KOMPETENSI JABATAN DARI SUDUT PANDANG ADAT DAN SYARAK
Oleh: Buya H Mas’oed Abidin
Kepemimpinan dan kepribadian menurut Rasul SAW sangat diperlukan oleh
seorang pemimpin yang akan atau sedang memangku sebuah jabatan. Acuan
Contoh pemimpin dan pribadi yang baik dan sempurna itu di dalam syarak
adalah peribadi Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah teladan yang
sempurna.
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang
sempurna, yaitu bagi orang orang yang mengharap Rahmat Allah dan hari
akhir, dan dia menyebut nama Allah banyak banyak.(Q.S. 33: 21). Ajaran
Al Quran ini menjadi anutan terbanyak rakyat Indonesia.
WATAK MENJADI BEKAL MEMEGANG JABATAN
Beberapa ciri kepemimpinan Rasulullah SAW antara lain Berilmu, Adil,
Cakap, Berani, Berbudi pekerti halus/luhur, Dermawan, Pemurah dan
pemaaf, Berakhlak, Waspada, Teguh pada janji, Selalu mencari
kebenaran, Bisa menjaga rahasia, Senantiasa bersungguh sungguh,
Bijaksana dan berpikir cepat, Tawadhu', rendah hati, bukan rendah
diri, Tidak iri dan tidak dengki. Sabar. Berwatak syakiriin,
berterimakasih. Mampu mengendalikan keingi¬nan dan hawa nafsu.
Diplomatis dan taktis.
Di samping itu, seorang yang memegang jabatan dan akan menjadi panutan
semestinya tidak mudah terpengaruh oleh desas desus dan fitnah. Mampu
mengatur bawahan dan memperhatikan rakyatnya. Menasehati dengan kritik
terarah. Tidak mengangkat orang sering khianat (kufur) suka ingkar
janji dan tidak loyal menjadi pembantunya.
Untuk menjadi bahan pembanding, konsep efective leader yang
dikembangkan di dunia barat secara popular adalah berdasarkan
kemampuan (capability).
Kemampuan mencakup mampu memotivasi anggota dan bawahan untuk
melakukan kegiatan dengan baik, terarah dan sempurna. Mampu
mengarahkan kelompok. Mampu menjadi Pendengar yang baik. Mampu
menyampaikan ide dengan mengikut kepada petunjuk Rasulullah SAW. Mampu
mengenal data-data anggotanya.
Kemampuan membagi tugas dan memberikan kepercayaan pada anggota dan
diiringi dengan pengawasan dan pembinaan adalah warna tersendiri dari
seorang yang sedang memangku suatu jabatan. Mampu dan menghargai
perbedaan pendapat. Mampu mengerjakan pekerjaan kecil jika
diperlukan.
Kemampuan-kemampuan atau kapabeliteit seperti disebutkan itu akan amat
membantu dalam membentuk karakter seorang pemimpin yang memiliki
pendirian teguh dan penuh rasa tanggung jawab serta teguh pada janji.
MEMEGANG JABATAN DALAM TATANAN ADAT BASANDI SYARAK
Sebagai masyarakat beradat yang bersendikan syarak dan syarak
bersendikan Kitabullah, maka seorang pejabat yang memangku satu
jabatan (besar atau kecil, atasan atau bawahan), menurut bimbingan
Rasulullah SAW mesti memiliki beber¬apa persyaratan utama, antara lain
berwawasan ke Islaman.
Pengetahuan dan pengenalannya kepada ajaran agama secara benar akan
menyelaraskan perilaku dalam kehidupan sebagai seorang Muslim dan
tanggung jawabnya sebagai manusia bermartabat di dunia (material dan
spiritual). Berbudi pekerti luhur. Komunikasi yang baik antar manusia.
Percaya kepada kemampuan anggota dan masyarakat yang dibinanya. Punya
ide bagus dan kreatif serta beradat (tamaddun). Memaafkan kesalahan
dan menunjukkan kebenaran. Pendiriannya teguh dan optimis.
