>Seru yaa :)) Saya fikir sudah waktunya kita menutup kisah agama dan
sains.
Boleh juga ditutup :-) Tentu saja kalau mas Syah berkehendak demikian, kan saya tidak bisa diskusi sama diri sendiri :-)
>Bukannya nggak mau dilanjutkan. Kalau mas Benny masih perlu ada yang >diutarakan silahkan :) Ada pemikiran yang menganggap agama adalah A dan >science adalah B. Dari pemikiran ini ada dua pendapat yang berkembang
yaitu
menurut saya kedua duanya lahir dari pemikiran manusia nah perkembangannyalah yang menyabang, bercabang. Science mengutamakan pada fakta/realitas/material. Sedangkan agama pada spiritualitas/filosofis/immaterial.
..
>terakhir ini. Pendapat saya pribadi, bahwa agama agama serta ajaran ajaran >para Arif justru ilmu science murni yang berdasar "logika" murni. Terus >terang pemikiran terakhir ini pasti banyak yang protes :(
Einstein pernah bilang: "Science is for science" jadi kalau ada yang memasukkan unsur lain ke dalam science, itu namanya pseudo-science.
>>Bagaimana dengan ayat? adakah suatu standard yang menjelaskan >>posisinya? Tentu saja tidak, satu orang dengan orang lain saja bisa >>beda interpretasinya. :-) Nah dalam hal itu kita harus lepas
>Saya ingin mengungkapkan ini hati hati. Bahwa pendapat diatas belum tentu >tepat. Ada banyak didunia ini, orang yang bermakam perjalanan ruhani SAMA, >walaupun berangkat dari jalan yang berbeda DAN menemukan suatu hal yang >"SAMA SEBANGUN" tanpa harus dikoordinasikan atau diajarkan hal yang
sama.
memang, tapi sebaliknya dalam science semua orang PASTI mencapai hal yang sama, seorang ilmuwan nuklir akan menjawab sama bila ditanya tentang reaksi fisi/fusi dan jawabannya bisa diyakini benar/salah. Sebaliknya dalam agama, tidak bisa, jika sai baba dan Paus berkata berlawanan, kita pemeluknya menganggap itu sama. Nah persamaan ini dalam science dan agama lain. Saya sendiri merasa berdiri pada sudut pandang yang berbeda dengan mas Syah. Tetapi saya juga tahu maksud mas Syah :-) dan saya akui memang maksud mas Syah ini baik sekali. Hanya sayang sekali saya tidak bisa mengikuti. Mungkin mas Syah sendiri bertanya-tanya mengapa tidak bisa? Jawabannya sebenarnya mudah sekali, kerena kehidupan sehari hari saya diekspos pada hal2 ini (science).
..
>tanpa melihat kopi apalagi meminumnya. Dan kemudian berteori malah tentang >cangkirnya. Yang inilah yang sesuai dengan pendapat mas Benny diatas. Setiap >orang bisa saja mempunyai intepretasi berbeda.
tetap saja kita tidak bisa minum kopi tanpa cangkir kan, :-)
>Ilmu logika murni sebenarnya sangat sederhana. Maaf kalau saya salah menulis >yang dibawah ini: >Tao.....carilah Tao, Hindhu....temukan Brahma, Budha....capai kekosongan, >Katholik....Kristus satu satunya jalan...., Islam....Syahadat dengan laku >tanpa lafal. Ini semua ajaran mengajak kita minum "kopi". Bukan berdebat >cangkirnya...
nah kalau seseorang belum tahu dia itu beragama apa? Agama tidak bisa resmi tidak resmi. Inilah akibat kebijakan orba yang mengkotak2kan agama. Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari, karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah anugerah, bukan cobaan.
>Jangan sekali kali rancu antara orang dengan ajaran. Kalau sifat orang yang >buruk, belum tentu berarti ajarannya yang salah...
satu lagi perbedaan agama dan science. Science berangkat dari premis semua teori bukanlah kebenaran, jadi (mungkin) masih ada yang lebih benar. Kecuali jika sang waktu sendiri berhenti, jadi saat itulah kebenaran terkuak (jika tidak ada masa depan). Agama berangkat dari premis, yang terbenar, termutlak dan tidak bisa salah, jika salah itulah pengikutnya, bukan agamanya. Lalu agama itu sendiri apa? bisakah agama ada tanpa umat?
>Karena itu kita sebaiknya jangan cepat cepat ekstrim dalam menganut sesuatu. >Kalau mau jujur toh banyak kita sebenarnya hanya percaya bukan berdasarkan >pembuktian oleh diri sendiri. Science toh karena itu sudah jadi kurikulum >yang selalu harus dipelajari oleh semua orang agar bisa survive di >masyarakat. Jadi lebih baik netral melihat sesuatu, coba lepas dan
Science bukanlah sebuah alat untuk survival. Alat untuk survival adalah budaya, nah dalam kasus indonesia ini Science "diserap" dalam budaya, akibatnya apa? ya itu, budaya GURU digugu lan ditiru biar salah tetap benar. Dalam hal ini yang diajarakan di sekolah2 di Indonesia bukanlah science murni, dan science murni sendiri memang susah untuk dicerna, sebaiknya diajarkan di tingkat tinggi (SMA...). Mungkin yang mas Syah maksud adalah: kita sekolah untuk cari kerja.
>dari sudut pandang kacamata yang lepas dari apapun. Kalau kita menulis >10+7=1, bisa dimarahin sekampung :)) Tetapi bagi yang menemukan maknanya, >bisa jadi mereka mengangguk :)
lepas dari apapun? Lalu bagaimana cara kita menilai? mungkin mas syah bisa menjelaskan. Kalau lepas dari apapun, berarti aborsi tidak salah, pembunuhan tidak salah, kan tidak ada ukurannya, bagaimana bisa dikatakan salah?
>>Bukankah agama sendiri juga menggunakan logika? teori adanya Tuhan
>Tepat sekali ini benar benar suatu argumen yang jelas. Tetapi jangan >berhenti dipemahaman. Kalau kita percaya Tuhan, bisakah kita menemukan bukti >secara logika eksistensi Dzat Allah ? Percayakah kita bahwa Dzat itu
Maha
justru hal inilah mas Syah yang membuat saya berpaling. Sebagai manusia jelas kita tidak bisa mendefinisikan maupun membuktikan keberadaan Tuhan. Jika ada yang mengaku-ngaku kitab dari Tuhan, Nabi utusan Tuhan mungkin saja benar, anehnya sang kitab ditulis dalam bahasa manusia, sang nabi juga manusia.
>Wujud ? Bukankah bahwa Maha Wujud berarti Maha Kelihatan ? Kita sering >mendengar bahwa manusia tidaklah mungkin untuk menemui Tuhan, karena dia >tidak bisa dirumuskan dengan kata kata apapun kecuali kata "Allah". Ajaran >ini juga benar sebenar benarnya !!! Tetapi setiap manusia harus membuktikan >itu terlebih dahulu, secara LOGIKA, yang pasti. Pembuktian inilah yang
akan
membuktikan atau percaya? membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu. Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.
>membuat takluknya kesombongan atau ego kita terhadap agama ataupun science. >Bagaimana cara membuktikannya ? Yakni membaca semua ayat ayat agama dan >ajaran masing masing, secara perlahan dan hati hati. Disana ada mutiara >terselubung. Seperti yang ditulis mas Djoko didalam pondasi untuk memasuki >tujuh pintu.
mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih baik kita memandang hidup sebagai tujuan. Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan? seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.
>"ilmu agama adalah ujung ilmu pengetahuan manusia, bagi yang menemukan >maknanya"
dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan daripada pengalaman.
>........ >Boleh juga ditutup :-) >Tentu saja kalau mas Syah berkehendak demikian, kan saya tidak bisa >diskusi sama diri sendiri :-)
Nggak apa apa, kita buka lagi aja dikit :))
>.......... >memang, tapi sebaliknya dalam science semua orang PASTI mencapai >hal yang sama, seorang ilmuwan nuklir akan menjawab sama bila ditanya >tentang reaksi fisi/fusi dan jawabannya bisa diyakini benar/salah. >Sebaliknya dalam agama, tidak bisa, jika sai baba dan Paus berkata >berlawanan, kita pemeluknya menganggap itu sama. Nah persamaan ini >dalam science dan agama lain.
