak
berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah.
Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia Tunggal,
Maha Ada.

>mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih
>baik kita memandang hidup sebagai tujuan.
>Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan?
>seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya
>kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.

Kalau ini, saya yang jadi linglung :)) Mungkin saya mau tanya balik, kalau
hidup jadi tujuan, tujuannya itu apa yaa ?

>dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada
>perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya
>lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan
>daripada pengalaman.

>salam,
>BS

Lebih baik jangan terkecoh oleh kata orang, buku atau apapun. Semua
tergantung kepada kita sendiri mutlak. Kita bisa membuat bingung diri
sendiri, atau bisa pula membuat jernih. Ada baiknya kembali kepada hal hal
dasar kehidupan, yaitu berupaya dalam laku sehari hari berbuat baik dan
jujur terhadap diri sendiri. Ini bukan teori budi pekerti, tetapi justru
hakiki agama itu sendiri. Dan bila seandainya itu dijalankan, tanpa
pengetahuan secuilpun ayat ayat, sepertinya itu lebih dari cukup. PC dengan
Windows98 dan MsWords toh hanya alat untuk menuangkan pemikiran. Pinsil dan
kertas juga berfungsi sama, bahkan bila tidak yaa cukup berbicara, atau bisa
cukup dibatin..

wass,
Sjahrazad Alamsjah


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 16 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/16
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika

Mas Syah:

>Ooops. Yang ini saya kurang sependapat. Karena kebetulan saya juga

tertarik
..

>Bagi kita, yang belajar teori memang tinggal mengikuti apa yang ditulis
>dibuku :( dan bukankah ini sebenarnya dogma ? Yang kebetulan, dogma ini

benar, hanya saja dogma ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Kecuali dogma2 scientific seperti teorinya Hawking.

>untung saja positif. Walaupun ada juga teori yang bisa berdampak
negatif
>seperti histeria massa, yang dimanfaatkan oleh Hitler. Memang didalam
>science ada dasar pengetahuan yang sama, dan ini kalau di agama disebut
>tataran syariat ( lapisan gwakang ?). Ini yang menjadi dasar kenapa
bagi
>saya, apakah agama atau science, akan sama saja terutama dilapisan
>syariatnya. Karena hanya berdasar dilapis percaya.

dalam science kita percaya karena bukti2 konkrit/fakta, misal percobaan
tentang sel -> mikroskop. Kita akan percaya karena adanya
bukti2 konkret, tentu saja ini dengan mengesampingkan fakta bahwa
ada kemungkinan fakta2 itu merupakan rekayasa, dan bila ini betul
berarti seluruh hidup kita adalah rekayasa yang tidak ada artinya.

Dalam agama, kita percaya pada lapisan bawah sadar kita/psychology.
Ada satu kasus seorang imam muda (kebetulan Katholik) yang mengabdikan
hidupnya kepada Kristus, suatu hari seluruh keluarganya yang berada
dalam satu mobil mengalami kecelakaan, semuanya tewas. Sang imam
merasa kecewa, ditinggalkan Tuhan, stress dan frustasi, puncaknya
ia berteriak-teriak menghujat Allah, akhirnya seorang imam yang lebih
senior membawanya ke depan altar, dipersilakannya imam muda merusak
altar itu (di altar ada simbol Kristus, saya lupa namanya). "Kristus
tidak akan melawan." dan dia pun bersimpuh, takluk, ia tidak kuasa.
Kasus lain, pembakaran gereja karena vandalism, tanpa suatu sebab
apapun sekelompok anak muda mengobrak-abrik gereja dan membakarnya.
Bisa disimpulkan ini adalah efek buruk dari kehidupan sosial sekarang
frustasi, stress, perasaan terbuang yang berpuncak pada anti kemapanan.

Kita bandingkan dua kasus di atas, yang satu stress dan memiliki
pegangan, yang lainnya stress dan memilih pelampiasan. Keduanya sama2
berada pada tataran kejiwaan. Di sinilah saya melihat iman sebagai
sebuah syarat penyerahan mutlak yang mana tidak bisa diterima orang
lain.

Jadi bisa dilihat di sini, agama berada pada tataran kejiwaan di mana
perubahan sangat sulit dilakukan, sebaliknya science ada pada tataran
sadar, mudah berubah. Jadi wajar bila agama sendiri berubah pelan2
sedangkan sains berubah/maju secara drastis.
Memang keduanya berbasis kepada kepercayaan, tetapi berbeda lapisan
psychology.

>>...
>>Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus
>>mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada
>>hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari,
>>karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah
>>anugerah, bukan cobaan.

>Banyak jalan menuju Roma. Dalam setiap tulisan, saya selalu
menggandengkan
>kata kata "agama dan ajaran". Perenung Arif biasanya mendapat

pencerahan

dalam Pantheisme, kita ini sudah berada di Roma.  :-)
kalau dicari jalan ke Roma ya tidak bakal ketemu, wong kita ini
sudah ada di Roma kok.

..

>kepada NIAT menuju Kebaikan, itu sebenarnya lebih dari cukup. Laku
lebih
>utama daripada "kata".

setuju sekali, hanya saja orang2 cenderung melihat "kata" sebagai
sebuah kebenaran. Padahal kenyataannya kata sangat mudah untuk
dimanipulasi.

..

>berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak
bisa".
>Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata orang
yang
>dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan semu. Hakikat
ilmu
>batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".

justru inilah yang sering menjadi pitfall, jurang bagi mereka yang
mencari-cari arti hidup.
Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan!
Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini.
Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu
mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya.
kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan.
Seharusnya ungkapan ini sudah cukup menjadi cermin bagi kita untuk
tidak lagi mengungkit ungkit masalah keTuhanan. Kenyataanya, banyak
orang berkata "Kehendak Tuhan", "Allah bersabda". Mereka berargumen
perkataan itu dibawa oleh nabi, lho lalu nabi itu apa, manusia atau
bukan?
Kita tarik saja analogi (yang mungkin kurang cocok).
Bisakah kita mengajari seekor semut untuk menggunakan komputer?
tentu saja tidak, kenapa kerena kita memang berbeda dengan semut.
Nah jika kita sebagai semut dan Tuhan manusia, apa yang kita lakukan.
Bagi saya: ya sudah pasrah saja, kita tidak tahu rahasia alam setelah
kematian. Diterima saja hidup ini apa adanya, susah, senang, sakit,
gembira, sedih, bahagia, nikmat. Lalu orang akan berpendapat: berarti
tidak ada bedanya kita dengan binatang, bisanya cuma menerima saja.
Lho kalau dilihat kita ini sebenarnya binatang juga, bedanya bisa
berkomunikasi (lumba lumba juga bisa). Dengan teknologi lebih maju,
pemikiran2 njlimet, dlsb. Hal lain, makan, minum, tidur... sama seperti
binatang, nothing more, nothing less. Jika serigala melolong
di bawah sinar rembulan, sering juga kita tersenyum saat menikmati
keindahan alam. Anda lihat perbedaannya? Yang saya tahu adalah. Sang
serigala menerima apa adanya dia, sedangkan manusia tidak, selalu
berusaha maju berusaha mencari. Memang hampir semua hal bisa dicapai
secara fisik. sebuah contoh dahulu Icarus tidak bisa terbang, lalu
Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Semua hal ini bisa
dicapai, tapi menjelaskan Tuhan, mencapai Tuhan? bisakah kita...?

..

>>membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri
>>disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal
>>saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu.
>>Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.

>Ini betul, kalau ada manusia yang bisa mendefinisikan Tuhan, dengan
tegas
>saya bisa mengatakan itu adalah takabur, dan jauh dari kebenaran. Dia
tidak
>berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak
ber-arah.
>Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia
Tunggal,
>Maha Ada.

nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja.
bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll
bisa bersabda? yang dalam bahasa manusia?

>>mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih
>>baik kita memandang hidup sebagai tujuan.
>>Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan?
>>seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya
>>kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.

>Kalau ini, saya yang jadi linglung :)) Mungkin saya mau tanya balik,
kalau
>hidup jadi tujuan, tujuannya itu apa yaa ?

ya hidup sendiri itu tujuannya   :-)
bingung ya? Saya juga   :-)
Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan
menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab.

Menanyakan hidup sama saja menanyakan kematian, lahir-dewasa-mati.
Big bang-ekspansi-menyusut. Semuanya adalah siklus, mengapakah kita
harus mengalami siklus, perputaran tiada henti (mungkin ini yang
dimaksud dengan Tao). Tidak bisakah kita "diam" seluruh alam semesta
ini "diam". Diam, coba anda bayangkan sebuah mahkota gemerlapan
bertahtakan intan, mengapakah itu berarti? karena kita berpikir
demikian, karena kita memberinya arti, tanpa kita mahkota itu tidaklah
berarti. Mengapakah Yesus dan Muhammad menjadi nabi, teladan kita?
tanpa kita tidak berartilah mereka.
Arti, makna, inilah yang terpenting bagi saya. Tanpa adanya siklus
ini, hidup kita menjadi tidak berarti, kekosongan - inikah yang kita
inginkan? Tanpa adanya kematian, hidup tak berharga lagi, tidak akan
ada pula kelahiran, tidak akan ada pula si mungil.
Lalu mengapakah kita menghindari kematian? sebuah kotradiksi...
kita menghindari sesuatu yang memberi kita arti hidup.
bukan pula berarti kita harus bunuh diri   :-)
Sekte2 yang melakukan bunuh diri kemungkinan juga berawal dari
pemikiran2 njlimet seperti ini...
Sampai di sini saya tidak bisa menjelaskan lagi...
Silakan dicari sendiri2 :-)

>>dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada
>>perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya
>>lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan
>>daripada pengalaman.

..
>dasar kehidupan, yaitu berupaya dalam laku sehari hari berbuat baik dan
>jujur terhadap diri sendiri. Ini bukan teori budi pekerti, tetapi
justru
>hakiki agama itu sendiri. Dan bila seandainya itu dijalankan, tanpa
>pengetahuan secuilpun ayat ayat, sepertinya itu lebih dari cukup. PC

dengan

jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan
konkret

salam,
BS

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Adhi Wibowo  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 16 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: Adhi Wibowo <Ad...@pptm.dpe.go.id>
Tanggal: 1998/09/16
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Assalamu'alaikum
Mas Sjah dan mas Benny,
Tampaknya kok asyik berdiskusi ya, saya ikutan dong.

Mas Benny:

> dalam science kita percaya karena bukti2 konkrit/fakta, misal
> percobaan
> tentang sel -> mikroskop. Kita akan percaya karena adanya
        ...
> berada pada tataran kejiwaan. Di sinilah saya melihat iman sebagai
> sebuah syarat penyerahan mutlak yang mana tidak bisa diterima orang
> lain.

Pak Suhu Hud [Sekilas tentang kiamat (2)] :
        Bidang lingkup kesadaran bukan diteliti dengan teknologi,
melainkan       dengan  metodologi mistik.
        Kebenaran religius berada pada tataran lain dari kebenaran
sains.

Kalau kita belajar main bola, yang pertama diajari adalah nendang bola.
Setelah bisa nendang bola, baru belajar aturan-aturan main bola.
Kalau kita belajar agama, yang pertama harus tahu adalah syariatnya
(kalau Islam harus tahu syahadat, tahu sholat dsb). Setelah itu, mengapa
harus sholat dsb, adalah tataran yang lain spt dimaksud pak Hud tsb.
Malah ada yang bilang, tidak usah pakai 'akal' untuk memahaminya.

Secara ilmiah, gelombang otak manusia terbagi menjadi 3 domain, yaitu
domain getaran 0-6 Hz, 7-12 Hz, dan 12-15 Hz (masing-masing domain ada
namanya, angka persisnya saya lupa, yang jelas domain ke-2 yang penting
untuk dikuasai). Getaran 0-6 adalah gelombang otak pada saat manusia
dlm keadaan tidur, sedangkan 12-15 adalah dalam keadaan otak manusia
sedang 'berpikir/melakukan aktifitas'. Jadi gelombang 7-12 adalah
gelombang
manusia dlm keadaan 'setengah tidur-setengah sadar' (umum dikenal sbg
gelombang alpha). Di sinilah yang disebut pak Hud sbg 'metodologi
mistik',
sulit untuk dibuktikan, dan hanya dapat dipahami setelah dialami
sendiri.
Oleh karena itu istilahnya adalah tidak usah pakai 'akal'. Yang pas
mungkin
adalah tidak usah pakai 'proses berpikir' (apa ya bedanya dengan akal
?).