Nilai-nilai budaya ini semestinya dipelihara dalam satu gerakan besar
di tengah masyarakat beradat, terutama di Sumatera Barat yang memiliki
nilai budaya tradisonal yang semestinya dipahami original heritage
atau warisan luhur dalam keaslian budaya local sebagai satu bagian
dari puncak kebudayaan bangsa.
Maka untuk menjaganya diperlukan usaha sungguh-sungguh oleh setiap
pemangku jabatan untuk ikut melakukan pengawalan budaya itu atau re-
planting values (menanam kembali nilai-nilai) yang menjadikan jiwa
maju dengan akal fakir sehat dan ruh hidup dengan hati dan emosi
terkendali pada raso jo pareso, atau memiliki budaya santun, yang amat
bermanfaat di dalam memangku tugas pelayanan publik.
مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ
إِلاَّ شَانَهُ رواه الضياء عن أنس
Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia
dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh
Dhia dari Anas).
Nilai budaya luhur ini mesti diperlihatkan dan ditularkan
(transformasi) ke dalam kehidupan nyata menjadi pengamalan keseharian
bagi para pemangku jabatan formal maupun informal, domestic local
ataupun jabatan public di dalam masyarakat adat di Minangkabau,
Sumatera Barat.
Kitabullah yakni Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap ke alam
terang cahaya (nur)” dengan aqidah tauhid. Di dalam masyarakat Melayu
dan Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit sa-ciok
bak ayam sa-danciang bak basi artinya mengedepankan kebersamaan dan
saling membantu kepada kebaikan.
Pepatah adat mengisyaratkan “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka
pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan
di cito”. Arti lebih menukik adalah tidak ada tenagan yang terbuang
sia-sia, maknanya sangat produktif dan efisien sebagai bagian dari
kempetensi di dalam suatu jabatan.
Kekuatan luhur yang lahir dari budi pekerti itu lebih dikuatkan oleh
kompetensi keterpaduan, sebagaimana diisyaratkan oleh petuah adat di
Minangkabau, barek sa-pikua ringan sa-jinjiang, dan “Adat hidup tolong
manolong, Adat mati jenguk menjenguk, Adat isi beri memberi, Adat
tidak pinjam meminjam (=salang manyalang)” .
KOMPETENSI MELIPUTI KEMAMPUAN, KECAKAPAN, KEAHLIAN.
Kecukupan di dalam memimpin, serta kekuasaaan dan wewenang itu akan
amat terjaga pelaksanaannya dengan memelihara tangga musyawarah,
seperti diisyaratkan oleh falsafah adat bulek aie dek pambuluah, bulek
kato dek mupakat, di dalam kerangka dan upaya memelihara kekuatan atau
gezacht kebersamaan.
Petatah dan petitih adat menyebutkan, “Senteng ba-bilai, Singkek ba-
uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” akan menjadi pengikat spirit
kesatuan atau korpsheid yang di rekat oleh pengalaman sejarah.
Kompetensi akan mendukung lahirnya pemikiran konstruktif (amar makruf)
dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun 'anil munkar) yang
sangat penting dalam membangun tata cara hidup yang diajarkan syarak
(agama Islam), yakni mandiri dengan self help, membantu dengan ikhlas
karena Allah SWT (selfless help), dan saling bekerjasama satu sama
lain (mutual help), menjadi alas dasar membentuk masyarakat yang maju
(madani) dan mandiri di dalam bimbingan AGAMA ISLAM (syarak).
Tanggung jawab yang tersemat pada satu jabatan di tengah masyarakat
adat adalah menjaga ketaatan dan memelihara keteraturan sebagai ciri
utama masyarakat yang terpelihara (bersyukur), menurut aturan dan
undang-undang.
“Nan babarih babalabeh,
nan ba-ukua nan ba jangko,
Mamahek manuju barih,
Tantang bana lubang katabuak.
Tantang rasuak manjariau,
Tantang lahe latak atok,
Manabang manuju pangka,
Malantiang manuju tangkai,
Tantang bana buah ka rareh.