Ooops. Yang ini saya kurang sependapat. Karena kebetulan saya juga tertarik dibidang ilmu pengetahuan, tetapi hanya terbatas kepada yang saya tekuni yakni arsitektur. Para arsitek boleh jadi mendapat ilmu pengetahuan / teori teori yang sama diseluruh dunia. Tetapi BELUM TENTU mencapai hasil yang sama. Setiap orang, yang benar benar menekuni terjun kebidang ilmu pengetahuan, akan menemukan suatu fase "missing link", bila berbenturan kepada "sesuatu", yakni pada saat mereka bersentuhan dengan cipta, rasa dan karsa. Tampaknya ini berlaku untuk semua ilmu mulai dari astronomi, kedokteran, teknik, art dan sebagainya. Penemu ilmu pengetahuan selalu berangkat dari tataran cipta, rasa dan karsa, sehingga mereka mampu membuahkan suatu penemuan atau teori. Dan memang ilmu pengetahuan secara umum sering menyebutkan secara sederhana "hey, I got an idea.." Ide tiba tiba muncul, selalu berawal disetiap penemuan ilmu pengetahuan ! Tapi kalau mau benar benar direnungkan, apa sih sebenarnya rumusan atau definisi konkrit ide itu ?
Bagi kita, yang belajar teori memang tinggal mengikuti apa yang ditulis dibuku :( dan bukankah ini sebenarnya dogma ? Yang kebetulan, dogma ini untung saja positif. Walaupun ada juga teori yang bisa berdampak negatif seperti histeria massa, yang dimanfaatkan oleh Hitler. Memang didalam science ada dasar pengetahuan yang sama, dan ini kalau di agama disebut tataran syariat ( lapisan gwakang ?). Ini yang menjadi dasar kenapa bagi saya, apakah agama atau science, akan sama saja terutama dilapisan syariatnya. Karena hanya berdasar dilapis percaya.
>Saya sendiri merasa berdiri pada sudut pandang yang berbeda dengan mas >Syah. Tetapi saya juga tahu maksud mas Syah :-) dan saya akui memang >maksud mas Syah ini baik sekali. Hanya sayang sekali saya tidak bisa >mengikuti. Mungkin mas Syah sendiri bertanya-tanya mengapa tidak bisa? >Jawabannya sebenarnya mudah sekali, kerena kehidupan sehari hari saya >diekspos pada hal2 ini (science).
Lho sudut pandang malah jangan sama terus. Yang penting kita harus mencoba untuk melihat sebanyak mungkin sudut pandang. Bayangkan naik balon gas terus keatas [ anggap aja bisa sampai kebulan ], sehingga kita bisa membuktikan dengan mata kepala bahwa bumi ini memang benar bulat, bukan lagi "katanya", atau menurut "buku anu" atau kata pak anu :)) Kalau buat saya, berbeda sudut pandang malah positif.
>... >Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus >mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada >hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari, >karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah >anugerah, bukan cobaan.
Banyak jalan menuju Roma. Dalam setiap tulisan, saya selalu menggandengkan kata kata "agama dan ajaran". Perenung Arif biasanya mendapat pencerahan dirinya sendiri dari pengalaman batinnya, dan menuangkan itu sebagai ajaran kepada orang lain sebagai ajaran spiritual. Jadi dalam pencarian memang bisa saja tanpa harus melalui agama. Tetapi mengingat keterbatasan kemampuan kita, serta waktu yang tersedia, bukankah lebih baik memilih apa yang sudah ada ? Walaupun tetap kita berhak sebebas bebasnya menentukannya. Saya malah punya teori yang paling sederhana, apapun "caranya" selama dilandaskan kepada NIAT menuju Kebaikan, itu sebenarnya lebih dari cukup. Laku lebih utama daripada "kata".
>........ >justru hal inilah mas Syah yang membuat saya berpaling. >Sebagai manusia jelas kita tidak bisa mendefinisikan maupun >membuktikan keberadaan Tuhan.
Ada dua orang yang berkata yang sama, "saya TIDAK BISA kekota bogor karena jembatan cimahi ambruk". Yang pertama berkata didepan kali cimahi, sedangkan yang lain berkata hanya dari jakarta karena mendengar radio. Jadi sebelum berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak bisa". Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata orang yang dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan semu. Hakikat ilmu batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".
>Jika ada yang mengaku-ngaku kitab dari Tuhan, Nabi utusan Tuhan >mungkin saja benar, anehnya sang kitab ditulis dalam bahasa >manusia, sang nabi juga manusia.
Sekedar renungan. Kalau kita mendengar, apakah itu mulut atau suara ? Kalau kita membaca, apakah itu tinta atau kata ? Kalau kita melihat, apakah itu benda atau rasa ? Bukankah sebenarnya tidak ada hubungan kita dengan orang lain, kecuali kita yang menghubung hubungkannya ?
>.... >membuktikan atau percaya?
Yaa, ini kan jelas bedanya, bukti akan menghasilkan yakin. Yakin berbeda dengan percaya.
>membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri >disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal >saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu. >Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.
Ini betul, kalau ada manusia yang bisa mendefinisikan Tuhan, dengan tegas saya bisa mengatakan itu adalah takabur, dan jauh dari kebenaran. Dia tidak berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah. Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia Tunggal, Maha Ada.
>mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih >baik kita memandang hidup sebagai tujuan. >Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan? >seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya >kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.
Kalau ini, saya yang jadi linglung :)) Mungkin saya mau tanya balik, kalau hidup jadi tujuan, tujuannya itu apa yaa ?
>dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada >perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya >lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan >daripada pengalaman.
>salam, >BS
Lebih baik jangan terkecoh oleh kata orang, buku atau apapun. Semua tergantung kepada kita sendiri mutlak. Kita bisa membuat bingung diri sendiri, atau bisa pula membuat jernih. Ada baiknya kembali kepada hal hal dasar kehidupan, yaitu berupaya dalam laku sehari hari berbuat baik dan jujur terhadap diri sendiri. Ini bukan teori budi pekerti, tetapi justru hakiki agama itu sendiri. Dan bila seandainya itu dijalankan, tanpa pengetahuan secuilpun ayat ayat, sepertinya itu lebih dari cukup. PC dengan Windows98 dan MsWords toh hanya alat untuk menuangkan pemikiran. Pinsil dan kertas juga berfungsi sama, bahkan bila tidak yaa cukup berbicara, atau bisa cukup dibatin..
>Ooops. Yang ini saya kurang sependapat. Karena kebetulan saya juga
tertarik ..
>Bagi kita, yang belajar teori memang tinggal mengikuti apa yang ditulis >dibuku :( dan bukankah ini sebenarnya dogma ? Yang kebetulan, dogma ini
benar, hanya saja dogma ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali dogma2 scientific seperti teorinya Hawking.
>untung saja positif. Walaupun ada juga teori yang bisa berdampak negatif >seperti histeria massa, yang dimanfaatkan oleh Hitler. Memang didalam >science ada dasar pengetahuan yang sama, dan ini kalau di agama disebut >tataran syariat ( lapisan gwakang ?). Ini yang menjadi dasar kenapa bagi >saya, apakah agama atau science, akan sama saja terutama dilapisan >syariatnya. Karena hanya berdasar dilapis percaya.
dalam science kita percaya karena bukti2 konkrit/fakta, misal percobaan tentang sel -> mikroskop. Kita akan percaya karena adanya bukti2 konkret, tentu saja ini dengan mengesampingkan fakta bahwa ada kemungkinan fakta2 itu merupakan rekayasa, dan bila ini betul berarti seluruh hidup kita adalah rekayasa yang tidak ada artinya.
Dalam agama, kita percaya pada lapisan bawah sadar kita/psychology. Ada satu kasus seorang imam muda (kebetulan Katholik) yang mengabdikan hidupnya kepada Kristus, suatu hari seluruh keluarganya yang berada dalam satu mobil mengalami kecelakaan, semuanya tewas. Sang imam merasa kecewa, ditinggalkan Tuhan, stress dan frustasi, puncaknya ia berteriak-teriak menghujat Allah, akhirnya seorang imam yang lebih senior membawanya ke depan altar, dipersilakannya imam muda merusak altar itu (di altar ada simbol Kristus, saya lupa namanya). "Kristus tidak akan melawan." dan dia pun bersimpuh, takluk, ia tidak kuasa. Kasus lain, pembakaran gereja karena vandalism, tanpa suatu sebab apapun sekelompok anak muda mengobrak-abrik gereja dan membakarnya. Bisa disimpulkan ini adalah efek buruk dari kehidupan sosial sekarang frustasi, stress, perasaan terbuang yang berpuncak pada anti kemapanan.
Kita bandingkan dua kasus di atas, yang satu stress dan memiliki pegangan, yang lainnya stress dan memilih pelampiasan. Keduanya sama2 berada pada tataran kejiwaan. Di sinilah saya melihat iman sebagai sebuah syarat penyerahan mutlak yang mana tidak bisa diterima orang lain.
Jadi bisa dilihat di sini, agama berada pada tataran kejiwaan di mana perubahan sangat sulit dilakukan, sebaliknya science ada pada tataran sadar, mudah berubah. Jadi wajar bila agama sendiri berubah pelan2 sedangkan sains berubah/maju secara drastis. Memang keduanya berbasis kepada kepercayaan, tetapi berbeda lapisan psychology.