Mas Syah:

> >berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak

> bisa". Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata
> orang yang dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan
> semu. Hakikat ilmu
> >batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".

Mas Benny:
> Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan!
> Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini.
> Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu
> mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya.
> kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan.

Bagaimana kalau yang terjadi adalah yang sebaliknya, yaitu Tuhan yang
memberi jalan, membuka jalan bagi 'manusa terpilih' untuk mencapaiNya ?
Jawabannya adalah JELAS BISA. Apa benar demikian ? Tanyakan kepada
para nabi/rasul sbg manusia yang jelas telah terpilih :-)).

Mas Sjah:

> Dia tidak berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat;
> tidak
> ber-arah.
> Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia
> Tunggal, Maha Ada.

Darimana perbendaharaan kata-kata ini ? Yang jelas ya dari nabi, dari
kitab.
Dari mana nabi tahu ? Ya yg tadi itu jawabannya, memang Tuhan yang
memberi tahu. Adakah penjelasan lain yang masuk logika, pak Suhu ?
[barangkali bu Lia Aminuddin tahu jawabannya dari Jibril :-)) ].

Mas Benny:

> jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
> sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang ...

Yang ini jelas saya tidak sependapat. Bukankah di atas sudah dikatakan
oleh mas Sjah bahwa semuanya harus ditemukan dan dibuktikan, baru
kemudian timbul keyakinan ?
Menurut pak Suhu Hud:
'Kitab suci adalah buku _inspirasi_, yang memberi jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan terdalam di bidang moral dan spiritual _bagi
penganutnya_.' [Sekilas tentang kiamat (2)]

Ayat-ayat di dalam kitab dapat bermakna macam-macam, salah satunya
adalah makna tata kehidupan bermasyarakat (dalam istilah Islam adalah
hablum minnanash). Contoh: umat Islam diwajibkan berzakat. Coba saja
kita tidak berzakat, kemudian amati dalam waktu berikutnya (misal dalam
waktu 1 bulan), berapakah pengeluaran kita ? Saya yakin bahwa
pengeluaran
itu akan lebih besar dari zakat yang seharusnya kita bayarkan. Artinya,
kita dihukum dengan 'ganjaran' pengeluaran yang lebih besar. Coba lagi,
kita tak usah sholat 5 waktu. Apa yang terjadi ? Saya tidak tahu,
silahkan
amati sendiri (kalau saya, yang jelas, hati/pikiran jadi tidak tenang.
Sangat
jelas jauh lebih bagus kalau saya sholat). Ayat-ayat di kitab itu sudah
menjelaskan akibat dan manfaatnya buat kita. Nah, kalau tidak sesuai
dengan ayat-ayat tersebut, berarti hanya ada 2 hal :
1) Ayat itu tidak benar alias bohong (how dare you by saying that...!?)
2) Kita yang tidak benar (ini yang lebih bisa diterima). Bukankah kita
serba
kekurangan, serba terbatas ?

Jadi memang betul (mas Benny) : Silakan dicari sendiri2.
Banyak jalan ke Roma, katanya.

Wallahu alam bishsawab
Wassalam
AdhiW

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Sjahrazad Alamsjah  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 16 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Sjahrazad Alamsjah" <sjahra...@gfcad.com>
Tanggal: 1998/09/16
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Benny:

>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja.
>....___________
>ya hidup sendiri itu tujuannya   :-)
>bingung ya? Saya juga   :-)
>Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan
>menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab.
>...._________
>jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
>sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan
>konkret

Saya melihat kecenderungan mas Benny yang penuh dendam terhadap ajaran
ajaran agama :). Disini konteks yang perlu direnungkan. Bila seseorang
memutuskan untuk mengikuti sesuatu faham (agama, ajaran, science dsb.nya),
sebaiknya dia melepaskan diri dari dendam terhadap hal hal lain. Juga
berlaku bila orang memutuskan untuk memilih suatu agama, dia juga harus
melepaskan rasa protes terhadap agama lain. Seseorang memilih pilihan harus
lebih kepada dasar bahwa apa yang dia pilih itu mampu untuk ditelusurinya
lebih dalam.

Selain itu didalam berdialog kita harus membuang kecurigaan bahwa lawan
dialog itu ingin merubah pandangan kita. Sehingga kita terbebas untuk selalu
defensif. Walaupun banyak memang orang yang melakukan dialog yang mempunyai
niat lain, apakah untuk mengajak masuk seseorang kekeyakinannya, atau
mencari kepuasan tertentu dalam mengemukakan pandangannya. Jadi dalam
konteks dialog kita, saya sebenarnya menunjang sepenuhnya pilihan mas Benny
kepada pantheisme. Hanya saja sebaiknya pandangan itu dipilih bukan karena
dasar dendam terhadap ajaran agama. Selama masih berdasar itu, suatu dialog
akan berputar putar tanpa arah dan makna.

Berbeda dengan science yang bisa kita tulis dengan buku dari hasil teori
penemuan seseorang. Sayangnya masalah spiritual tidak semuanya bisa ditulis,
sehingga memuaskan pembacanya. Apa boleh buat hal ini memang sudah seperti
itu. Karena lebih erat kepada suatu makam perjalan ruhani seseorang.

Bahasa ayat didalam agama dibagi dua kategori yaitu bahasa muhkamat, bisa
dimengerti langsung dengan membaca, dan mukasyafah; bisa dimengerti sesuai
makam perjalanan ruhani.

Pengalaman batin bila dituliskan hanya akan membuat orang semakin bingung
terhadap makna sebenarnya.

>>.......Dia  tidak
>>berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah.
>>Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia  Tunggal,
>>Maha Ada.
>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja.
>bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll bisa
>bersabda? yang dalam bahasa manusia?