Kok manggayuang iyo bana putuih,
Kok ma-umban iyo bana rareh.”
Artinya, sudah menurut baris dan belebas, menurut aturan yang berlaku,
yang berukur berjangka, memahat menuju baris, setentang rasuak
menjeriau, setentang lahe letak atap, menebang menuju pangkal,
melanting menuju tangkai, bila mencencang benar-benar putus, bila
mengumban benar jatuh. Setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan
tidak boleh ada bengkalai.
Dengan mendalami ilmu, akan lahir rasa taqwa kepada Allah dan menjauhi
rasa takabbur, menghindari kufur dan bangga diri, dan tidak
berperangai merendahkan orang lain. Di sisi ini kita melihat kuatnya
iman di dalam membentuk watak pemimpin. Yang merasakan lazatnya iman
adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha
terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai
Rasul.
Realisasi ajaran agama Islam (syariat, syarak) pada setiap gerak
langkah kehidupan seseorang menurut Rasulullah SAW di dalam meraih
karya keumma¬tan adalah terbentuknya "umat teladan" (Khaira ummah)
(Q.S. 3: 110). Khaira ummah menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah
dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.
Senyatanya amar makruf itu lebih berat dari nahi munkar. Karena amar
makruf adalah contoh. Sedang nahi munkar adalah menolak sesuatu.
Karena itu amar makruf lebih berat dari nahi munkar.
Kepatuhan dan ketaatan kepada Islam serta keimanan kepada Allah dan
rasul Nya, pencapaian umat beridentitas keselarasan, yaitu "ummatan
washatan", yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi (Q.S. 2: 143).
Dalam arus iptek yang bermuara pada akal pikiran manusia, amat
diperlukan fondasi kokoh dalam diri manusia. Karena iptek tumbuh dari
manusia, dipergunakan untuk kesejahteraan manusia, dilaksanakan oleh
manusia. Maka fondasi iman dan taqwa haruslah kokoh.
TIDAK BOLEH MELUPAKAN HARI AKHIR
Seorang pejabat atau yang memangku jabatan tidak boleh melupakan hari
akhir. Kepercayaan akau keyakinan kleda hari akhirat amat berguna di
dalam mengokohkan kedudukan memangku jabatan tersebut.
Di tengah perkembangan global kini, kita memang merasakan adanya
gejala memisah hidup di dunia kini yang ditopang oleh serba kebendaan
dengan kehidupan hari esok atau kehidupan akhirat. Padahal, keyakinan
pada hari akhir menjadi penguat pagar diri di dalam memangku sebuah
jabatan.
Fatwa adat di Minangkabau mengingatkan ; “ingek-ingek nan ka pai, agak-
agak nan ka tingga, ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, dari
awa akie mambayang”.
Akibat nyata dari melemahnya keyakinan kepada hari akhirat itu, adalah
makin berkecambahnya paham sekularistik yang menjadi penyebab rapuhnya
olah rasa setiap diri orang yang beradat, sehingga melemahnya
kompetensi.
Pergeseran perilaku budaya ini berdampak pula kepada perkembangan
norma dan adat istiadat di lingkungan tempat berdiam. Perilaku berebut
materi atau nilai kebendaan lebih diminati daripada menampilkan
prestasi di dalam memberikan manfaat kepada orang banyak.
Akibat lebih jauh idealisme kebudayaan di Minangkabau atau Sumatera
Barat akan menjadi sasaran umpatan dan cercaan. Nilai-nilai
kebersamaan mulai menipis.
Kekerabatan dalam budaya dan adat Minangkabau dirasakan pula mulai
terancam. Kekuatan akal budi menjadi lemah. Ketika itu terjadi, maka
datanglah bencana kehidupan.
إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي
العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ
قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ
النَّدَامَةُ رواه الديلمى عن أنس
Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut
akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu.
Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah
penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)
Kompetensi jabatan mengharuskan adanya pemahaman luas dengan tasawwur
(world view) di samping adat resam tidak mungkin lenyap.