>>... >>Pandangan saya sendiri cenderung pada pantheisme, nah saya harus >>mencari apa? Di Pantheisme tidak ada nabi dan kitab, yang ada >>hanyalah alam semesta. Dalam hal ini saya sendiri tidak akan mencari, >>karena saya memandang hidup debagai tujuan, bukan jalan, hidup adalah >>anugerah, bukan cobaan.
>Banyak jalan menuju Roma. Dalam setiap tulisan, saya selalu menggandengkan >kata kata "agama dan ajaran". Perenung Arif biasanya mendapat
pencerahan
dalam Pantheisme, kita ini sudah berada di Roma. :-) kalau dicari jalan ke Roma ya tidak bakal ketemu, wong kita ini sudah ada di Roma kok.
..
>kepada NIAT menuju Kebaikan, itu sebenarnya lebih dari cukup. Laku lebih >utama daripada "kata".
setuju sekali, hanya saja orang2 cenderung melihat "kata" sebagai sebuah kebenaran. Padahal kenyataannya kata sangat mudah untuk dimanipulasi.
..
>berkata "tidak bisa", temukan dulu, buktikan dulu baru berkata "tidak bisa". >Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata orang yang >dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan semu. Hakikat ilmu >batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".
justru inilah yang sering menjadi pitfall, jurang bagi mereka yang mencari-cari arti hidup. Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan! Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini. Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya. kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan. Seharusnya ungkapan ini sudah cukup menjadi cermin bagi kita untuk tidak lagi mengungkit ungkit masalah keTuhanan. Kenyataanya, banyak orang berkata "Kehendak Tuhan", "Allah bersabda". Mereka berargumen perkataan itu dibawa oleh nabi, lho lalu nabi itu apa, manusia atau bukan? Kita tarik saja analogi (yang mungkin kurang cocok). Bisakah kita mengajari seekor semut untuk menggunakan komputer? tentu saja tidak, kenapa kerena kita memang berbeda dengan semut. Nah jika kita sebagai semut dan Tuhan manusia, apa yang kita lakukan. Bagi saya: ya sudah pasrah saja, kita tidak tahu rahasia alam setelah kematian. Diterima saja hidup ini apa adanya, susah, senang, sakit, gembira, sedih, bahagia, nikmat. Lalu orang akan berpendapat: berarti tidak ada bedanya kita dengan binatang, bisanya cuma menerima saja. Lho kalau dilihat kita ini sebenarnya binatang juga, bedanya bisa berkomunikasi (lumba lumba juga bisa). Dengan teknologi lebih maju, pemikiran2 njlimet, dlsb. Hal lain, makan, minum, tidur... sama seperti binatang, nothing more, nothing less. Jika serigala melolong di bawah sinar rembulan, sering juga kita tersenyum saat menikmati keindahan alam. Anda lihat perbedaannya? Yang saya tahu adalah. Sang serigala menerima apa adanya dia, sedangkan manusia tidak, selalu berusaha maju berusaha mencari. Memang hampir semua hal bisa dicapai secara fisik. sebuah contoh dahulu Icarus tidak bisa terbang, lalu Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Semua hal ini bisa dicapai, tapi menjelaskan Tuhan, mencapai Tuhan? bisakah kita...?
..
>>membuktikan lain dengan percaya, buktinya :-) dulu saya sendiri >>disuruh percaya akan Tuhan (yang didefinisikan oleh manusia) padahal >>saya tidak bisa merasakan Tuhan yang itu. >>Akibatnya, saya percaya walau tidak ada bukti.
>Ini betul, kalau ada manusia yang bisa mendefinisikan Tuhan, dengan tegas >saya bisa mengatakan itu adalah takabur, dan jauh dari kebenaran. Dia tidak >berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah. >Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia Tunggal, >Maha Ada.
nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll bisa bersabda? yang dalam bahasa manusia?
>>mengapakah kita harus memandang hidup sebagai jalan? Bukankah lebih >>baik kita memandang hidup sebagai tujuan. >>Mengapa harus mencari? Jika sudah sampai di tujuan? >>seperti seorang pelaut yang mencari samudra, yang dilihat hanya >>kapalnya sehingga ia lupa sedang berlayar di samudra.
>Kalau ini, saya yang jadi linglung :)) Mungkin saya mau tanya balik, kalau >hidup jadi tujuan, tujuannya itu apa yaa ?
ya hidup sendiri itu tujuannya :-) bingung ya? Saya juga :-) Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab.
Menanyakan hidup sama saja menanyakan kematian, lahir-dewasa-mati. Big bang-ekspansi-menyusut. Semuanya adalah siklus, mengapakah kita harus mengalami siklus, perputaran tiada henti (mungkin ini yang dimaksud dengan Tao). Tidak bisakah kita "diam" seluruh alam semesta ini "diam". Diam, coba anda bayangkan sebuah mahkota gemerlapan bertahtakan intan, mengapakah itu berarti? karena kita berpikir demikian, karena kita memberinya arti, tanpa kita mahkota itu tidaklah berarti. Mengapakah Yesus dan Muhammad menjadi nabi, teladan kita? tanpa kita tidak berartilah mereka. Arti, makna, inilah yang terpenting bagi saya. Tanpa adanya siklus ini, hidup kita menjadi tidak berarti, kekosongan - inikah yang kita inginkan? Tanpa adanya kematian, hidup tak berharga lagi, tidak akan ada pula kelahiran, tidak akan ada pula si mungil. Lalu mengapakah kita menghindari kematian? sebuah kotradiksi... kita menghindari sesuatu yang memberi kita arti hidup. bukan pula berarti kita harus bunuh diri :-) Sekte2 yang melakukan bunuh diri kemungkinan juga berawal dari pemikiran2 njlimet seperti ini... Sampai di sini saya tidak bisa menjelaskan lagi... Silakan dicari sendiri2 :-)
>>dan sayangnya ilmu ini diwariskan lebih melalui kata2 daripada >>perbuatan, tulisan daripada pengalaman. Yang menyebabkan pengnutnya >>lebih membingungkan kata2 daripada perbuatan, lebih memikirkan tulisan >>daripada pengalaman.
.. >dasar kehidupan, yaitu berupaya dalam laku sehari hari berbuat baik dan >jujur terhadap diri sendiri. Ini bukan teori budi pekerti, tetapi justru >hakiki agama itu sendiri. Dan bila seandainya itu dijalankan, tanpa >pengetahuan secuilpun ayat ayat, sepertinya itu lebih dari cukup. PC
dengan
jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan konkret
Assalamu'alaikum Mas Sjah dan mas Benny, Tampaknya kok asyik berdiskusi ya, saya ikutan dong.
Mas Benny:
> dalam science kita percaya karena bukti2 konkrit/fakta, misal > percobaan > tentang sel -> mikroskop. Kita akan percaya karena adanya ... > berada pada tataran kejiwaan. Di sinilah saya melihat iman sebagai > sebuah syarat penyerahan mutlak yang mana tidak bisa diterima orang > lain.
Pak Suhu Hud [Sekilas tentang kiamat (2)] : Bidang lingkup kesadaran bukan diteliti dengan teknologi, melainkan dengan metodologi mistik. Kebenaran religius berada pada tataran lain dari kebenaran sains.
Kalau kita belajar main bola, yang pertama diajari adalah nendang bola. Setelah bisa nendang bola, baru belajar aturan-aturan main bola. Kalau kita belajar agama, yang pertama harus tahu adalah syariatnya (kalau Islam harus tahu syahadat, tahu sholat dsb). Setelah itu, mengapa harus sholat dsb, adalah tataran yang lain spt dimaksud pak Hud tsb. Malah ada yang bilang, tidak usah pakai 'akal' untuk memahaminya.
Secara ilmiah, gelombang otak manusia terbagi menjadi 3 domain, yaitu domain getaran 0-6 Hz, 7-12 Hz, dan 12-15 Hz (masing-masing domain ada namanya, angka persisnya saya lupa, yang jelas domain ke-2 yang penting untuk dikuasai). Getaran 0-6 adalah gelombang otak pada saat manusia dlm keadaan tidur, sedangkan 12-15 adalah dalam keadaan otak manusia sedang 'berpikir/melakukan aktifitas'. Jadi gelombang 7-12 adalah gelombang manusia dlm keadaan 'setengah tidur-setengah sadar' (umum dikenal sbg gelombang alpha). Di sinilah yang disebut pak Hud sbg 'metodologi mistik', sulit untuk dibuktikan, dan hanya dapat dipahami setelah dialami sendiri. Oleh karena itu istilahnya adalah tidak usah pakai 'akal'. Yang pas mungkin adalah tidak usah pakai 'proses berpikir' (apa ya bedanya dengan akal ?).
> bisa". Tanpa itu, sebenarnya sama saja, yakni sekedar ikut ikutan kata > orang yang dijadikan seolah olah "keyakinan". Ini adalah keyakinan > semu. Hakikat ilmu > >batin yang terdalam adalah sampai kepada ucapan "tidak bisa".