Ini sebaiknya lebih direnungkan lagi. Apa yang disebut bahasa manusia ?
Apakah ini bisa didefinisikan ? Bukankah bahasa manusia akan berkembang
sejalan alam pikiran manusianya ? Bukankah alam pemikiran manusia (makam
perjalanan ruhani) itu berlapis lapis ?

Nah hal ini mudah bila ingin dijelaskan dalam bahasa sederhana. Bila anda
memutuskan tidak bisa mengenal Tuhan, pasti anda tidak akan bisa mengenalnya
sampai kapanpun. Bila anda memutuskan bisa mengenal Tuhan maka mudah mudahan
atas karuniaNya hal ini pasti bisa terjadi. Jadi sebenarnya sederhana,
berpulang kepada putusan kita sendiri.

wass,
Sjahrazad Alamsjah


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Krishna  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 16 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: Krishna <x...@cbn.net.id>
Tanggal: 1998/09/16
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas benny setiawan :
>Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Semua hal ini bisa
>dicapai, tapi menjelaskan Tuhan, mencapai Tuhan? bisakah kita...?

-------------------
mau ikutan ya? :)
mencapai/menemukan Tuhan rasanya bisa..
tapi kalo menjelaskan (secara penuh) jelas tidak bisa..

>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja.
>bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll
>bisa bersabda? yang dalam bahasa manusia?

----------------------
tapi kalo "Sabda2 Allah" itu ditiadakan, bagaimana kita tau tentang Allah?
bagaimana cara kita mengetahui Allah ada dimana2, tidak ada yang nyata
kecuali Allah, dan lain sebagainya?
dan bagaimana pula kita bisa ber-iman (kepada apa/siapa?)?

>jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
>sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan
>konkret

--------
ayat2 menurut saya perlu (sebagai pengenalan, sebagai awal
perjalanan)..yang tidak diperlukan adalah pikiran/pandangan yang membuat
makna ayat2 itu menjadi bersifat statis (tidak berkembang)..atau
menjadikannya sebagai dogma dll..

kalo dibilang kita tidak perlu ayat2 itu, berarti bisa pula dibilang kita
sebenarnya tidak perlu pengetahuan tentang apa itu matahari, bumi, dll..
karena ada yang bisa menjalani kehidupan tanpa mengetahui semuanya itu..
(apa kita perlu tau mengenai matahari untuk bisa merasakan kehangatan
sinarnya? atau apa kita perlu pengetahuan itu untuk bisa hidup, ataukah
kita perlu hidup untuk mengetahui pengetahuan itu? :D)

salam,
xna

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 17 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/17
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika

mas Adhi:

>Assalamu'alaikum
>Mas Sjah dan mas Benny,
>Tampaknya kok asyik berdiskusi ya, saya ikutan dong.

wah ada satu lagi yang ikut, semakin seru rasanya   :-)

..

>Setelah bisa nendang bola, baru belajar aturan-aturan main bola.
>Kalau kita belajar agama, yang pertama harus tahu adalah syariatnya
>(kalau Islam harus tahu syahadat, tahu sholat dsb). Setelah itu,
mengapa
>harus sholat dsb, adalah tataran yang lain spt dimaksud pak Hud tsb.
>Malah ada yang bilang, tidak usah pakai 'akal' untuk memahaminya.

kalau boleh saya menambahkan, diskusi ini berawal dari diskusi agama
dan sains, kalau benar seperti yang anda ungkapkan, belajar agama
tidak usah pakai akal berarti sama saja agama bertentangan dengan
sains. Nah pertanyaannya, di era di mana sains berkembang cepat, semua
bergantung kepada logika-sistem, apakah agama tidak akan tergilas?

>Secara ilmiah, gelombang otak manusia terbagi menjadi 3 domain, yaitu
>domain getaran 0-6 Hz, 7-12 Hz, dan 12-15 Hz (masing-masing domain ada
..
>sulit untuk dibuktikan, dan hanya dapat dipahami setelah dialami
>sendiri.

kalau memang tidak dapat dipahami, apa gunanya meriset gelombang2 itu?

>Oleh karena itu istilahnya adalah tidak usah pakai 'akal'. Yang pas
>mungkin
>adalah tidak usah pakai 'proses berpikir' (apa ya bedanya dengan akal
>?).

mas Adhi mungkin kurang menyadari, dengan mambaca kitab suci itu mau
tidak mau kita sudah menggunakan akal. Jadi kalau memang bener2 tidak
usah pakai akal, jangan lihat kitab suci.
Kalau itu yang mas Adhi maksud, rasanya saya sependapat.

>Mas Benny:
>> Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan!
>> Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini.
>> Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu
>> mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya.
>> kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan.

>Bagaimana kalau yang terjadi adalah yang sebaliknya, yaitu Tuhan yang
>memberi jalan, membuka jalan bagi 'manusa terpilih' untuk mencapaiNya ?

lho, katanya Tuhan maha besar, manusia maha kecil, kalau manusia bisa
tahu kehendak Tuhan, apakah "Tuhan" itu masih maha besar?
dan juga konsep "manusia terpilih" jelas tidak bisa diterima, ini adalah
konsep diskriminasi, tidak ada manusia satupun yang lebih
baik dari yang lain (ini menurut saya lho). Kalau ada seorang yang
saleh, eh ternyata menderita Kleptomania (suka mencuri) apa dia lalu
tidak terpilih? padahal yang membuatnya begitu kan "Tuhan" juga
Jelas Tuhan tidak bisa didefinisikan dan digambarkan dengan kata2

>Jawabannya adalah JELAS BISA. Apa benar demikian ? Tanyakan kepada
>para nabi/rasul sbg manusia yang jelas telah terpilih :-)).

bagaimana kalau nabinya bohong?   :-)
Memang Muhammad dan Isa sudah teruji, bagaimana nabi2 lain?
masih ingat kasus Heaven Gate? David Koresh?
jalan terbaik: carilah sendiri

>Mas Sjah:
>> Dia tidak berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat;
>> tidak
>> ber-arah.
>> Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia
>> Tunggal, Maha Ada.