Fatwa adat di Minangkabau mengilhami kearifan adatnya.
“Kayu pulai di Koto alam, batangnyo sandi ba sandi,
Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”
Secara alamiah (natuurwet) adat selalu ada. Patah akan tumbuh,
maknanya adat itu selalu hidup dan dinamis mengikuti perputaran masa
sesuai alam takambang jadi guru.
ARIF MENANGKAP SETIAP PERUBAHAN
Kita semestinya arif dalam menangkap segala perubahan yang terjadi
lebih komprehensif dengan kaedah, “sakali aie gadang, sakali tapian
baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa”.
Perubahan tidak mesti mengganti sifat adat resam. Penampilan di alam
nyata mengikut zaman dan waktu. Alam dipakai usang sedangkan adat
dipakai tetap baru.
Perilaku beradat senantiasa dituntun oleh kearifan local yang terlihat
pada kearifan. Kalimat hikmah di Minangkabau menyebutkan, bahwa “kalau
di balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang
biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.
Keistimewaan adat resam terdapat pada falsafah yang mencakup isi dan
makna yang luas sekali. Selalu tumbuh dan berkembang, bertunas
mengecambah. Melahirkan bibit-bibit baru (regenerasi) sesuai bijo yang
disemai. Perubahan menjadi bagian dari satu kesatuan masyarakat
beradat pada tempat dan waktu yang tepat.
Menerapkan konsep kepemimpinan dalam kerangka kompetensi pada semua
jabatan menurut bimbingan Rasulullah SAW atau menurut bimbingan syarak
diperlukan empat syarat penting, yaitu:
a. Motivasi (niat atau nawaitu).
b. Keikhlasan (Q.S. 98: 5).
c. Jujur, shiddiq, yaitu arinal haq haqqan, arinal bathil bathilan
yakni tidak mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil (Q.S. 2:
42).
d. Komitmen yang kokoh dengan Islam, isyhadu bianna Muslimun (Q.S. 41:
33 35). Semoga Allah Swt tetap memberikan kekuatan kepada kita semua.
Ketidakberdayaan atau tidak kompeten pada pemangku jabatan di dalam
menampilkan model keteladanan yang baik akan menjadi penghalang
pencapaian hasil membina dan melayani masyarakat dengan baik.
Ketidakberbayaan dapat menjadi titik lemah kepribadian dari pejabat
yang bersangkutan, seperti Pepatah Arab ada meyebutkan
لا تنه عن خلق وتأتي مثله
عار عليك اذا فعلت عظيم
Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah,
Perbuatan demikian aibnya amatlah parah.
Kemuliaan seorang yang memangku sebuah jabatan akan terpancar dari
keikhlasan membina umat di sekelilingnya menjadi masyarakat pintar,
berilmu dan mengerti, serta mampu mengamalkan ilmunya, berbudi luhur
– akhlakul karimah -- dalam bertindak dan berbuat untuk kebaikan diri
sendiri, keluarganya, dan kemaslahatan umat lingkungannya. Dalam
cakupan lebih luas untuk memperoleh kebahagiaan manusia di dunia dan
di akhirat.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan.
HASIL DARI PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN
Kompetensi sebagai bagian dari satu berhasilan didapat melalui
pendidikan dan pengalaman. Pendidikan berawal dari pengajaran dan
pencontohan atau uswah. Pengalaman berawal dari rumah tangga,
masyarakat dan jamaah lingkungan. Karena itu semua orang adalah
hakikatnya pemimpin, sesuai Sabda Rasulullah SAW, setiap kamu adalah
pemimpin, dan akan ditanyai pertanggungan jawab atas yang
dipimpinannya, maka imampun pemimpin dan dia akan ditanyai tentang
rakyatnya (HR.Muttafaq).
Dalam kaitan kompetensi dan kepemimpinan, maka seorang suami yang
miskin tapi amanah dalam memelihara kekayaan istrinya, pasti akan
mendapatkan dua pahala, satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah,
karena harta isteri merupakan hak isteri.