Mas Benny: > Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan! > Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini. > Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu > mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya. > kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan.
Bagaimana kalau yang terjadi adalah yang sebaliknya, yaitu Tuhan yang memberi jalan, membuka jalan bagi 'manusa terpilih' untuk mencapaiNya ? Jawabannya adalah JELAS BISA. Apa benar demikian ? Tanyakan kepada para nabi/rasul sbg manusia yang jelas telah terpilih :-)).
Mas Sjah:
> Dia tidak berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; > tidak > ber-arah. > Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia > Tunggal, Maha Ada.
Darimana perbendaharaan kata-kata ini ? Yang jelas ya dari nabi, dari kitab. Dari mana nabi tahu ? Ya yg tadi itu jawabannya, memang Tuhan yang memberi tahu. Adakah penjelasan lain yang masuk logika, pak Suhu ? [barangkali bu Lia Aminuddin tahu jawabannya dari Jibril :-)) ].
Mas Benny:
> jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) > sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang ...
Yang ini jelas saya tidak sependapat. Bukankah di atas sudah dikatakan oleh mas Sjah bahwa semuanya harus ditemukan dan dibuktikan, baru kemudian timbul keyakinan ? Menurut pak Suhu Hud: 'Kitab suci adalah buku _inspirasi_, yang memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan terdalam di bidang moral dan spiritual _bagi penganutnya_.' [Sekilas tentang kiamat (2)]
Ayat-ayat di dalam kitab dapat bermakna macam-macam, salah satunya adalah makna tata kehidupan bermasyarakat (dalam istilah Islam adalah hablum minnanash). Contoh: umat Islam diwajibkan berzakat. Coba saja kita tidak berzakat, kemudian amati dalam waktu berikutnya (misal dalam waktu 1 bulan), berapakah pengeluaran kita ? Saya yakin bahwa pengeluaran itu akan lebih besar dari zakat yang seharusnya kita bayarkan. Artinya, kita dihukum dengan 'ganjaran' pengeluaran yang lebih besar. Coba lagi, kita tak usah sholat 5 waktu. Apa yang terjadi ? Saya tidak tahu, silahkan amati sendiri (kalau saya, yang jelas, hati/pikiran jadi tidak tenang. Sangat jelas jauh lebih bagus kalau saya sholat). Ayat-ayat di kitab itu sudah menjelaskan akibat dan manfaatnya buat kita. Nah, kalau tidak sesuai dengan ayat-ayat tersebut, berarti hanya ada 2 hal : 1) Ayat itu tidak benar alias bohong (how dare you by saying that...!?) 2) Kita yang tidak benar (ini yang lebih bisa diterima). Bukankah kita serba kekurangan, serba terbatas ?
Jadi memang betul (mas Benny) : Silakan dicari sendiri2. Banyak jalan ke Roma, katanya.
>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >....___________ >ya hidup sendiri itu tujuannya :-) >bingung ya? Saya juga :-) >Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan >menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab. >...._________ >jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) >sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan >konkret
Saya melihat kecenderungan mas Benny yang penuh dendam terhadap ajaran ajaran agama :). Disini konteks yang perlu direnungkan. Bila seseorang memutuskan untuk mengikuti sesuatu faham (agama, ajaran, science dsb.nya), sebaiknya dia melepaskan diri dari dendam terhadap hal hal lain. Juga berlaku bila orang memutuskan untuk memilih suatu agama, dia juga harus melepaskan rasa protes terhadap agama lain. Seseorang memilih pilihan harus lebih kepada dasar bahwa apa yang dia pilih itu mampu untuk ditelusurinya lebih dalam.
Selain itu didalam berdialog kita harus membuang kecurigaan bahwa lawan dialog itu ingin merubah pandangan kita. Sehingga kita terbebas untuk selalu defensif. Walaupun banyak memang orang yang melakukan dialog yang mempunyai niat lain, apakah untuk mengajak masuk seseorang kekeyakinannya, atau mencari kepuasan tertentu dalam mengemukakan pandangannya. Jadi dalam konteks dialog kita, saya sebenarnya menunjang sepenuhnya pilihan mas Benny kepada pantheisme. Hanya saja sebaiknya pandangan itu dipilih bukan karena dasar dendam terhadap ajaran agama. Selama masih berdasar itu, suatu dialog akan berputar putar tanpa arah dan makna.
Berbeda dengan science yang bisa kita tulis dengan buku dari hasil teori penemuan seseorang. Sayangnya masalah spiritual tidak semuanya bisa ditulis, sehingga memuaskan pembacanya. Apa boleh buat hal ini memang sudah seperti itu. Karena lebih erat kepada suatu makam perjalan ruhani seseorang.
Bahasa ayat didalam agama dibagi dua kategori yaitu bahasa muhkamat, bisa dimengerti langsung dengan membaca, dan mukasyafah; bisa dimengerti sesuai makam perjalanan ruhani.
Pengalaman batin bila dituliskan hanya akan membuat orang semakin bingung terhadap makna sebenarnya.
>>.......Dia tidak >>berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah. >>Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia Tunggal, >>Maha Ada. >nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll bisa >bersabda? yang dalam bahasa manusia?
Ini sebaiknya lebih direnungkan lagi. Apa yang disebut bahasa manusia ? Apakah ini bisa didefinisikan ? Bukankah bahasa manusia akan berkembang sejalan alam pikiran manusianya ? Bukankah alam pemikiran manusia (makam perjalanan ruhani) itu berlapis lapis ?
Nah hal ini mudah bila ingin dijelaskan dalam bahasa sederhana. Bila anda memutuskan tidak bisa mengenal Tuhan, pasti anda tidak akan bisa mengenalnya sampai kapanpun. Bila anda memutuskan bisa mengenal Tuhan maka mudah mudahan atas karuniaNya hal ini pasti bisa terjadi. Jadi sebenarnya sederhana, berpulang kepada putusan kita sendiri.
>Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Semua hal ini bisa >dicapai, tapi menjelaskan Tuhan, mencapai Tuhan? bisakah kita...?
------------------- mau ikutan ya? :) mencapai/menemukan Tuhan rasanya bisa.. tapi kalo menjelaskan (secara penuh) jelas tidak bisa..
>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll >bisa bersabda? yang dalam bahasa manusia?
---------------------- tapi kalo "Sabda2 Allah" itu ditiadakan, bagaimana kita tau tentang Allah? bagaimana cara kita mengetahui Allah ada dimana2, tidak ada yang nyata kecuali Allah, dan lain sebagainya? dan bagaimana pula kita bisa ber-iman (kepada apa/siapa?)?
>jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) >sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan >konkret
-------- ayat2 menurut saya perlu (sebagai pengenalan, sebagai awal perjalanan)..yang tidak diperlukan adalah pikiran/pandangan yang membuat makna ayat2 itu menjadi bersifat statis (tidak berkembang)..atau menjadikannya sebagai dogma dll..
kalo dibilang kita tidak perlu ayat2 itu, berarti bisa pula dibilang kita sebenarnya tidak perlu pengetahuan tentang apa itu matahari, bumi, dll.. karena ada yang bisa menjalani kehidupan tanpa mengetahui semuanya itu.. (apa kita perlu tau mengenai matahari untuk bisa merasakan kehangatan sinarnya? atau apa kita perlu pengetahuan itu untuk bisa hidup, ataukah kita perlu hidup untuk mengetahui pengetahuan itu? :D)
>Assalamu'alaikum >Mas Sjah dan mas Benny, >Tampaknya kok asyik berdiskusi ya, saya ikutan dong.
wah ada satu lagi yang ikut, semakin seru rasanya :-)
..
>Setelah bisa nendang bola, baru belajar aturan-aturan main bola. >Kalau kita belajar agama, yang pertama harus tahu adalah syariatnya >(kalau Islam harus tahu syahadat, tahu sholat dsb). Setelah itu, mengapa >harus sholat dsb, adalah tataran yang lain spt dimaksud pak Hud tsb. >Malah ada yang bilang, tidak usah pakai 'akal' untuk memahaminya.
kalau boleh saya menambahkan, diskusi ini berawal dari diskusi agama dan sains, kalau benar seperti yang anda ungkapkan, belajar agama tidak usah pakai akal berarti sama saja agama bertentangan dengan sains. Nah pertanyaannya, di era di mana sains berkembang cepat, semua bergantung kepada logika-sistem, apakah agama tidak akan tergilas?
>Secara ilmiah, gelombang otak manusia terbagi menjadi 3 domain, yaitu >domain getaran 0-6 Hz, 7-12 Hz, dan 12-15 Hz (masing-masing domain ada .. >sulit untuk dibuktikan, dan hanya dapat dipahami setelah dialami >sendiri.
kalau memang tidak dapat dipahami, apa gunanya meriset gelombang2 itu?