>Darimana perbendaharaan kata-kata ini ? Yang jelas ya dari nabi, dari
>kitab.
>Dari mana nabi tahu ? Ya yg tadi itu jawabannya, memang Tuhan yang
>memberi tahu. Adakah penjelasan lain yang masuk logika, pak Suhu ?
>[barangkali bu Lia Aminuddin tahu jawabannya dari Jibril :-)) ].

mas Adhi, coba anda bisikkan suatu kata ke telinga teman anda, lalu
teman anda itu membisikkan kata itu kepada temannya, dan seterusnya.
Apakah ada jaminan bisikan anda itu akan tepat seperti bisikan awal?
Kalau memang apa yang diajarkan nabi2 itu tidak berubah, saya rasa tidak
akan pernah ada pertentangan antar agama, penyalah gunaan agama untuk
politik, dlsb.

>> jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
>> sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang ...

>Yang ini jelas saya tidak sependapat. Bukankah di atas sudah dikatakan
>oleh mas Sjah bahwa semuanya harus ditemukan dan dibuktikan, baru
>kemudian timbul keyakinan ?

wah, saya senang sekali jika anda bisa membantu saya membuktikan Tuhan
:-)
bagaimana kita bisa membuktikan sesuatu yang abstract, tadi anda sendiri
menulis, jangan pakai akal. Bagaimana membuktikan sesuatu yang
tidak bisa dijangkau akal?

>Menurut pak Suhu Hud:
>'Kitab suci adalah buku _inspirasi_, yang memberi jawaban terhadap
>pertanyaan-pertanyaan terdalam di bidang moral dan spiritual _bagi
>penganutnya_.' [Sekilas tentang kiamat (2)]

betul, buku inspirasi, bukan buku kemutlakan
inspirasi sendiri bisa diinterpretasikan berbeda beda

>Ayat-ayat di dalam kitab dapat bermakna macam-macam, salah satunya
>adalah makna tata kehidupan bermasyarakat (dalam istilah Islam adalah
>hablum minnanash). Contoh: umat Islam diwajibkan berzakat. Coba saja
>kita tidak berzakat, kemudian amati dalam waktu berikutnya (misal dalam

kalau itu dirasa baik ya dilakukan, kalau tidak ya tidak perlu.

>waktu 1 bulan), berapakah pengeluaran kita ? Saya yakin bahwa
>pengeluaran
>itu akan lebih besar dari zakat yang seharusnya kita bayarkan. Artinya,
>kita dihukum dengan 'ganjaran' pengeluaran yang lebih besar. Coba

..

bagaimana dengan umat lain, yang tidak memiliki peraturan ini?
apakah mereka akan "dihukum" juga?

>kita tak usah sholat 5 waktu. Apa yang terjadi ? Saya tidak tahu,
>silahkan
>amati sendiri (kalau saya, yang jelas, hati/pikiran jadi tidak tenang.

Bisa jadi ini hanyalah fenomena psikologi.

>Sangat
>jelas jauh lebih bagus kalau saya sholat). Ayat-ayat di kitab itu sudah
>menjelaskan akibat dan manfaatnya buat kita. Nah, kalau tidak sesuai
>dengan ayat-ayat tersebut, berarti hanya ada 2 hal :
>1) Ayat itu tidak benar alias bohong (how dare you by saying that...!?)

saya tidak menatakan ayat itu salah   :-)
namun juga tidak mudah menafsirkan
bukankah tafsir itu berbahaya mas Adhi?

>2) Kita yang tidak benar (ini yang lebih bisa diterima). Bukankah kita
>serba
>kekurangan, serba terbatas ?

benar, tetapi kenyataannya kita meninggikan diri kepada makhluk2 lain
bukankah ini kontradiksi.
Coba lihat, kita merendah2 di hadapan Tuhan, di hadapan binatang dan
alam kita jumawa...  inikah manusia?
inikah yang diinginkan Tuhan?   nobody knows

salam,
BS

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 17 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/17
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Syah:

>Mas Benny:

>>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja.
>>....___________
>>ya hidup sendiri itu tujuannya   :-)
>>bingung ya? Saya juga   :-)
>>Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan
>>menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab.
>>...._________
>>jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-)
>>sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan
>>konkret

mas syah, lain kali kalau meng-quote harap jangan sampai mengubah
arti, kalau diambil sepotong begini jadi lain rasanya.   :-)
Saya masih ingat, saya menulis begitu karena menanggapi tulisan mas
Syah.

>Saya melihat kecenderungan mas Benny yang penuh dendam terhadap ajaran
>ajaran agama :). Disini konteks yang perlu direnungkan. Bila seseorang

wah mas Syah, kalau memang saya dendam kepada agama? buat apa saya
menaruh bible di atas monitor saya? Buat apa saya menyimpan gambar
Bunda Maria di kamar saya?   :-)
Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan
digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka
bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini
mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.

Saya memang tidak pernah menulis tentang ayat2, mncoba membahas ayat2.
Bukan berarti saya tidak pernah membaca/benci, ini lebih dikarenakan
semua ini ditujukan kepada pribadi, bukan kepada orang lain. Menurut
saya agama ada di hati pemeluknya, bukan di tangan mereka2 yang
berkuasa.
Jadi bebaskan saja orang2 menafsirkan kitab suci, jangan diberi
batasan2/patokan2. Jika memang kitab suci adalah jalan dan petunjuk
menuju kebenaran, tidak mungkin ia menjerumuskan orang. Oleh karena itu
janganlah kita merasa diri benar dan menafsirkan di hadapan orang lain,
itu akan menjadi bumerang bagi kita.

..

>Selain itu didalam berdialog kita harus membuang kecurigaan bahwa lawan
>dialog itu ingin merubah pandangan kita. Sehingga kita terbebas untuk
selalu
>defensif. Walaupun banyak memang orang yang melakukan dialog yang
mempunyai
>niat lain, apakah untuk mengajak masuk seseorang kekeyakinannya, atau
>mencari kepuasan tertentu dalam mengemukakan pandangannya. Jadi dalam

memang betul adanya...