Berpedoman contoh ini, maka seorang yang memangku satu jabatan dengan
kompeten walau tidak punya materi berlebihan dan hanya hidup dengan
pendapatan secukupnya, selalu menjaga amanah dalam memelihara asset
atau kekayaan yang ada dalam petaruh jabatannya. Mereka pasti
memperoleh dua penilaian tinggi, yakni pahala dari Allah SWT sebagai
ibadah dan keberhasilan di dalam jabatannya.
Umar bin Khattab RA adalah Shahabat Rasul Allâh SAW, pernah berkata,
لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ
اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ
الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا
وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.
“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau
bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga,
yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan
yang suaminya ridha kepadanya; c. Isteri yang menshadaqahkan mahar/
maskawinnya kepada suaminya; d. Anak yang kedua orang tuanya ridha
kepada dirinya; dan e. Orang yang bertobat dari kesalahannya.”
Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap ridha dan syukur
atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh atas mereka.
Dengan sikap ini dapat dirasakan betapa indahnya kehidupan yang diraih
nikmat paling besar yang menjadikan tempatnya bekerja adalah ladang
pengabdian meraih redha Allah SWT. Di sini terlihat pasti makna sebuah
kompetensi.
Konsep hidup seperti ini seharusnya dimunculkan pada masa ini, saling
memperlukan, saling memberi kemudahan, saling memelihara kerjasama
yang baik di lapangan pekerjaan, dan menjaga keutuhan rumah tangga,
sebagai modal dalam menghadap berbagai persoalan hidup, sesuai
perkembangan zaman.
MEMELIHARA KOMPETENSI DALAM DIRI
KEBAHAGIAAN DATANGNYA DARI ALLAH.
DIA berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya bisa
diperdapat dengan saling pengertian dan bermusyawarah. Hindarkan sifat
mau menang sendiri dan saling memaksakan kehendak. Bina masyarakat dan
rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan
saling curiga. Hadapi masalah dengan bersama.
MENJAGA KESEIMBANGAN antara perkembangan hidup rohani dan jasmani
adalah bagian dari kompetensi. Rohani kita berhak atas pembinaan.
Jasmani kita juga berhak atas pemeliharaan. Secara luas, diri dan
keluarga atau rumah tangga wajib mendapatkan pembinaan. Dari sini
pendidikan dan pengalaman itu dirakit. Masyarakat keliling dan
lingkungan kerja mesti pula di tenggang.
Sebuah keseimbangan akan terpeliharan dengan akhlak atau moralitas
yang mulia (karimah), sesuai sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik mukmin
seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarani dan
Abu Nu’aim) dan “Yang tidak bisa menyangi sesama manusia tidak akan
disayangi oleh Allah” (HR. Muttafaq)
BERPEDOMAN AJARAN AKHLAK KARIMAH.
Tugas ini menacakup pula “menghidupkan prinsip musyawarah”, Mancari
kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, mam-bilai mano nan senteng,
ma-uleh sado nan singkek, man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano
nan ranggang, ma-nyalasai mano nan kusuik, ma-nyisik mano nan kurang,
ma-lantai mano nan lapuak, mam-baharui mano nan usang. Inilah
keseimbangan dalam hidup bermasyarakat.
Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.
a) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok
dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-
lamanya". (Hadist).
b). Kaedah hidup mengadatkan, bahwa Tugas mesti dilakukan sepenuh
hati.
Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak
mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah.
Artinya bekerja mengerahkan semua potensi yang ada, tidak menyertakan
lalai dan enggan, tidak berhenti sebelum benar-benar sampai.
Tidak boleh di lupakan bahwa kompetensi akan lebih kuat karena saling
menghargai sesama.
Peliharalah selalu Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man
janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang.
Dalam hidup bermasyarakat atau menjadi pelayang masyarakat harus hidup
berpandai-pandai sesame besar. Hadist Rasul SAW mengingatkan, “Belum
beriman seorang dari kamu sebelum dia mampu menyayangi sesama
saudaranya sebagai menyayangi dirinya sendiri”. (HR.Muttafaq).