>Oleh karena itu istilahnya adalah tidak usah pakai 'akal'. Yang pas >mungkin >adalah tidak usah pakai 'proses berpikir' (apa ya bedanya dengan akal >?).
mas Adhi mungkin kurang menyadari, dengan mambaca kitab suci itu mau tidak mau kita sudah menggunakan akal. Jadi kalau memang bener2 tidak usah pakai akal, jangan lihat kitab suci. Kalau itu yang mas Adhi maksud, rasanya saya sependapat.
>Mas Benny: >> Sebagai manusia, tidak ada satupun jalan kita bisa mencapai Tuhan! >> Mungkin Tuhan sendiri tidak berada di alam ini. >> Harus kita akui sebagai manusia kita ini terbatas, tidak mampu >> mengungkapkan Tuhan, tidak mampu menjelaskanNya. >> kita TIDAK BISA dan TIDAK AKAN PERNAH bisa menjelaskan Tuhan.
>Bagaimana kalau yang terjadi adalah yang sebaliknya, yaitu Tuhan yang >memberi jalan, membuka jalan bagi 'manusa terpilih' untuk mencapaiNya ?
lho, katanya Tuhan maha besar, manusia maha kecil, kalau manusia bisa tahu kehendak Tuhan, apakah "Tuhan" itu masih maha besar? dan juga konsep "manusia terpilih" jelas tidak bisa diterima, ini adalah konsep diskriminasi, tidak ada manusia satupun yang lebih baik dari yang lain (ini menurut saya lho). Kalau ada seorang yang saleh, eh ternyata menderita Kleptomania (suka mencuri) apa dia lalu tidak terpilih? padahal yang membuatnya begitu kan "Tuhan" juga Jelas Tuhan tidak bisa didefinisikan dan digambarkan dengan kata2
>Jawabannya adalah JELAS BISA. Apa benar demikian ? Tanyakan kepada >para nabi/rasul sbg manusia yang jelas telah terpilih :-)).
bagaimana kalau nabinya bohong? :-) Memang Muhammad dan Isa sudah teruji, bagaimana nabi2 lain? masih ingat kasus Heaven Gate? David Koresh? jalan terbaik: carilah sendiri
>Mas Sjah: >> Dia tidak berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; >> tidak >> ber-arah. >> Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia >> Tunggal, Maha Ada.
>Darimana perbendaharaan kata-kata ini ? Yang jelas ya dari nabi, dari >kitab. >Dari mana nabi tahu ? Ya yg tadi itu jawabannya, memang Tuhan yang >memberi tahu. Adakah penjelasan lain yang masuk logika, pak Suhu ? >[barangkali bu Lia Aminuddin tahu jawabannya dari Jibril :-)) ].
mas Adhi, coba anda bisikkan suatu kata ke telinga teman anda, lalu teman anda itu membisikkan kata itu kepada temannya, dan seterusnya. Apakah ada jaminan bisikan anda itu akan tepat seperti bisikan awal? Kalau memang apa yang diajarkan nabi2 itu tidak berubah, saya rasa tidak akan pernah ada pertentangan antar agama, penyalah gunaan agama untuk politik, dlsb.
>> jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) >> sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang ...
>Yang ini jelas saya tidak sependapat. Bukankah di atas sudah dikatakan >oleh mas Sjah bahwa semuanya harus ditemukan dan dibuktikan, baru >kemudian timbul keyakinan ?
wah, saya senang sekali jika anda bisa membantu saya membuktikan Tuhan :-) bagaimana kita bisa membuktikan sesuatu yang abstract, tadi anda sendiri menulis, jangan pakai akal. Bagaimana membuktikan sesuatu yang tidak bisa dijangkau akal?
>Menurut pak Suhu Hud: >'Kitab suci adalah buku _inspirasi_, yang memberi jawaban terhadap >pertanyaan-pertanyaan terdalam di bidang moral dan spiritual _bagi >penganutnya_.' [Sekilas tentang kiamat (2)]
betul, buku inspirasi, bukan buku kemutlakan inspirasi sendiri bisa diinterpretasikan berbeda beda
>Ayat-ayat di dalam kitab dapat bermakna macam-macam, salah satunya >adalah makna tata kehidupan bermasyarakat (dalam istilah Islam adalah >hablum minnanash). Contoh: umat Islam diwajibkan berzakat. Coba saja >kita tidak berzakat, kemudian amati dalam waktu berikutnya (misal dalam
kalau itu dirasa baik ya dilakukan, kalau tidak ya tidak perlu.
>waktu 1 bulan), berapakah pengeluaran kita ? Saya yakin bahwa >pengeluaran >itu akan lebih besar dari zakat yang seharusnya kita bayarkan. Artinya, >kita dihukum dengan 'ganjaran' pengeluaran yang lebih besar. Coba
..
bagaimana dengan umat lain, yang tidak memiliki peraturan ini? apakah mereka akan "dihukum" juga?
>kita tak usah sholat 5 waktu. Apa yang terjadi ? Saya tidak tahu, >silahkan >amati sendiri (kalau saya, yang jelas, hati/pikiran jadi tidak tenang.
Bisa jadi ini hanyalah fenomena psikologi.
>Sangat >jelas jauh lebih bagus kalau saya sholat). Ayat-ayat di kitab itu sudah >menjelaskan akibat dan manfaatnya buat kita. Nah, kalau tidak sesuai >dengan ayat-ayat tersebut, berarti hanya ada 2 hal : >1) Ayat itu tidak benar alias bohong (how dare you by saying that...!?)
saya tidak menatakan ayat itu salah :-) namun juga tidak mudah menafsirkan bukankah tafsir itu berbahaya mas Adhi?
>2) Kita yang tidak benar (ini yang lebih bisa diterima). Bukankah kita >serba >kekurangan, serba terbatas ?
benar, tetapi kenyataannya kita meninggikan diri kepada makhluk2 lain bukankah ini kontradiksi. Coba lihat, kita merendah2 di hadapan Tuhan, di hadapan binatang dan alam kita jumawa... inikah manusia? inikah yang diinginkan Tuhan? nobody knows
>>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >>....___________ >>ya hidup sendiri itu tujuannya :-) >>bingung ya? Saya juga :-) >>Hidup ya Hidup itu sendiri, menanyakan hidup sama saja dengan >>menanyakan Tuhan itu apa ya? tidak bisa dijawab. >>...._________ >>jadi sebenarnya kita tidak perlu ayat2 itu :-) >>sering orang lebih memikirkan ayat2 ketimbang melakukan perbuatan >>konkret
mas syah, lain kali kalau meng-quote harap jangan sampai mengubah arti, kalau diambil sepotong begini jadi lain rasanya. :-) Saya masih ingat, saya menulis begitu karena menanggapi tulisan mas Syah.
>Saya melihat kecenderungan mas Benny yang penuh dendam terhadap ajaran >ajaran agama :). Disini konteks yang perlu direnungkan. Bila seseorang
wah mas Syah, kalau memang saya dendam kepada agama? buat apa saya menaruh bible di atas monitor saya? Buat apa saya menyimpan gambar Bunda Maria di kamar saya? :-) Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.
Saya memang tidak pernah menulis tentang ayat2, mncoba membahas ayat2. Bukan berarti saya tidak pernah membaca/benci, ini lebih dikarenakan semua ini ditujukan kepada pribadi, bukan kepada orang lain. Menurut saya agama ada di hati pemeluknya, bukan di tangan mereka2 yang berkuasa. Jadi bebaskan saja orang2 menafsirkan kitab suci, jangan diberi batasan2/patokan2. Jika memang kitab suci adalah jalan dan petunjuk menuju kebenaran, tidak mungkin ia menjerumuskan orang. Oleh karena itu janganlah kita merasa diri benar dan menafsirkan di hadapan orang lain, itu akan menjadi bumerang bagi kita.
..
>Selain itu didalam berdialog kita harus membuang kecurigaan bahwa lawan >dialog itu ingin merubah pandangan kita. Sehingga kita terbebas untuk selalu >defensif. Walaupun banyak memang orang yang melakukan dialog yang mempunyai >niat lain, apakah untuk mengajak masuk seseorang kekeyakinannya, atau >mencari kepuasan tertentu dalam mengemukakan pandangannya. Jadi dalam
memang betul adanya...
>konteks dialog kita, saya sebenarnya menunjang sepenuhnya pilihan mas Benny >kepada pantheisme. Hanya saja sebaiknya pandangan itu dipilih bukan
karena
mas Syah, sebenarnya dikatakan Pantheisme juga tidak, sebab saya sendiri sekarang tidak mau terikat dengan satu agama/keyakinan, saya lebih cenderung free-thinker, tidak ada patokan, satu2nya patokan saya hanyalah pengalaman hidup. Pantheisme sendiri masih memiliki kelemahan2, di antaranya kurang bisa menjelaskan mengapa kita berbeda jika kita memang satu (bhinneka tunggal ika ya? :-)
>Pengalaman batin bila dituliskan hanya akan membuat orang semakin bingung >terhadap makna sebenarnya.