>konteks dialog kita, saya sebenarnya menunjang sepenuhnya pilihan mas
Benny
>kepada pantheisme. Hanya saja sebaiknya pandangan itu dipilih bukan

karena

mas Syah, sebenarnya dikatakan Pantheisme juga tidak, sebab saya sendiri
sekarang tidak mau terikat dengan satu agama/keyakinan, saya lebih
cenderung free-thinker, tidak ada patokan, satu2nya patokan saya
hanyalah pengalaman hidup. Pantheisme sendiri masih memiliki kelemahan2,
di antaranya kurang bisa menjelaskan mengapa kita berbeda
jika kita memang satu (bhinneka tunggal ika ya?   :-)

..

mudahan

bukan saya tidak "kepingin" ketemu Tuhan mas Syah   :-)
hanya saja sekarang belum waktunya, nanti kalau sudah meninggal semuanya
akan dibuka.
Ini tidak termasuk bunuh diri lho, bunuh diri tidak akan membawa kita
kepada Tuhan.
Menurut saya kalau belum waktunya ya tidak akan bisa.
Yang bisa kita lakukan: mempersiapkan diri sehingga waktu kita menghadap
Tuhan nanti keadaan kita tidak memalukan  :-)

salam,
BS

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Adhi Wibowo  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 18 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: Adhi Wibowo <Ad...@pptm.dpe.go.id>
Tanggal: 1998/09/18
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Assalamu'alaikum
Mas BS,

> Nah pertanyaannya, di era di mana sains berkembang cepat, semua
> bergantung kepada logika-sistem, apakah agama tidak akan tergilas?

Bukankah pak Suhu Hud sudah bilang bahwa agama dan sains berada
tataran yang berbeda ? Spt misal minyak dan air, bukankah tidak bisa
saling bercampur ? Masing-masing ada kegunaannya sendiri2. Siapa
yang perlu minyak, silahkan ambil, yang perlu air ya ambil sendiri.

> kalau memang tidak dapat dipahami, apa gunanya meriset gelombang2 itu?

Banyak manfaatnya tentu saja riset2 tsb. Ahli spiritual healer (dengan
prana, dengan tenaga dalam dsb) saya kira mereka menggunakan domain
gelombang alpha ketika sedang healing process. Pak Suhu kita mestinya
juga ahli dlm bidang ini, apa lagi backgroundnya medis.

> dengan mambaca kitab suci itu mau
> tidak mau kita sudah menggunakan akal. Jadi kalau memang bener2 tidak
> usah pakai akal, jangan lihat kitab suci.

Membaca bukankah sudah termasuk 'kegiatan/proses berfikir' ? Sudah
jelas termasuk domain ke-3 (di atas 12 Hz). Apakah memahami agama
hanya cukup dengan membaca kitab ?

> lho, katanya Tuhan maha besar, manusia maha kecil, kalau manusia bisa
> tahu kehendak Tuhan, apakah "Tuhan" itu masih maha besar?
> dan juga konsep "manusia terpilih" jelas tidak bisa diterima, ini
> adalah
> konsep diskriminasi, tidak ada manusia satupun yang lebih
> baik dari yang lain (ini menurut saya lho).

> bagaimana kalau nabinya bohong?   :-)
> Memang Muhammad dan Isa sudah teruji, bagaimana nabi2 lain?

Mas BS, anda bertanya, anda sendiri sudah tahu jawabannya. Bukankah
dengan demikian anda sendiri sudah mengiyakan, bahwa Muhammad
dan Isa adalah 'manusia terpilih' dan sudah teruji ?

> mas Adhi, coba anda bisikkan suatu kata ke telinga teman anda, lalu
> teman anda itu membisikkan kata itu kepada temannya, dan seterusnya.
> Apakah ada jaminan bisikan anda itu akan tepat seperti bisikan awal?
> Kalau memang apa yang diajarkan nabi2 itu tidak berubah, saya rasa
> tidak

Yang berubah kan yang menyampaikan (teman ke-2 dst) ? Apakah dengan
demikian bisa dikatakan bahwa sumber awalnya yang salah ?

> bagaimana kita bisa membuktikan sesuatu yang abstract, tadi anda
> sendiri
> menulis, jangan pakai akal. Bagaimana membuktikan sesuatu yang
> tidak bisa dijangkau akal?

Wah, mas BS, saya juga tidak tahu caranya. Hanya yang jelas, kalau
mau mempelajari sesuatu, bukankah lebih baik kalau kita tahu referensi
mengenai sesuatu itu. Jadi kalau mau belajar yang abstrak, ya cari tahu
dulu referensi yang abstrak itu. Itulah yang harus dicari. Kalau tidak
dicari, atau belajar tanpa referensi, ya jadi salah. Mau belajar bikin
telur
goreng, maksudnya adalah telor mata sapi. Tapi yang dibuat adalah
omelet (sama-sama telor goreng), ya jadi salah dong. Dan yang paling
penting ya dibuktikan itu alias dicoba sendiri, bahwa kalau mau bikin
omelet harus dikocok dulu, kalau tidak dikocok ya jadinya telor mata
sapi. Jadi sudah haqul yakin, melihat dengan mata kepala sendiri,
membuktikan, merasakan dan bukan kata orang lagi.

Ada yang bilang, Tuhan itu lebih dekat daripada urat leher kita sendiri.
Kalau kita tidak tahu 'urat leher' yang mana, mana bisa ketemu walaupun
jaraknya dekat. Saya mau ke rumah pak Suhu Hud, mana bisa ketemu
kalau tidak tahu alamatnya.

Wassalam,
AdhiW

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Tirta D. Arief  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 18 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Tirta D. Arief" <ti...@peter.petra.ac.id>
Tanggal: 1998/09/18
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Maaf, boleh ikutan nimbrung 'kan? Abis menarik sih.....

On Fri, 18 Sep 1998, Sjahrazad Alamsjah wrote:

> >....
> >Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan
> >digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka
> >bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini
> >mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.

> Ya, saya setuju dengan hal ini. Juga ada baiknya kita sendiri melepas diri
> dari prejudice terhadap perkataan orang lain. Yang sesuai diambil yang tidak
> dilewatkan, tanpa perlu berfikir apakah orang lain penuh dengan kesombongan
> atau keakuan yang kental.

Agama yang kita yakini bukanlah untuk disimpan sendiri atau di "paksa"
kan pada orang lain tapi untuk ditampilkan dalam perilaku kita sehari-hari
secara konsekuen dan konsisten.