Selain itu, ajaran agama Islam maupun adat istiadat selalu menyuruh
untuk menghormati yang lebih tua, memuliakan atasan serta menyayangi
bawahan Iartinya orang yang lebih kecil dari kita. Bimbingan syarak
mengingatkan bahwa, “Bukan termasuk umatku yang tidak menghormati yang
tua dan tidak pula menyayangi yang kecil, dan tidak mau mengarifi
petunjuk orang berilmu dari kami” (HR.Ahmad).
PRINSIP HIDUP BERAKIDAH YANG BENAR dan istiqamah (konsisten) menjadi
sesuatu kekuatan memantapkan kompetensi. Hidup dengan akidah yang
benar adalah ’izzah martabat diri.
Muruah atau kemuliaan diri ada ketika selalu berpegang kepada
kebenaran serta menjaga malu dana sopan. Tanah sa bingkah alah ba
punyo, rumpuik sa halai lah ba miliak, malu nan balun di agiah, suku
nan tak buliah di anjak.
Perlu dijaga supaya tidak terpengaruh oleh primordialisme. Jangan
berperangai penjilat agar kompetensi terpelihara pada jalur yang
benar. Dahulukan kepentingan Negara (daerah dan negeri) di atas dari
kepentingan diri. Berkerjalah dengan mengharap redha Allah SWT.
Sebaik-baik hidup bermasyarakat adalah bila kita ada orang merasa
bertambah dan bila kita pergi orang merasa kehilangan, karena itu
hiduplah dengan saling mengingatkan kepada hidayah Allah, yaitu
kebenaran (al-haq min rabbika, kebenaran itu datangnya dari tuhanmu,
artinya kebenaran di gariskan oleh syari’at agama Islam jua adanya).
PELIHARA TATANAN MASYARAKAT di Minangkabau dengan saling menjaga
kebenaran itu. Pangulu barajo ka mupakaik, Mupakaik barajo ka nan
bana, Nan bana ba-diri sandirinyo. Artinya, di atas segala
penghormatan kepada tatanan masyarakat, maka mufakat sangatlah di
utamakan.
Mufakat bertujuan hanya untuk menegakkan kebenaran. Pedoman tunggalnya
adalah hidayah dari Allah SWT. Ingatla selalu pesan agama yang
mendorong kepada berkarya kreatif dan inovatif. “siapapun yang membawa
seseorang kepada petunjuk hidayah Allah – kemudian di ikutinya
petunjuk itu --, maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana
balasan yang diterima oleh orang yang mengikutnya, tanpa mengurangi
sedikitpun pahala yang mereka peroleh”
Bimbingan adat resam Minangkabau mengajarkan, di mana bumi di pijak
kebajikan adalah tujuan utama dalam hidup. Sesuai Sabda SAW, “siapapun
yang menyunnahkan sesuatu sunnah yang baik dalam Islam, maka dia
mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya
tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka” (HR.Muslim, Ahmad,
Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah dari Jarir).
SEBAGAI MANUSIA INGATLAH BAHWA KITA ADALAH MAKHLUK PELUPA.
Kaedah ini mendorong dilakukan introspeksi. Dan selanjutnya mau
mendengar nasehat dari teman sejawat. Di dalam petatah petitih adat
disebutkan Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, Ingek-ingek nan ka-
pai, Agak-agak nan ka-tingga.
Rohani, rasa, fikiran, dan kemauan dibimbing selalu dengan keyakinan
serta hidayah iman agar kompetensi berada pada jalur yang lurus dan
benar. Jasmani, gerak dan amal perbuatan dibina terus oleh aturan
syari'at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ
“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti
telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu
(Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa
dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan
kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13).
Menurut konsep (mabda’) Alquran, makhluk diciptakan dalam rangka
pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), maka dalam
kerangka itu pula memberi peringatan adalah penting agar tidak
terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang perjalanan hidup.
Saling menasehati menjadi upaya terbaik agar berperannya kompetensi
dalam setiap jabatan.
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,