>>>.......Dia tidak >>>berawal, tidak berakhir; tidak berbentuk, tidak bertempat; tidak ber-arah. >>>Dia tidak menyerupai sesuatupun yang ada dikosakata manusia. Dia Tunggal, >>>Maha Ada.
>>nah kalau begitu adanya, seharusnya "Sabda2 Allah" ditiadakan saja. >>bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk, tidak bertempat, dll bisa >>bersabda? yang dalam bahasa manusia?
..
>Nah hal ini mudah bila ingin dijelaskan dalam bahasa sederhana. Bila anda >memutuskan tidak bisa mengenal Tuhan, pasti anda tidak akan bisa mengenalnya >sampai kapanpun. Bila anda memutuskan bisa mengenal Tuhan maka mudah
mudahan
bukan saya tidak "kepingin" ketemu Tuhan mas Syah :-) hanya saja sekarang belum waktunya, nanti kalau sudah meninggal semuanya akan dibuka. Ini tidak termasuk bunuh diri lho, bunuh diri tidak akan membawa kita kepada Tuhan. Menurut saya kalau belum waktunya ya tidak akan bisa. Yang bisa kita lakukan: mempersiapkan diri sehingga waktu kita menghadap Tuhan nanti keadaan kita tidak memalukan :-)
> Nah pertanyaannya, di era di mana sains berkembang cepat, semua > bergantung kepada logika-sistem, apakah agama tidak akan tergilas?
Bukankah pak Suhu Hud sudah bilang bahwa agama dan sains berada tataran yang berbeda ? Spt misal minyak dan air, bukankah tidak bisa saling bercampur ? Masing-masing ada kegunaannya sendiri2. Siapa yang perlu minyak, silahkan ambil, yang perlu air ya ambil sendiri.
> kalau memang tidak dapat dipahami, apa gunanya meriset gelombang2 itu?
Banyak manfaatnya tentu saja riset2 tsb. Ahli spiritual healer (dengan prana, dengan tenaga dalam dsb) saya kira mereka menggunakan domain gelombang alpha ketika sedang healing process. Pak Suhu kita mestinya juga ahli dlm bidang ini, apa lagi backgroundnya medis.
> dengan mambaca kitab suci itu mau > tidak mau kita sudah menggunakan akal. Jadi kalau memang bener2 tidak > usah pakai akal, jangan lihat kitab suci.
Membaca bukankah sudah termasuk 'kegiatan/proses berfikir' ? Sudah jelas termasuk domain ke-3 (di atas 12 Hz). Apakah memahami agama hanya cukup dengan membaca kitab ?
> lho, katanya Tuhan maha besar, manusia maha kecil, kalau manusia bisa > tahu kehendak Tuhan, apakah "Tuhan" itu masih maha besar? > dan juga konsep "manusia terpilih" jelas tidak bisa diterima, ini > adalah > konsep diskriminasi, tidak ada manusia satupun yang lebih > baik dari yang lain (ini menurut saya lho).
> bagaimana kalau nabinya bohong? :-) > Memang Muhammad dan Isa sudah teruji, bagaimana nabi2 lain?
Mas BS, anda bertanya, anda sendiri sudah tahu jawabannya. Bukankah dengan demikian anda sendiri sudah mengiyakan, bahwa Muhammad dan Isa adalah 'manusia terpilih' dan sudah teruji ?
> mas Adhi, coba anda bisikkan suatu kata ke telinga teman anda, lalu > teman anda itu membisikkan kata itu kepada temannya, dan seterusnya. > Apakah ada jaminan bisikan anda itu akan tepat seperti bisikan awal? > Kalau memang apa yang diajarkan nabi2 itu tidak berubah, saya rasa > tidak
Yang berubah kan yang menyampaikan (teman ke-2 dst) ? Apakah dengan demikian bisa dikatakan bahwa sumber awalnya yang salah ?
> bagaimana kita bisa membuktikan sesuatu yang abstract, tadi anda > sendiri > menulis, jangan pakai akal. Bagaimana membuktikan sesuatu yang > tidak bisa dijangkau akal?
Wah, mas BS, saya juga tidak tahu caranya. Hanya yang jelas, kalau mau mempelajari sesuatu, bukankah lebih baik kalau kita tahu referensi mengenai sesuatu itu. Jadi kalau mau belajar yang abstrak, ya cari tahu dulu referensi yang abstrak itu. Itulah yang harus dicari. Kalau tidak dicari, atau belajar tanpa referensi, ya jadi salah. Mau belajar bikin telur goreng, maksudnya adalah telor mata sapi. Tapi yang dibuat adalah omelet (sama-sama telor goreng), ya jadi salah dong. Dan yang paling penting ya dibuktikan itu alias dicoba sendiri, bahwa kalau mau bikin omelet harus dikocok dulu, kalau tidak dikocok ya jadinya telor mata sapi. Jadi sudah haqul yakin, melihat dengan mata kepala sendiri, membuktikan, merasakan dan bukan kata orang lagi.
Ada yang bilang, Tuhan itu lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Kalau kita tidak tahu 'urat leher' yang mana, mana bisa ketemu walaupun jaraknya dekat. Saya mau ke rumah pak Suhu Hud, mana bisa ketemu kalau tidak tahu alamatnya.
Maaf, boleh ikutan nimbrung 'kan? Abis menarik sih.....
On Fri, 18 Sep 1998, Sjahrazad Alamsjah wrote:
> >.... > >Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan > >digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka > >bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini > >mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.
> Ya, saya setuju dengan hal ini. Juga ada baiknya kita sendiri melepas diri > dari prejudice terhadap perkataan orang lain. Yang sesuai diambil yang tidak > dilewatkan, tanpa perlu berfikir apakah orang lain penuh dengan kesombongan > atau keakuan yang kental.
Agama yang kita yakini bukanlah untuk disimpan sendiri atau di "paksa" kan pada orang lain tapi untuk ditampilkan dalam perilaku kita sehari-hari secara konsekuen dan konsisten.
> >mas Syah, sebenarnya dikatakan Pantheisme juga tidak, sebab saya sendiri > >sekarang tidak mau terikat dengan satu agama/keyakinan, saya lebih > >cenderung free-thinker, tidak ada patokan, satu2nya patokan saya > >hanyalah pengalaman hidup. Pantheisme sendiri masih memiliki kelemahan2, > >di antaranya kurang bisa menjelaskan mengapa kita berbeda > >jika kita memang satu (bhinneka tunggal ika ya? :-)
> Dalam konteks ini saya ingin mengajak agar jangan cepat cepat mengambil > kesimpulan. Perlu disadari bahwa "ilmu" apapun judulnya (science, agama > dll), sebenarnya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain. > Pengkotakkan terhadap suatu pemikiran, akan menghambat perkembangan wawasan > pengetahuan kita. Semua hal akan berkaitan dengan pengalaman pribadi dari > seseorang, dimana setiap pengalaman mungkin akan menemukan wawasan yang > berbeda dengan sebelumnya. Terutama yang bersentuhan dengan pengalaman > batin. Ekstrim terhadap salah satu pandangan lebih baik dihindarkan, karena > ini akan merugikan kita sendiri.
Tanpa patokan apa bukan patokan juga? Pengalaman tiap orang adalah unik, artinya setiap orang memiliki pengalamannya sendiri sehingga impossible untuk orang lain meyakini apa yang diri kita alami. Atau kita mengikuti petunjuk seseorang dengan maksud memperoleh pengalaman yang sama karena awal dari mempraktekkan petunjuk tersebut sudah tidak sama. Kalau science dilihat dari agama jelas tidak benar, dan sebaliknya tidak nalar. Cobalah kita melihatnya secara total. Kalau kita membaca apakah hanya mata saja yang dipakai? Tentu tidak, pikiran, hati, dan seluruh tubuh kita ikut berperan. Tidak percaya? Cobalah membaca cerita humor dikala sakit gigi, misalnya, apa bisa tertawa lepas? Memahami totalitas ini akan membawa kita pada pemahaman dari proses suatu fenomena sehingga mencapai batin yang "tidak menghakimi" dan lepas dari dualisme ektrim.
> >....... > >hanya saja sekarang belum waktunya, nanti kalau sudah meninggal semuanya > >akan dibuka. > >.......
> >salam, > >BS
> Yang ini mungkin perlu kita renungkan lebih lanjut. Bila benar bahwa semua > hal cukup kita tunggu nanti, saat meninggal, maka mungkin sebagian besar > ayat atau ajaran tidak perlu diberikan atau dibaca saat hidup ini. Cukup > pengetahuan tentang budi pekerti, aturan2 / hukum hukum sosial masyarakat > dan science sebagai bekal hidup. Secara ekstrim dapat dikatakan kita tidak > perlu beragama, bila memang kondisinya seperti itu.