Tanpa patokan apa bukan patokan juga? Pengalaman tiap orang adalah unik,
artinya setiap orang memiliki pengalamannya sendiri sehingga impossible
untuk orang lain meyakini apa yang diri kita alami. Atau kita mengikuti
petunjuk seseorang dengan maksud memperoleh pengalaman yang sama karena
awal dari mempraktekkan petunjuk tersebut sudah tidak sama. Kalau science
dilihat dari agama jelas tidak benar, dan sebaliknya tidak nalar. Cobalah
kita melihatnya secara total. Kalau kita membaca apakah hanya mata saja
yang dipakai? Tentu tidak, pikiran, hati, dan seluruh tubuh kita ikut
berperan. Tidak percaya? Cobalah membaca cerita humor dikala sakit gigi,
misalnya, apa bisa tertawa lepas? Memahami totalitas ini akan membawa
kita pada pemahaman dari proses suatu fenomena sehingga mencapai batin
yang "tidak menghakimi" dan lepas dari dualisme ektrim.

Hari ini ada karena hari kemarin. Esok ada karena ada hari ini. Bagaimana
mengharapkan kondisi esok, setelah mati, yang lebih baik kalau kondisi hidup
hari ini tidak lebih baik dari kondisi hidup yang kemarin?

Salam,
Tirta

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Sjahrazad Alamsjah  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 18 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Sjahrazad Alamsjah" <sjahra...@gfcad.com>
Tanggal: 1998/09/18
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Benny:

>mas syah, lain kali kalau meng-quote harap jangan sampai mengubah
>arti, kalau diambil sepotong begini jadi lain rasanya.   :-)
>Saya masih ingat, saya menulis begitu karena menanggapi tulisan mas
>Syah.

Waduh, maaf bukan maksudnya begitu. Ini cuma mau mempersingkat quote, biar
tidak ditegor pak Hud :)

>....
>Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan
>digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka
>bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini
>mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.

Ya, saya setuju dengan hal ini. Juga ada baiknya kita sendiri melepas diri
dari prejudice terhadap perkataan orang lain. Yang sesuai diambil yang tidak
dilewatkan, tanpa perlu berfikir apakah orang lain penuh dengan kesombongan
atau keakuan yang kental.

>mas Syah, sebenarnya dikatakan Pantheisme juga tidak, sebab saya sendiri
>sekarang tidak mau terikat dengan satu agama/keyakinan, saya lebih
>cenderung free-thinker, tidak ada patokan, satu2nya patokan saya
>hanyalah pengalaman hidup. Pantheisme sendiri masih memiliki kelemahan2,
>di antaranya kurang bisa menjelaskan mengapa kita berbeda
>jika kita memang satu (bhinneka tunggal ika ya?   :-)

Dalam konteks ini saya ingin mengajak agar jangan cepat cepat mengambil
kesimpulan. Perlu disadari bahwa "ilmu" apapun judulnya (science, agama
dll), sebenarnya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain.
Pengkotakkan terhadap suatu pemikiran, akan menghambat perkembangan wawasan
pengetahuan kita. Semua hal akan berkaitan dengan pengalaman pribadi dari
seseorang, dimana setiap pengalaman mungkin akan menemukan wawasan yang
berbeda dengan sebelumnya. Terutama yang bersentuhan dengan pengalaman
batin. Ekstrim terhadap salah satu pandangan lebih baik dihindarkan, karena
ini akan merugikan kita sendiri.

>.......
>hanya saja sekarang belum waktunya, nanti kalau sudah meninggal semuanya
>akan dibuka.
>.......

>salam,
>BS

Yang ini mungkin perlu kita renungkan lebih lanjut. Bila benar bahwa semua
hal cukup kita tunggu nanti, saat meninggal, maka mungkin sebagian besar
ayat atau ajaran tidak perlu diberikan atau dibaca saat hidup ini. Cukup
pengetahuan tentang budi pekerti, aturan2 / hukum hukum sosial masyarakat
dan science sebagai bekal hidup. Secara ekstrim dapat dikatakan kita tidak
perlu beragama, bila memang kondisinya seperti itu.

Sepertinya ayat ayat Kitab Suci dan perenung Arif, justru berisi hal hal
yang perlu dicari oleh kita semasa hidup untuk mempersiapkan diri keproses
berikutnya. Memang tidak segera mungkin didapat melalui pengertian harafiah,
dan "ilmu" ini tidak dicakup didalam ilmu pengetahuan budi pekerti, aturan
hukum sosial masyarakat ataupun dalam disiplin ilmu science pada umumnya.

wass,
Sjahrazad Alamsjah

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
benny setiawan  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 18 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "benny setiawan" <moku...@hotmail.com>
Tanggal: 1998/09/18
Perihal: [SP] Nurani dan Logika

______________________________________________________

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Sjahrazad Alamsjah  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 20 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Sjahrazad Alamsjah" <sjahra...@gfcad.com>
Tanggal: 1998/09/20
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika

Mas Tirta:

>Maaf, boleh ikutan nimbrung 'kan? Abis menarik sih.....

Silahkan .. :)

>Agama yang kita yakini bukanlah untuk disimpan sendiri atau di "paksa"
>kan pada orang lain tapi untuk ditampilkan dalam perilaku kita sehari-hari
>secara konsekuen dan konsisten.

Yang utama didalam ajaran adalah bagaimana kita menyiarkannya bagi diri
sendiri, yang berbentuk kedalam laku hidup sehari hari. Ada ajaran yang
menarik untuk disimak: "di akherat ada orang yang merugi, yang menyiarkan
ajaran tanpa amalan, yang mendengar mengamalkan, sedangkan ia hanya
berkata.."

>Hari ini ada karena hari kemarin. Esok ada karena ada hari ini. Bagaimana
>mengharapkan kondisi esok, setelah mati, yang lebih baik kalau kondisi
>hidup hari ini tidak lebih baik dari kondisi hidup yang kemarin?