> Sepertinya ayat ayat Kitab Suci dan perenung Arif, justru berisi hal hal > yang perlu dicari oleh kita semasa hidup untuk mempersiapkan diri keproses > berikutnya. Memang tidak segera mungkin didapat melalui pengertian harafiah, > dan "ilmu" ini tidak dicakup didalam ilmu pengetahuan budi pekerti, aturan > hukum sosial masyarakat ataupun dalam disiplin ilmu science pada umumnya.
> wass, > Sjahrazad Alamsjah
Hari ini ada karena hari kemarin. Esok ada karena ada hari ini. Bagaimana mengharapkan kondisi esok, setelah mati, yang lebih baik kalau kondisi hidup hari ini tidak lebih baik dari kondisi hidup yang kemarin?
>mas syah, lain kali kalau meng-quote harap jangan sampai mengubah >arti, kalau diambil sepotong begini jadi lain rasanya. :-) >Saya masih ingat, saya menulis begitu karena menanggapi tulisan mas >Syah.
Waduh, maaf bukan maksudnya begitu. Ini cuma mau mempersingkat quote, biar tidak ditegor pak Hud :)
>.... >Yang saya inginkan adalah: Agama itu disimpan untuk sendiri, jangan >digunakan kepada orang lain. Maka dari itu saya paling tidak suka >bila ada yang bilang: menurut ayat...ini adalah... , bukankah ini >mengesankan kesombongan? seolah olah interpretasinya yang paling benar.
Ya, saya setuju dengan hal ini. Juga ada baiknya kita sendiri melepas diri dari prejudice terhadap perkataan orang lain. Yang sesuai diambil yang tidak dilewatkan, tanpa perlu berfikir apakah orang lain penuh dengan kesombongan atau keakuan yang kental.
>mas Syah, sebenarnya dikatakan Pantheisme juga tidak, sebab saya sendiri >sekarang tidak mau terikat dengan satu agama/keyakinan, saya lebih >cenderung free-thinker, tidak ada patokan, satu2nya patokan saya >hanyalah pengalaman hidup. Pantheisme sendiri masih memiliki kelemahan2, >di antaranya kurang bisa menjelaskan mengapa kita berbeda >jika kita memang satu (bhinneka tunggal ika ya? :-)
Dalam konteks ini saya ingin mengajak agar jangan cepat cepat mengambil kesimpulan. Perlu disadari bahwa "ilmu" apapun judulnya (science, agama dll), sebenarnya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain. Pengkotakkan terhadap suatu pemikiran, akan menghambat perkembangan wawasan pengetahuan kita. Semua hal akan berkaitan dengan pengalaman pribadi dari seseorang, dimana setiap pengalaman mungkin akan menemukan wawasan yang berbeda dengan sebelumnya. Terutama yang bersentuhan dengan pengalaman batin. Ekstrim terhadap salah satu pandangan lebih baik dihindarkan, karena ini akan merugikan kita sendiri.
>....... >hanya saja sekarang belum waktunya, nanti kalau sudah meninggal semuanya >akan dibuka. >.......
>salam, >BS
Yang ini mungkin perlu kita renungkan lebih lanjut. Bila benar bahwa semua hal cukup kita tunggu nanti, saat meninggal, maka mungkin sebagian besar ayat atau ajaran tidak perlu diberikan atau dibaca saat hidup ini. Cukup pengetahuan tentang budi pekerti, aturan2 / hukum hukum sosial masyarakat dan science sebagai bekal hidup. Secara ekstrim dapat dikatakan kita tidak perlu beragama, bila memang kondisinya seperti itu.
Sepertinya ayat ayat Kitab Suci dan perenung Arif, justru berisi hal hal yang perlu dicari oleh kita semasa hidup untuk mempersiapkan diri keproses berikutnya. Memang tidak segera mungkin didapat melalui pengertian harafiah, dan "ilmu" ini tidak dicakup didalam ilmu pengetahuan budi pekerti, aturan hukum sosial masyarakat ataupun dalam disiplin ilmu science pada umumnya.
>mas Adhi: >>Bukankah pak Suhu Hud sudah bilang bahwa agama dan sains berada >>tataran yang berbeda ? Spt misal minyak dan air, bukankah tidak bisa >>saling bercampur ? Masing-masing ada kegunaannya sendiri2. Siapa >>yang perlu minyak, silahkan ambil, yang perlu air ya ambil sendiri.
>mungkin teorinya begitu tapi prakteknya lain, contoh: di negara2 maju >masyarakat lambat laun mulai "meninggalkan" agama. Lihat saja komentar >Habibie yang sekian tahun di Jerman, dia suka akan masyarakat madani >Jerman tetapi dia tidak suka satu hal: masyarakatnya kurang religius. >Kenapa bisa begitu, dikarenakan fungsi agama sendiri menjadi tidak >jelas (di sini agama yang saya maksud lain dengan kehidupan spiritual).
>...
>>> bagaimana kalau nabinya bohong? :-) >>> Memang Muhammad dan Isa sudah teruji, bagaimana nabi2 lain?
>>Mas BS, anda bertanya, anda sendiri sudah tahu jawabannya. Bukankah >>dengan demikian anda sendiri sudah mengiyakan, bahwa Muhammad >>dan Isa adalah 'manusia terpilih' dan sudah teruji ?
>benar, sayang sekali beliau2 ini sudah tiada sehingga tidak bisa lagi >menjelaskan sejelas-jelasnya, pertanyaannya: apakah ajaran yang sekarang >ini benar2 asli warisan mereka, atau? >Melihat kenyataan bahwa agama sempat menjadi ajang politik dan >pertentangan apakah benar agama2 ini yang diwariskan? >... >>> Apakah ada jaminan bisikan anda itu akan tepat seperti bisikan awal? >>> Kalau memang apa yang diajarkan nabi2 itu tidak berubah, saya rasa >>> tidak
>>Yang berubah kan yang menyampaikan (teman ke-2 dst) ? Apakah dengan >>demikian bisa dikatakan bahwa sumber awalnya yang salah ?
>bisakah anda sendiri mengetahui sumber awal? Apakah kita bisa menemui >Isa dan Muhammad sendiri? Mungkin pengikut ajaran bu Lia bisa >menjelaskan. :-) >... >>> menulis, jangan pakai akal. Bagaimana membuktikan sesuatu yang >>> tidak bisa dijangkau akal? >>Wah, mas BS, saya juga tidak tahu caranya. Hanya yang jelas, kalau >>mau mempelajari sesuatu, bukankah lebih baik kalau kita tahu referensi >>mengenai sesuatu itu. Jadi kalau mau belajar yang abstrak, ya cari tahu >>dulu referensi yang abstrak itu. Itulah yang harus dicari. Kalau tidak
>itulah masalahnya, memilih referensi yang benar, apa yang diyakini >banyak orang itu sudah pasti benar? Dahulu bumi diyakini banyak orang >sebagai central sedangkan matahari bulan bintang di luarnnya, >kenyataannya? Salah. >... >>goreng, maksudnya adalah telor mata sapi. Tapi yang dibuat adalah >>omelet (sama-sama telor goreng), ya jadi salah dong. Dan yang paling >>penting ya dibuktikan itu alias dicoba sendiri, bahwa kalau mau bikin >>omelet harus dikocok dulu, kalau tidak dikocok ya jadinya telor mata >>sapi. Jadi sudah haqul yakin, melihat dengan mata kepala sendiri, >>membuktikan, merasakan dan bukan kata orang lagi.
>nah kalau yang dijanjikan surga-neraka kehidupan akhirat, percobaannya >bisa seumur hidup. Iya kalu betul, kalau salah? :-) >paling baik ya percaya diri sendiri, kalau ternyata salah, paling tidak >kita sudah mempercayai diri sendiri/hati nurani.
>salam, >BS
>______________________________________________________ >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>Maaf, boleh ikutan nimbrung 'kan? Abis menarik sih.....
Silahkan .. :)
>Agama yang kita yakini bukanlah untuk disimpan sendiri atau di "paksa" >kan pada orang lain tapi untuk ditampilkan dalam perilaku kita sehari-hari >secara konsekuen dan konsisten.
Yang utama didalam ajaran adalah bagaimana kita menyiarkannya bagi diri sendiri, yang berbentuk kedalam laku hidup sehari hari. Ada ajaran yang menarik untuk disimak: "di akherat ada orang yang merugi, yang menyiarkan ajaran tanpa amalan, yang mendengar mengamalkan, sedangkan ia hanya berkata.."
>Hari ini ada karena hari kemarin. Esok ada karena ada hari ini. Bagaimana >mengharapkan kondisi esok, setelah mati, yang lebih baik kalau kondisi >hidup hari ini tidak lebih baik dari kondisi hidup yang kemarin?
>Salam, >Tirta
tambahan: Yang tadi sudah tidak ada, yang nantipun akan datang. Bukankah yang ada hanya saat ini ?
On Sun, 20 Sep 1998, Sjahrazad Alamsjah wrote: > Mas Tirta:
> >Agama yang kita yakini bukanlah untuk disimpan sendiri atau di "paksa" > >kan pada orang lain tapi untuk ditampilkan dalam perilaku kita sehari-hari > >secara konsekuen dan konsisten.
> Yang utama didalam ajaran adalah bagaimana kita menyiarkannya bagi diri > sendiri, yang berbentuk kedalam laku hidup sehari hari. Ada ajaran yang > menarik untuk disimak: "di akherat ada orang yang merugi, yang menyiarkan > ajaran tanpa amalan, yang mendengar mengamalkan, sedangkan ia hanya > berkata.."
> >Hari ini ada karena hari kemarin. Esok ada karena ada hari ini. Bagaimana > >mengharapkan kondisi esok, setelah mati, yang lebih baik kalau kondisi > >hidup hari ini tidak lebih baik dari kondisi hidup yang kemarin?
> >Salam, > >Tirta
> tambahan: > Yang tadi sudah tidak ada, yang nantipun akan datang. Bukankah yang ada > hanya saat ini ?
> wass, > Sjahrazad Alamsjah
Betul! Maksud saya, secara umum, bagaimana mungkin mengharapkan kondisi sesudah kematian yang lebih baik bila kondisi kehidupan sebelum kematian tidak lebih baik dari kondisi yang mendahuluinya.
Tapi masalahnya adalah bagaimana melepaskan keterikatan terhadap masa lalu (tadi) dan keterikatan (akan harapan) di masa mendatang (nanti). Ada opini?
> Tapi masalahnya adalah bagaimana melepaskan keterikatan > terhadap masa lalu (tadi) dan keterikatan (akan harapan) di masa > mendatang (nanti). Ada opini?
> Salam, > Tirta
Tentu saja ada mas Tirta, Bebas keterikatan terhadap masa lalu dan keterikatan pada masa mendatang banyak saya jumpai pada ajaran Zen.
Sang Budha membuat cerita perumpamaan mengenai seseorang yang dikejar-kejar harimau lalu dia naik keatas tebing dan bergelantungan pada salah satu akar rambat yang keluar pada tebing tersebut. Cakar harimau menggapai-gapai dari bawah mulutnya menunggu santapan lezat, pada saat itu pula dari atas tebing muncul seekor tikus lalu menggerogoti akar tempat dia bergantung membuat dia semakin ketakutan. Tiba-tiba dia melihat sekuntum buah cerri disampingnya dan seketika itu lenyaplah rasa takutnya lalu dipetiknya buah cerri itu dan dimakannya. Hmm .....enak..
Cerita kedua adalah Tan Zan seorang guru Zen dan Bhiksu Ekido dari Jepang bertemu seorang gadis yang akan menyebrangi kali. Lalu guru Zen tersebut menggendongnya menyeberangi kali. Setelah berjalan lagi beberapa lama Ekido bertanya:" Kata Bhiksu (gurunya) jangan dekat-dekat wanita, mengapa engkau menggendongnya?". Tan Zan bertanya lagi "Mana gadis itu, engkau masing menggendongnya?"
Diatas tadi adalah cerita perumpamaan yang menunjukkan seseorang yang dapat membebaskan keterikatannya pada masa lalu dan masa depan dengan menikmati moment-moment yang dia hadapi. Cara mempraktekannya masih terdapat pada ajaran Zen yaitu dengan menyingkirkan pemikiran dualistik. Kita sering mengeluh pada musim panas dan ingin musim hujan tiba, tetapi setelah musim hujan tiba kita menginginkan musim panas. Padahal kedua-duanya memiliki manfaat masing-masing. Juga dengan mempraktekannya didalam kehidupan sehari-hari. Bila lapar kita makan, Bila capai kita beristirahat tidur tanpa terusik kejadian masa lalu dan keinginan akan masa datang. Nikmati saat demi saat yang engkau jalani (mudah...?)
Namun demikian kita tidak perlu merasa kecil hati karena belum dapat membebaskan keterikatan pada masa lalu dan masa depan mengingat kita mungkin masih memiliki hutang atau janji yang belum dibayar pada masa lalu dan mengingat kita masih memiliki suatu cita-cita yang belum tercapai.
Akhir kata, nikmatilah saat demi saat yang engkau jalani.
On Tue, 22 Sep 1998, Ari Dwi wrote: > 21 Sept 98, Tirta wrote:
> > Tapi masalahnya adalah bagaimana melepaskan keterikatan > > terhadap masa lalu (tadi) dan keterikatan (akan harapan) di masa > > mendatang (nanti). Ada opini?
> > Salam, > > Tirta
> Tentu saja ada mas Tirta, > Bebas keterikatan terhadap masa lalu dan keterikatan pada masa > mendatang banyak saya jumpai pada ajaran Zen.
> Sang Budha membuat cerita perumpamaan mengenai seseorang yang > dikejar-kejar harimau lalu dia naik keatas tebing dan bergelantungan > pada salah satu akar rambat yang keluar pada tebing tersebut. Cakar > harimau menggapai-gapai dari bawah mulutnya menunggu santapan lezat, > pada saat itu pula dari atas tebing muncul seekor tikus lalu > menggerogoti akar tempat dia bergantung membuat dia semakin ketakutan. > Tiba-tiba dia melihat sekuntum buah cerri disampingnya dan > seketika itu lenyaplah rasa takutnya lalu dipetiknya buah cerri itu dan > dimakannya. Hmm .....enak..
> Cerita kedua adalah Tan Zan seorang guru Zen dan Bhiksu Ekido > dari Jepang bertemu seorang gadis yang akan menyebrangi kali. Lalu guru > Zen tersebut menggendongnya menyeberangi kali. Setelah berjalan lagi > beberapa lama Ekido bertanya:" Kata Bhiksu (gurunya) jangan dekat-dekat > wanita, mengapa engkau menggendongnya?". Tan Zan bertanya lagi "Mana > gadis itu, engkau masing menggendongnya?"
> Diatas tadi adalah cerita perumpamaan yang menunjukkan seseorang > yang dapat membebaskan keterikatannya pada masa lalu dan masa depan > dengan menikmati moment-moment yang dia hadapi. > Cara mempraktekannya masih terdapat pada ajaran Zen yaitu dengan > menyingkirkan pemikiran dualistik. Kita sering mengeluh pada musim panas > dan ingin musim hujan tiba, tetapi setelah musim hujan tiba kita > menginginkan musim panas. Padahal kedua-duanya memiliki manfaat > masing-masing. > Juga dengan mempraktekannya didalam kehidupan sehari-hari. Bila > lapar kita makan, Bila capai kita beristirahat tidur tanpa terusik > kejadian masa lalu dan keinginan akan masa datang. Nikmati saat demi > saat yang engkau jalani (mudah...?)
> Namun demikian kita tidak perlu merasa kecil hati karena belum > dapat membebaskan keterikatan pada masa lalu dan masa depan mengingat > kita mungkin masih memiliki hutang atau janji yang belum dibayar pada > masa lalu dan mengingat kita masih memiliki suatu cita-cita yang belum > tercapai.
> Akhir kata, nikmatilah saat demi saat yang engkau jalani.
> Salam,
> Ari Dwi
Mas Ari yang baik, Salam perkenalan dulu karena baru saja saya baca avuso-nya. Saya gembira anda sudah langsung "terjun" ha ha biar milis ini tambah rame gitu.
"Nikmatilah saat demi saat yang engkau jalani" satu ungkapan yang sangat, sangat baik untuk melepaskan keterikatan. Dan cerita-cerita Zen tentang ketidak-terikatan juga banyak namun semuanya belum membawa kita ke pembebasan (ketidak-terikatan). Sekali dua kali berhasil tapi lebih banyak yang gagal. Yang paling mudah (mungkin) adalah ha ha ha membebaskan (baca : melupakan) hutang yang sudah dilakukan dan yang sukar adalah membebaskan (melupakan) piutang! Maaf, cuma joke saja dan tidak semua orang begitu malah ada yang sebaliknya tapi keduanya tetap merupakan suatu keterikatan, bukan?
Dalam salah satu bukunya Ajahn Chah berujar bahwa Budhisme hanya bisa diselami melalui praktek (kata per katanya saya lupa tapi kira-kira ya begitulah).
>kredit dan saldo. Dari sisiNya, segala sesuatu adalah Karunia, dari sisi >kita, mau tidak mau segala sesuatu adalah proses memakan buah. Hanya kita >yang mengenal baik dan buruk.
------------------------------ berarti Tuhan tidak mengenal baik dan buruk (dualitas).. tetapi di Alkitab dibilang (setelah Adam memakan buah pengetahuan), Dia (Adam) telah menjadi sama seperti Kita, tau yang baik dan yang buruk..
'Kita' disini berarti siapa ya? bukan Tuhan? karena 'Kita' ini tau yang baik dan yang buruk (dualitas)..