>Salam,
>Tirta

tambahan:
Yang tadi sudah tidak ada, yang nantipun akan datang. Bukankah yang ada
hanya saat ini ?

wass,
Sjahrazad Alamsjah

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Tirta D. Arief  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 21 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Tirta D. Arief" <ti...@peter.petra.ac.id>
Tanggal: 1998/09/21
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika

Betul! Maksud saya, secara umum, bagaimana mungkin mengharapkan kondisi
sesudah kematian yang lebih baik bila kondisi kehidupan sebelum kematian
tidak lebih baik dari kondisi yang mendahuluinya.

Tapi masalahnya adalah bagaimana melepaskan keterikatan
terhadap masa lalu (tadi) dan keterikatan (akan harapan) di masa
mendatang (nanti). Ada opini?

Salam,
Tirta

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Ari Dwi  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 22 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: Ari Dwi <Ari....@oen.siemens.co.id>
Tanggal: 1998/09/22
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
        21 Sept 98, Tirta wrote:

> Tapi masalahnya adalah bagaimana melepaskan keterikatan
> terhadap masa lalu (tadi) dan keterikatan (akan harapan) di masa
> mendatang (nanti). Ada opini?

> Salam,
> Tirta

        Tentu saja ada mas Tirta,
        Bebas keterikatan terhadap masa lalu dan keterikatan pada masa
mendatang banyak saya jumpai pada ajaran Zen.

        Sang Budha membuat cerita perumpamaan mengenai seseorang yang
dikejar-kejar harimau lalu dia naik keatas tebing dan bergelantungan
pada salah satu akar rambat yang keluar pada tebing tersebut. Cakar
harimau menggapai-gapai dari bawah mulutnya menunggu santapan lezat,
pada saat itu pula dari atas tebing muncul seekor tikus lalu
menggerogoti akar tempat dia bergantung membuat dia semakin ketakutan.
        Tiba-tiba dia melihat sekuntum buah cerri disampingnya dan
seketika itu lenyaplah rasa takutnya lalu dipetiknya buah cerri itu dan
dimakannya. Hmm .....enak..

        Cerita kedua adalah Tan Zan seorang guru Zen dan Bhiksu Ekido
dari Jepang bertemu seorang gadis yang akan menyebrangi kali. Lalu guru
Zen tersebut menggendongnya menyeberangi kali. Setelah berjalan lagi
beberapa lama Ekido bertanya:" Kata Bhiksu (gurunya) jangan dekat-dekat
wanita, mengapa engkau menggendongnya?". Tan Zan bertanya lagi "Mana
gadis itu, engkau masing menggendongnya?"

        Diatas tadi adalah cerita perumpamaan yang menunjukkan seseorang
yang dapat membebaskan keterikatannya pada masa lalu dan masa depan
dengan menikmati moment-moment yang dia hadapi.
        Cara mempraktekannya masih terdapat pada ajaran Zen yaitu dengan
menyingkirkan pemikiran dualistik. Kita sering mengeluh pada musim panas
dan ingin musim hujan tiba, tetapi setelah musim hujan tiba kita
menginginkan musim panas. Padahal kedua-duanya memiliki manfaat
masing-masing.
        Juga dengan mempraktekannya didalam kehidupan sehari-hari. Bila
lapar kita makan, Bila capai kita beristirahat tidur tanpa terusik
kejadian masa lalu dan keinginan akan masa datang. Nikmati saat demi
saat yang engkau jalani (mudah...?)

        Namun demikian kita tidak perlu merasa kecil hati karena belum
dapat membebaskan keterikatan pada masa lalu dan masa depan mengingat
kita mungkin masih memiliki hutang atau janji yang belum dibayar pada
masa lalu dan mengingat kita masih memiliki suatu cita-cita yang belum
tercapai.

        Akhir kata, nikmatilah saat demi saat yang engkau jalani.

        Salam,

        Ari Dwi

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Tirta D. Arief  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 22 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: "Tirta D. Arief" <ti...@peter.petra.ac.id>
Tanggal: 1998/09/22
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika

Mas Ari yang baik,
Salam perkenalan dulu karena baru saja saya baca avuso-nya. Saya gembira
anda sudah langsung "terjun" ha ha biar milis ini tambah rame gitu.

"Nikmatilah saat demi saat yang engkau jalani" satu ungkapan yang sangat,
sangat baik untuk melepaskan keterikatan. Dan cerita-cerita Zen tentang
ketidak-terikatan juga banyak namun semuanya belum membawa kita ke
pembebasan (ketidak-terikatan).  Sekali dua kali berhasil tapi
lebih banyak yang gagal. Yang paling mudah (mungkin) adalah ha ha ha
membebaskan (baca : melupakan) hutang yang sudah dilakukan dan yang sukar
adalah membebaskan (melupakan) piutang! Maaf, cuma joke saja dan tidak
semua orang begitu malah ada yang sebaliknya tapi keduanya tetap
merupakan suatu keterikatan, bukan?

Dalam salah satu bukunya Ajahn Chah berujar bahwa Budhisme hanya bisa
diselami melalui praktek (kata per katanya saya lupa tapi kira-kira ya
begitulah).

Salam,
Tirta

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Krishna  
Tampilkan profil  
 Opsi lainnya 22 Sep 1998, 14:00
Newsgroup: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Dari: Krishna <x...@cbn.net.id>
Tanggal: 1998/09/22
Perihal: Re: [SP] Nurani dan Logika
Mas Sjahrazad Alamsjah :
>kredit dan saldo. Dari sisiNya, segala sesuatu adalah Karunia, dari sisi
>kita, mau tidak mau segala sesuatu adalah proses memakan buah. Hanya kita
>yang mengenal baik dan buruk.

------------------------------
berarti Tuhan tidak mengenal baik dan buruk (dualitas)..
tetapi di Alkitab dibilang (setelah Adam memakan buah pengetahuan), Dia
(Adam) telah menjadi sama seperti Kita, tau yang baik dan yang buruk..

'Kita' disini berarti siapa ya? bukan Tuhan? karena 'Kita' ini tau yang
baik dan yang buruk (dualitas)..

salam,
xna

______________________________________________________________________

Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.


    Teruskan  
Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.
Akhir pesan
« Kembali ke Diskusi « Topik lebih anyar     Topik lebih lawas »

Buat grup - Grup Google - Beranda Google - Persyaratan Layanan - Kebijakan Privasi
©2010 Google